Search

Home / Sorot / Sosial Budaya

Bali Menjaga Air Bukan Hanya Fisik

Editor   |    07 Mei 2024    |   20:38:00 WITA

Bali Menjaga Air Bukan Hanya Fisik
Sekda Dewa Indra. (foto/adi)

KEARIFAN lokal masyarakat Bali dalam memperlakukan dan menjaga air tidak hanya dari sisi fisik tata kelolanya, tapi juga hingga kehidupan spiritual. Salah satunya diwujudkan dalam upacara Segara Kerthi.

Pemerintah Provinsi Bali akan mengajak para delegasi World Water Forum ke-10 menyaksikan upacara Segara Kerthi, sebagai simbol bahwa air merupakan komponen penting bagi kehidupan.

“Tata kelola air oleh masyarakat Bali sudah sejak turun temurun dilakukan berdasarkan kearifan lokal. Ini kekuatan budaya yang bisa menjadi contoh baik dan menarik bagi delegasi. Seluruh delegasi akan diajak menyaksikan upacara tersebut di Pantai Kura-Kura,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali, Dewa Made Indra dalam Konferensi Pers yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertajuk “Persiapan Bali sebagai Tuan Rumah World Water Forum ke-10”  secara virtual, Selasa (7/5/2024).

Segara Kerthi mengandung makna air sebagai sumber alam tempat leburnya semua kekeruhan, yang harus dilestarikan dengan tidak melakukan pencemaran dan perusakan lingkungan serta menjaga nilai-nilai kesucian dan keasriannya.

Dewa Indra juga menambahkan bahwa pelaksanaan event tersendiri ini untuk menunjukkan kepada delegasi bahwa Bali memiliki budaya dalam memuliakan air melalui pelaksanaan “BALI NICE” dengan upacara Segara Kerthi (ritual dan pertunjukan budaya).

“Tujuannya untuk memohon anugerah Tuhan agar laut bersih secara niskala untuk keharmonisan ekosistem di laut. Selain itu agar seluruh agenda World Water Forum (WWF) 2024 berjalan lancar dan sukses. Kami juga menyiapkan tempat kunjungan yang berkaitan dengan air yakni di antaranya Jatiluwih,” tambahnya.

Selain itu Pemprov Bali juga akan menyiapkan tempat melukat bagi delegasi WWF. Melukat sendiri merupakan ritual penyucian atau pembersihan diri secara spiritual dengan sarana air suci, banten, dan doa yang bertujuan untuk menghilangkan segala kekotoran dan menjauhkan unsur-unsur negatif pada diri manusia.

Selain Segara Kerthi, kekuatan budaya lokal yang diyakini menjadi daya tarik delegasi adalah Tari Pendet oleh remaja putri saat tamu negara tiba. Untuk tamu kepala negara, tarian tersebut bahkan dilakukan di depan tangga pesawat. Sedangkan delegasi lainnya dilakukan di pintu masuk gedung VVIP Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Maka itu, Dewa Indra memastikan seluruh rangkaian penyambutan tamu di World Water Forum ke-10 yang digelar pada 18--25 Mei 2024 tersebut akan terselenggara dengan lancar. Sebagai tuan rumah, Pemprov Bali bahkan akan memberikan pelayanan layaknya bagi tamu agung seperti acara internasional sebelumnya yang diselenggarakan di Pulau Dewata.

“Sejak H-2 nanti mulai dari kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga hotel dan jalanan-jalanan yang akan dilalui delegasi saat side event, penjor-penjor yang dalam masyarakat Bali menandakan penyambutan tamu agung sudah dipasang,” ujarnya.

Pemasangan Penjor sudah dilakukan sejak dari Gedung VVIP, pintu keluar bandara dan beberapa titik menuju penginapan delegasi di area Nusa Dua serta lokasi acara (Area Nusa Dua, GWK, BTID, Museum Subak Tabanan, dan Jatiluwih).

Bagi pemerintah provinsi dan kabupaten kota di Bali, katanya, kepercayaan dunia tersebut harus dibalas dengan persiapan matang hingga ke hal paling detail. Misalnya rambu lalu-lintas, kebersihan, dan keindahan.

“Ini menjadi tanggung jawab yang besar bukan hanya untuk Bali, tapi Indonesia secara keseluruhan di mata dunia,” katanya.

Maka itu, katanya, koordinasi dengan pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) termasuk TNI/Polri dan pihak lain, hingga saat pelaksanaan nanti terus dilakukan. Semua institusi dari pemerintah pusat sampai daerah, akan bekerja sama agar acara itu dapat terlaksana dengan baik.

Dewa Indra pun mengajak masyarakat Bali saat Worold Water Forum ke-10 nanti agar membatasi kegiatan di luar rumah demi kelancaran dan kesuksesan kegiatan. (adi/suteja)


Baca juga: Belajar dari Sawah dan Petani Bali