Podiumnews.com / Kolom / Opini

Redaktur Bangun Pagi

Oleh Nyoman Sukadana • 01 Oktober 2026 • 14:52:00 WITA

Redaktur Bangun Pagi
Angga Wijaya (Vector/AI)

Oleh Angga Wijaya*

MALAM telah beranjak dini hari. Mata saya masih terfokus pada esai yang sedang saya tulis. Di depan laptop, ditemani kopi dan rokok, saya terus mengetik beberapa kalimat yang entah akan selesai malam itu atau baru menemukan bentuknya beberapa hari kemudian.

Ruangan tempat saya bekerja terasa hening. Tetangga telah terlelap dalam tidurnya masing-masing. Dari kamar kos, suara kehidupan Kota Denpasar seperti menjauh. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di jalan.

Belasan tahun terakhir saya tinggal di rumah kos. Menyewa rumah kontrakan, atau lebih jauh lagi membeli rumah second, adalah mimpi yang terlalu tinggi bagi saya. Harga sewa rumah di Kota Denpasar bisa mencapai puluhan juta rupiah per tahun. Harga rumah jangan ditanya lagi, ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

Wartawan dan penulis dengan pendapatan minim seperti saya tentu sulit, bahkan mungkin tidak bisa menggapainya. Kecuali menjual tanah di kampung halaman. Namun, buat apa? Saya justru merasa cukup bahagia hidup sederhana di kos.

Sama seperti para perantau lain, saya terus bertahan hidup di kota dengan segala cara yang saya punya. Kesulitan hidup dan kebahagiaan selalu berkelindan. Keduanya menjadi bagian dari kehidupan manusia. Mungkin karena itu saya masih bisa menikmati malam yang panjang.

Menulis, membaca, minum kopi, merokok, kemudian tidur ketika tubuh sudah meminta istirahat. Begitulah sebagian hari saya berjalan. Namun, belakangan ini ada satu hal sederhana yang sering saya pikirkan. Bangun pagi.

Bagi sebagian orang, bangun pagi mungkin perkara biasa. Alarm berbunyi, mata terbuka, lalu kaki turun dari tempat tidur. Namun, bagi seorang redaktur, editor, atau pemimpin perusahaan media yang terbiasa bekerja sampai dini hari, bangun pagi bisa menjadi sesuatu yang mahal.

Saya teringat kepada seorang redaktur yang pernah saya kenal ketika bekerja di sebuah media cetak di Denpasar Utara. Sosok itu bernama I Nyoman Sukadana. Kami lebih akrab memanggilnya Bli Menot. Dari dirinya saya belajar banyak hal tentang kerja jurnalistik.

Meski pertama kali bekerja sebagai wartawan pada 2008, ketika masih berada di masa akhir kuliah, pengalaman kedua saya menjadi wartawan di koran tersebut begitu membekas. Saya menikmati hampir semuanya. Liputan lapangan, wawancara dengan narasumber, mencari data, kemudian menulis berita setelah pulang dari liputan.

Pada masa orientasi kerja, saya mesti datang ke kantor pada sore hari. Pekerjaan itu saya jalani dengan bahagia. Saya merasa menemukan dunia yang selama ini ingin saya masuki. Di tempat itulah saya mulai memahami bahwa jurnalistik tidak hanya soal menulis berita.

Ada seorang redaktur yang sejak pertama kali kami berkenalan sudah membuat saya merasa klik. Bli Menot orangnya ramah dan terbuka. Kepada wartawan baru, ia tidak segan berbagi pengalaman. Ia membimbing kami yang mungkin telah memiliki pengetahuan jurnalistik, tetapi masih harus belajar banyak dalam praktik.

Kampus atau sekolah memang bisa membuat seseorang memiliki pengetahuan. Tetapi pengetahuan belum tentu membuat seseorang siap bekerja. Teori dan ilmu tetap penting. Namun, pengalaman langsung sering kali mengajarkan sesuatu yang tidak ditemukan di ruang kelas.

Terlebih dalam profesi wartawan. Bagaimana melakukan wawancara, menghubungi narasumber, mencari data, melakukan konfirmasi dan verifikasi, hingga menulis berita dengan baik, semuanya membutuhkan pengalaman. Seorang wartawan belajar banyak ketika berhadapan langsung dengan kenyataan.

Saya belajar dari orang-orang yang lebih dulu bekerja di media. Salah satunya Bli Menot. Kala itu ia sudah lama bekerja di koran tersebut. Sebelumnya ia juga telah berpindah dari satu perusahaan media ke perusahaan lainnya.

Ia pernah menjadi reporter, editor, redaktur pelaksana, hingga koordinator liputan. Sekitar sembilan tahun lalu, ia memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan media cetak tersebut. Setelah itu ia mencoba membangun medianya sendiri, media daring Podiumnews.com.

Dari sanalah, seperti yang pernah ia ceritakan kepada saya ketika kami bertemu sambil ngopi, ia semakin mengenal suka-duka mengelola media. Menjadi pemimpin perusahaan media ternyata bukan hanya menentukan berita yang akan dimuat. Banyak pekerjaan lain yang tidak pernah terlihat oleh pembaca.

Gaji karyawan harus dipikirkan. Pemasukan iklan pada awalnya masih kecil. Arus kas harus dijaga. Kebutuhan kantor dan biaya operasional terus berjalan. Di tengah semua itu, pekerjaan jurnalistik tetap harus diselesaikan.

Mengedit tulisan sampai jauh malam menjadi bagian dari kesehariannya. Membaca naskah, memperbaiki judul, membetulkan kalimat, dan memastikan berita tetap layak dibaca. Ketika orang lain mulai tidur, pekerjaan seorang redaktur terkadang justru belum selesai.

Saya melihat Bli Menot sebagai pribadi yang gigih dan tangguh. Ia punya prinsip dan cukup idealis. Barangkali semua itu terbentuk dari perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Kesulitan yang pernah dilalui seperti menjadi bagian dari cara dia melihat dunia.

Mungkin karena pernah merasakan kesusahan sejak kecil, ia tumbuh menjadi laki-laki yang mudah berempati kepada orang lain. Ia bersedia membantu teman dan sahabat. Ketika melihat seseorang diperlakukan tidak baik oleh perusahaan atau tempat kerjanya, ia tidak selalu memilih diam.

Ada sisi kemanusiaan yang saya lihat dalam dirinya. Ia tidak hanya memandang orang dari posisi dan pekerjaannya. Baginya, seorang teman tetaplah manusia yang memiliki persoalan hidupnya sendiri.

Menot Sukadana pernah menempuh studi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Ia tidak sempat menyelesaikan studinya karena sejak muda aktif berorganisasi, bekerja sebagai wartawan, dan terlibat dalam kegiatan lembaga swadaya masyarakat.

Namun, ilmu yang pernah dipelajarinya tidak hilang begitu saja. Ilmu hukum memberinya cara berpikir yang taktis dan strategis. Kemampuan riset yang dimilikinya juga banyak membantu pekerjaan sebagai wartawan dan redaktur.

Saya sering melihat bagaimana sebuah persoalan yang bagi orang lain tampak rumit bisa dibicarakannya dengan tenang. Ia membongkar persoalan dari satu sisi ke sisi lain. Fakta dicari, hubungan antarperistiwa diperiksa, kemudian persoalan dilihat dengan cara yang lebih utuh.

Mungkin itulah salah satu keuntungan bekerja lama sebagai wartawan. Kita belajar membaca manusia sekaligus membaca peristiwa. Lama-kelamaan kita juga belajar bahwa satu berita tidak pernah berdiri sendirian. Selalu ada kehidupan manusia di belakangnya.

Tetapi pekerjaan jurnalistik juga memiliki harga yang harus dibayar. Sejak beberapa tahun terakhir, jadwal tidur Bli Menot sering tidak teratur. Ia bisa bekerja hingga dini hari. Begadang seperti menjadi bagian dari kesehariannya.

Saya pernah merasa khawatir melihat kebiasaan itu. Bagaimanapun, tubuh memiliki batas. Pikiran juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Pekerjaan jurnalistik yang tidak mengenal jam kerja bisa membuat seseorang lupa bahwa dirinya bukan mesin.

Namun, ia pernah mengatakan kepada saya bahwa pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya menunjukkan fungsi organ tubuhnya masih normal. Sesekali ia hanya mengalami flu atau batuk. Saya lega mendengarnya, meski kebiasaan bekerja hingga larut malam tetap membuat saya berpikir.

Bli Menot bukan satu-satunya. Banyak wartawan dan penulis yang saya kenal hidup dengan kebiasaan serupa. Kopi menjadi teman bekerja. Rokok menemani proses menulis. Makan tidak selalu teratur. Tidur pun sering kali harus menunggu pekerjaan selesai.

Tekanan pekerjaan, deadline, tuntutan berita, dan keinginan untuk terus menghasilkan tulisan membuat tubuh terkadang menjadi urusan nomor sekian. Kami seperti memiliki kesepakatan diam-diam dengan diri sendiri. Nanti saja tidur, nanti saja makan, nanti saja berhenti merokok.

Yang penting tulisan selesai. Berita naik. Deadline lewat. Padahal tubuh tidak pernah benar-benar mengenal kata nanti. Ia akan memberi tanda ketika sudah terlalu lama dipaksa bekerja.

Saya mengenal beberapa wartawan yang kemudian mengalami masalah kesehatan serius. Ada yang mengalami serangan jantung, hipertensi, gangguan lambung, GERD, dan persoalan kesehatan lainnya. Beberapa teman juga pernah berhadapan dengan masalah kesehatan mental.

Namun, kehidupan tidak berhenti di sana. Dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, sebagian dari mereka dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik. Mereka tetap bekerja sebagai wartawan, menulis, melakukan liputan, bahkan meraih prestasi dalam lomba jurnalistik.

Sebagian lainnya menjadi penulis yang produktif. Saya kira di situlah kita belajar bahwa manusia bukan sekadar penyakit yang pernah dialaminya. Seorang wartawan tetaplah seorang wartawan. Seorang penulis tetaplah seorang penulis.

Seseorang yang pernah jatuh dalam kehidupan juga memiliki kesempatan untuk bangun kembali. Mungkin karena itu saya selalu memikirkan kata bangun. Bangun dari tidur. Bangun dari kelelahan. Bangun dari masa-masa sulit yang pernah kita lalui.

Bangun pagi menjadi sesuatu yang mahal bagi redaktur, editor, sekaligus pemimpin perusahaan media seperti Bli Menot. Ketika orang lain baru memulai hari, mungkin ia justru baru menyelesaikan pekerjaannya. Malam yang panjang bagi sebagian orang adalah awal dari pagi bagi dirinya.

Saya sendiri hampir beberapa hari dalam seminggu begadang untuk menulis. Selain bekerja sebagai wartawan lepas, saya telah menjadi penulis sejak 2001. Menulis bagi saya bukan sekadar pekerjaan. Ia sudah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Jika ingin esai, feature, puisi, atau cerpen saya dimuat di media online keesokan harinya, saya memilih mengirim tulisan kepada media yang saya tahu redakturnya terbiasa bangun pagi. Harapan saya sederhana. Ketika matahari mulai naik, tulisan sudah bisa dibaca.

Agak licik mungkin, ya. Tetapi cara itu sering saya lakukan. Saya ingin pada pagi hari bisa membuka ponsel, melihat tulisan saya telah dimuat, lalu membagikannya ke media sosial. Ada kebahagiaan kecil ketika nama kita muncul di halaman media dan tulisan kita dibaca orang.

Diam-diam saya juga berharap kebiasaan itu membuat teman-teman yang bekerja sebagai wartawan, editor, maupun redaktur menjadi lebih rajin. Setidaknya bangun pagi. Mencari peluang baru. Keluar rumah. Bertemu orang dan melihat kehidupan yang terus bergerak.

Sebab hidup tidak hanya terjadi di depan layar laptop pada pukul dua atau tiga dini hari. Setelah matahari terbit, ada dunia lain yang menunggu. Warung mulai membuka pintu, pedagang menata dagangan, pekerja berangkat. Anak-anak sekolah menyeberang jalan.

Kota perlahan hidup kembali. Orang-orang memulai hari dengan urusan masing-masing. Seorang redaktur pun, sesekali, barangkali perlu melakukan hal yang sama. Bangun pagi bukan semata soal waktu, melainkan kesempatan untuk kembali bertemu dengan kehidupan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa bangun pagi selalu lebih baik daripada begadang. Setiap orang memiliki ritme hidup dan tuntutan pekerjaan yang berbeda. Tetapi tubuh dan kehidupan mungkin sesekali ingin mengingatkan kita bahwa pekerjaan bukan seluruh kehidupan.

Kita bekerja untuk hidup. Kita menulis untuk hidup. Kita mencari berita untuk hidup. Pada akhirnya, kita juga perlu hidup untuk diri sendiri. Kalimat sederhana itu sering kali justru paling mudah dilupakan oleh orang yang terlalu lama mengejar pekerjaan.

Saya membayangkan suatu pagi ketika Bli Menot bangun lebih awal dari biasanya. Tidak ada deadline yang mengejarnya. Tidak ada naskah yang harus segera diedit. Tidak ada telepon yang harus diangkat. Ia keluar dari rumah dan membiarkan pagi berjalan seperti biasa.

Mungkin ia membeli kopi, mungkin merokok sebatang, dan mungkin bertemu teman atau hanya duduk melihat matahari naik perlahan di atas Kota Denpasar. Tidak ada yang istimewa dari pagi seperti itu. Tetapi justru karena kesederhanaannya, pagi menjadi berharga.

Hidup kadang tidak membutuhkan sesuatu yang besar agar terasa berarti. Cukup bangun, membuka pintu, mlangkah keluar. Kemudian membiarkan hari membawa kita kepada kemungkinan-kemungkinan yang baru.

Saya mungkin masih akan menulis sampai malam. Kopi dan rokok mungkin masih menemani. Saya juga mungkin masih mengirim tulisan kepada redaktur yang saya tahu akan bangun pagi. Saya ingin tulisan itu terbit ketika matahari mulai naik.

Jika itu terjadi, mungkin saya akan tersenyum sendiri. Bukan semata karena tulisan saya terbit. Tetapi karena seorang redaktur telah bangun pagi. Mungkin saya juga perlu melakukan hal yang sama.

Bangun dari tidur, bangun dari kelelahan, bangun dari segala hal yang membuat kita terlalu lama tinggal dalam gelap. Kemudian berjalan lagi, menulis lagi, bekerja lagi, dan sebisa mungkin hidup lebih lama untuk menyelesaikan kalimat-kalimat yang belum selesai. ***

Denpasar, 1 Oktober 2026

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan wartawan yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia mulai menulis puisi sejak 2001 dan bekerja sebagai wartawan sejak 2008. Ia menulis esai, puisi, feature, dan berbagai tulisan jurnalistik tentang kehidupan, kebudayaan, masyarakat, serta persoalan sehari-hari di Bali. Karyanya telah dimuat di sejumlah media dan ia telah menerbitkan 20 buku, kumpulan puisi dan juga kumpulan esai.


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.