Search

Home / Kolom / Editorial

Budaya Kekerasan Bentuk dari Frustasi Masyarakat

Editor   |    26 April 2023    |   22:03:00 WITA

Budaya Kekerasan Bentuk dari Frustasi Masyarakat
ilustrasi aksi tindakan kekerasan (shutterstock)

SUDAH beberapa hari ini, kita begitu mudahnya menyaksikan berbagai aksi kekerasan yang terjadi di masyarakat melalui lini massa media sosial dan pemberitaan media.

Kita menyaksikan bagaimana orang-orang dengan begitu mudahnya tersulut emosi mereka dengan melakukan aksi kekerasan kepada pihak lain yang di antaranya bahkan terbilang brutal.  

Dari yang sempat terekam media, baru-baru ini misalnya kasus penganiayaan oleh dua warga terhadap seorang dokter yang bertugas di Puskesmas Fajar Bulan, Kecamatan Way Tenong, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Lalu kasus seorang anak polisi menganiaya mahasiswa di Medan, Sumatera Utara pada Desember 2022 lalu. Bahkan  Ayah pelaku yang merupakan perwira polisi diketahui ikut menyaksikan penganiayaan itu. Namun kasusnya baru terungkap sekarang setelah viral di media sosial.

Selanjutnya, aksi kekerasan oknum TNI Angkatan Udara Praka ANG, anggota Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) 471 Pasgat, yang menendang motor seorang perempuan membonceng anak di Jatiwarna, Bekasi, Jawa Barat.

Di Bali sendiri, seorang Jero Mangku yang merupakan pemuka agama Hindu sempat viral setelah videonya tersebar di berbagai media sosial (medsos) terlibat perkelahian dengan WNA asal Rusia di Jalan Raya Ubud, tepatnya di depan Ink Alchemist Bali Tattoo Studio.

Dari keempat peristiwa aksi kekerasan itu, seharusnya dapat diselesaikan secara musyawarah maupun jalur hukum. Namun, mengapa memilih jalan aksi kekerasan? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Keempat kasus itu hanyalah kasus yang terekam media dan viral di medsos, namun jauh hari sebelum itu hal serupa sudah sering terjadi dan intensitasnya seperti cenderung meningkat. Bahkan beberapa hari lalu, kita juga dikejutkan aksi pembunuhan oleh seseorang berkedok dukun penggandaan uang di Banjarnegara, Jawa Tengah. Sadisnya, pelaku yang bernama Mbah slamet diduga telah melakukan pembunuhan lebih dari 5 korban.

Kekerasan sendiri adalah tindakan melukai yang dilakukan individu atau kelompok dengan latar belakang dan motif yang bermacam-macam. Kekerasan bisa disebut juga sebagai tindakan anarkis yang cenderung berlebihan.

Pada dasarnya kekerasan adalah tingkah laku seseorang yang berlawanan dengan nilai moral. Saat ini kekerasan telah membudaya di kalangan masyarakat dan mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, mulai dari kasus tawuran, pembunuhan, pengrusakan, penyerangan, pemerkosaan dan lain sebagainya.

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, M. Mustofa menyebutkan fenomena aksi kekerasan dapat disebabkan karena masyarakat frustasi terhadap sistem dan struktur sosial yang tidak adil.

Menurut Mustofa, pengalaman buruk orang per orang menumpuk dengan ketidakadilan pemimpin dan lemahnya penegakan hukum. Sehingga kasus sedikit saja terutama yang menyangkut harta benda, masyarakat mudah bertindak anarkis secara spontan.

Berbagai tindakan kekerasan dilakukan sebagai isyarat berkomunikasi bahkan oleh masyarakat tertentu dijadikan sebagai solusi untuk macam problematika yang dialaminya. Tindakan kekerasan, agresifitas ini merupakan bentuk akumulasi frustasi masyarakat atas problematika yang terjadi secara kontinu dan tidak ada tanda-tanda akan selesainya masalah, namun justru semakin kompleksnya permasalahan yang terjadi.

Kekerasan dan kejahatan adalah sebuah dampak atau akibat semata, yang perlu digarisbawahi adalah latar belakang, apa yang berada di balik terjadinya konflik dan kekerasan tersebut. Kekerasan bisa saja terjadi disebabkan keadaan masyarakat yang berada di titik jenuh atas ketidakadilan sistem dan sturtur sosial pada berbagai permasalahan aspek kehidupan masyarakat. Di antaranya adalah kasus tinginya kemiskinan dan pejabat korupsi yang dihukum ringan, pendidikan dan akses kesehatan yang dikriminatif.

Salah satu solusi mengeluarkan masyarakat dari perilaku kekerasan, usul Mustofa, adalah perbaikan struktur sosial yang tidak adil dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. (*)

 


Baca juga: Ulah Kepo Netizen Tak Selalu Buruk