Peringati Hardiknas, Mahasiswa di Bali Gelar Demo Tuntut Gratiskan Pendidikan Selama Pandemi
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Aksi demonstrasi 26 mahasiswa yang tergabung dari berbagai elemen kampus di Bali dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2021 menuntut pemerintah untuk segera mengevaluasi pembelajaran jarak jauh dan gratiskan pendidikan selama pandemi Covid-19.
Aksi demo digelar di perempatan Patung Catur Muka Denpasar, Minggu (2/5) sore, diwarnai ketegangan. Pasalnya, Polisi meminta agar mahasiswa membubarkan diri hingga pukul 16.00 Wita, namun para mahasiswa menolak.
Sebelum demo, para pendemo menjalani rapid tes yang digelar aparat kepolisian. Setelah itu, sekitar pukul 15.00 Wita sebanyak 26 mahasiswa berkumpul depan Makodam IX-Udayana menuju perempatan Patung Catur Muka untuk melanjutkan aksi demo.
Puluhan pendemo ini dikawal ketat 394 personil dari aparat kepolisian dari Polresta Denpasar, TNI, Satpol PP dan Pecalang. Aparat kepolisian berjaga-jaga dilengkapi dengan mobil water canon.
Para mahasiswa ini berorasi membawa spanduk dan menyuarakan aspirasi menyangkut isu pendidikan dan ketenagakerjaan. Ini bertujuan juga menuntut terwujudnya demokrasi kampus dan perbaiki infrastruktur pendidikan di Bali.
Tak hanya itu, para pendemo juga meminta kepada sektor ketenagakerjaan dan pemerintah untuk mencabut UU Cipta Kerja serta aturan turunannya.
Selain itu, berikan jaminan kepada pekerja yang dirumahkan, subsidi pajak dan listrik selama pandemi Covid-19. Dan terakhir, pastikan THR diberikan secara penuh kepada pekerja dan adanya pengawalan berupa posko THR.
"Kami menggelar aksi hari ini secara damai dan tidak anarkis. Kami juga berharap bapak Gubernur bisa datang menemui kami untuk mendengar aspirasi," terang koordinator pendemo Muhamad Noviansyah.
Dalam demo tersebut, sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Polisi meminta mahasiswa untuk berdemo hingga pukul 16.00 Wita. Namun para pendemo menolak dan meminta hingga pukul 18.00 Wita.
Bahkan para pendemo sempat bersitegang dengan Kapolresta Denpasar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan yang datang dilokasi demo. Kapolres mengatakan kepada para koordinator aksi pembatasan aksi ini ada pertimbangannya, yakni toleransi bulan puasa dan pandemi Covid-19.
Walau sudah dijelaskan, namun para mahasiswa ini malah menantang polisi untuk membuka UU tentang penyampaian pendapat di muka umum. Tidak ingin memperkeruh suasana, aaparat kepolisian terpaksa membuka kembali arus lalulintas yang sebelumnya dialihkan menuju Jalan Surapati.
Selanjutnya para mahasiswa itu dibiarkan beraksi di tengah bundaran dan Polisi hanya berjaga-jaga di sekitar lapangan. Setelah berdemo hingga pukul 17.20 Wita, puluhan mahasiswa akhirnya membubarkan diri masing-masing.
Sementara itu, Kombes Jansen menyebutkan para mahasiswa diberi ruang untuk demo adalah kebijakan sehingga diberikan batas waktu hingga pukul 16.00 Wita.
Menurutnya, ada dua pertimbangan utama pembatasan aksi demo itu. Pertama, memberikan toleransi kepada umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kedua, bersama-sama dukung pemerintah tekan angka Covid-19.
"Kita tahu bersama saat ini sedang bulan suci Ramadan untuk umat muslim. Sore hari ini adalah waktu bagi mereka untuk buka puasa. Selain itu hari ini juga hari Minggu. Ada umat Kristen yang beribadah sore hari. Yang tak kalah penting diingat saat ini sedang pandemi Covid-19," tutur Kombes Jansen.
Meski para mahasiswa tetap membandel, kata Kombes Jansen, pihak kepolisian tetap membiarkan mahasiswa berorasi.
"Biarkan saja mereka beraksi. Nanti masyarakat yang menilai. Apakah mereka dinilai mahasiswa panutan atau mahasiswa yang tidak jelas," ungkapnya. (SIL/RIS/PDN)