Search

Home / Kolom / Editorial

Pendekatan Budaya dan Kearifan Lokal

Editor   |    12 November 2023    |   17:45:00 WITA

Pendekatan Budaya dan Kearifan Lokal
Pj Gubernur Bali SM Mahendra Jaya. (dok/podiumnews)

ADA hal cukup menarik menyimak gaya kepemimpinan Penjabat (Pj) Gubernur Bali SM Mahendra Jaya yang resmi menempati posisi sebagai Orang Nomor Satu di Pulau Dewata sejak 9 September 2023 lalu tersebut.

Ia memperlihatkan gaya kepemimpinannya dengan pola pendekatan nilai budaya dan kearifan lokal. Setidaknya ada dua hal yang terlihat cukup menonjol dalam pemberitaan media lokal di Bali.

Pertama adalah penggunaan istilah kata ‘ngrombo’ yang merupakan istilah Bali untuk semangat gotong-royong. Istilah ini sendiri lahir dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Bali yang kental akan nilai-nilai kebersamaan.

Sedangkan kedua adalah Parama Shanti tentang nilai kehidupan manusia yang cinta damai. Sebuah nilai yang dianut serta diyakini oleh masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari mereka. Nilai kearifan lokal inilah yang kemudian dipakai untuk mengajak masyarakat Bali mewujudkan pemilu damai pada pesta demokrasi di tahun 2024 nanti.   

Pendekatan nilai budaya dan kearifan lokal telah terbukti memiliki berbagai kelebihan dalam menyelesaikan berbagai problem sosial di tengah masyarakat. Karena lebih mudah dipahami oleh masyarakat hingga tingkat paling bawah karena telah menjadi bagian lekat pada kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu juga lebih mengena dan menyentuh suasana kebatinan serta alam pikiran masyarakat setempat. Sebab nilai-nilai tersebut tumbuh dan berakar dari kehidupan sosial masyarakat itu sendiri sejak lama bahkan berabad-abad. Sehingga telah begitu menyatu pada kehidupan masyarakat. Dengan begitu akan lebih mudah dalam menggerakan kesadaran masyarakat.

Kemudian untuk mengatahui apa yang melatarbelakanginya? Jika ditelusuri lebih lanjut maka akan ditemukan hal ini erat kaitannya dengan tugas yang pernah dijalani Mahendra Jaya sebelumnya, sebagai seorang perwira polisi.

Sebagai lulusan sekolah perwira polisi (Akpol), ia telah mengalami penempatan tugas di berbagai daerah di Indonesia. Ini membuat dirinya mempunyai kemampuan adaptasi yang cepat termasuk menyerap nilai-nilai kebiasaan serta adat istiadat (sosial budaya) masyarakat setempat.     

Hal ini juga tak lepas dari makin menguatnya budaya organisasi Polri yang mengalami reorentasi dan reorganisasi paska Orde Baru setelah lepas dari ABRI. Sebagai bagian dari salah satu desakan serta tuntutan dari civil society bahwa Polri adalah bagian dari masyarakat sipil. Maka secara organisasi dan karakter pun juga dituntut menggunakan pendekatan yang lebih humanis dan ramah dengan sistem negara demokrasi, tidak lagi menggunakan gaya militeristik.

Dari sinilah kemudian Polri mengembangkan pola pendekatan sosiologis yang lebih menekankan pada pendekatan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang dianut masyarakat setempat. Hal ini juga berhasil melahirkan tradisi polisi intelektual yang makin kuat di tubuh Polri dengan munculnya perwira-perwira yang menyandang gelar doktor dan profesor.

Salah satunya perwira polisi yang cukup menonjol itu adalah Tito Karnavian yang sempat menjabat sebagai Kapolri, dan kini menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo. (Jokowi).

Tito Karnavian kemudian menunjuk penjabat (Pj) gubernur untuk sejumlah provinsi yang masa jabatan gubernur definitifnya telah selesai hingga menunggu terpilihnya kembali gubernur hasil Pemiluka Serentak 2024.  

Sehingga tak heran kemudian Tito menunjuk sejumlah perwira tinggi Polri sebagai penjabat gubernur di sejumlah daerah. Sebab ia merasa yakin bahwa para perwira tinggi Polri tersebut akan mampu memimpin sebagai Orang Nomor Satu di daerahnya. Apalagi perwira tinggi Polri itu adalah putra daerah sendiri sehingga akan mudah diterima oleh masyarakat setempat. Sebagimana halnya Mahendra Jaya yang juga putra asli Bali.

Lebih jauh lagi, pola pendekatan budaya juga terbukti lebih ampuh dalam diplomasi luar negeri atau internasional atau lebih dikenal sebagai gaya soft diplomacy. Salah satu negara Asia yang sangat berhasil menerapkan hal ini adalah Korea Selatan dengan K-Pop sebagai budaya populer yang kini telah mendunia. (*)

   

 

 


Baca juga: Ulah Kepo Netizen Tak Selalu Buruk