Search

Home / Opini

Sumsum

Redaktur   |    10 Januari 2022    |   18:50:51 WITA

Sumsum
Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP, (Foto: doc. bpip/Istimewa)

IDEOLOGI itu bagaikan sumsum dalam tulang. Jika tak ada sumsum, pasti tulang itu akan mudah keropos, seumpama kayu kering lapuk. Tersenggol ayam jago yang lari mengejar betina, pasti rontok, hancur berkeping-keping, jatuh ke tanah. Tak mungkin dapat berdiri tegak!

Sayangnya, sumsum sering kali di lupakan orang. Kecuali dokter ortopedi yang menangani urusan penyakit tulang dan kanker sumsum tulang belakang. Yang hingga saat ini dianggap penyakit sulit diobati. Atau pedagang sop kikil yang menawarkan menyeruput sumsum dari tulang paha atau kaki sapi. Karena memang cuma sumsum tulang paha atau kaki sapi yang rasanya mak nyuss. Soal cara nyeruput, diserahkan kepada pembeli.

Sekumpulan saraf dan sel yang memanjang dari bawah otak hingga punggung bawah ini, menjadi perantara sistem gerak manusia. Sumsum seolah perantara sinyal dari otak ke seluruh tubuh. Begitupun sebaliknya. Halnya sakelar dengan kabel yang mengalirkan aliran listrik arus searah (direct current/DC) dan arus bolak-balik (alternating current/AC). Jika ada gangguan, bisa tak mendapatkan layanan penerangan.

Sumsum panjangnya cuma 43-45 cm, namun fungsinya tak bisa diabaikan. Seperti tak bisa diabaikannya engsel daun pintu atau jendela. Lantaran pintu tanpa engsel, bisa terjerembab, tersuruk di lantai. Bisa jadi orang mengira gua, melihat rumah tanpa pintu akibat engselnya rusak.

Begitupun Pancasila, ideologi yang seharusnya melekat dan menjadi tegaknya 272 juta rakyat Indonesia. Bukan berarti aman melekat. Sumsum di tulang belakang, berhadapan dengan berbagai model penyakit tulang dan sumsum. Ada kanker sumsum tulang belakang, anemia aplastic, sindrom mielodisplasia (MDS), myelofibrosis, polisitemia, dan lainnya. Saya sendiri tak tahu macam mana penyakit-penyakit yang menyerang sumsum itu. Dan sumpah 17 turunan, tak pernah mau dihinggapi berbagai macam penyakit. Apalagi penyakit-penyakit berat. Bahkan jika boleh minta, penyakit masuk angin pun minta segera sembuh.

272 juta rakyat Indonesia harusnya sehat sumsum ideologinya. Pasalnya banyak sekali penyakit yang menggerogoti ideologi negara kita. Percis ulat atau serangga yang menggerogoti buah segar yang ranum di tangkainya. Sebab kepala 272 juta rakyat Indonesia tak sama. Mereka punya selera berbeda-beda. Inilah yang menjadikan rentan berebut benar dan memaksa yang beda untuk ikut. Atau dienyahkan, layaknya lalat atau serangga pengerat.

Hingga keluar Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 tahun 2018 tentang Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), penguatan ideologi Pancasila di benak 272 rakyat Indonesia masih menapak jalan panjang juga terjal.

Dilihat isi Perpes No 7 itu, BPIP punya tugas memastikan 272 rakyat Indonesia jangan sampai berubah warna sumsumnya. Apalagi berganti sumsum ideologi. Bisa berabe negara ini, jika rakyatnya bergonta-ganti ideologi. Atau memaksakan satu ideologi yang tak sesuai dengan keragaman rakyat Indonesia, yang bagai bunga warna warni di taman.

Ideologi Pancasila menyatukan cara pandang yang berbeda dari 272 juta rakyat Indonesia. Entah beda karena warna kulit, asal muasal, agama, paham atau karena rebutan benar dan sumber periuk nasi. Berbeda boleh namun tetap adem ayem seumpama suasana sejuk dipagi hari. Membuat pikiran tenang dan tenang membaca koran sambil ngopi atau ngeteh.

BPIP butuh amunisi, stamina, strategi, pemain dan aturan permainan yang bagus. Agar bisa melawan “ngengat” ideologis serta menguatkan tiang pancang ideologi negara. Sekaligus menjaga benak 272 juta Rakyat Indonesia kukuh ideologi Pancasilanya. Bisa berbahaya bila benak manusia Indonesia ingin berganti ideologi.

Tentu bukan pekerjaan mudah agar ideologi negara tetap tertanam kuat dalam “sumsum” pikiran 272 juta rakyat. Seolah tiang pancang yang tertanam 100 meter di bawah tanah. Sehingga gempa atau puting beliung pun tak sanggup mencabut dan atau merobohkannya. Agar tiang pancang ideologi Pancasila itu menjadi pedoman jalannya bernegara dan bermasyarakat. Memastikan kebijakan publik mewujudkan keadilan dan kesejahteraan 272 rakyat. 

Oleh: Kang Marbawi, Kasubdit Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Nonformal Informal BPIP.

(COK/RIS/PDN)


Baca juga: Pro Kontra Pengaturan Euthanasia di Indonesia