Podiumnews.com / Aktual / Hukum

Pelaku Rampok Berdarah di Jimbaran Diduga Buruh Bangunan

Oleh Editor • 23 Februari 2025 • 17:55:00 WITA

Pelaku Rampok Berdarah di Jimbaran Diduga Buruh Bangunan
Jenazah korban berinisial K (57) saat dievakuasi dari TKP pada Minggu (23/2/2025) di Jimbaran. (foto/hes)

JIMBARAN, PODIUMNEWS.com - Peristiwa perampokan berdarah terjadi di Perumahan Kori Nuansa Barat Blok III Nomor 6, Kelurahan Jimbaran, Kuta Selatan, pada Minggu 23 Februari 2025 sekitar pukul 03.00 dini hari. Seorang ibu rumah tangga dan juga penjual roti bernama Kartini (56), ditemukan tewas bersimbah darah di dalam rumahnya.

Korban tewas dengan 5 tusukan di punggung, satu luka tusuk pada paha bagian belakang. Korban tewas diduga akibat kehabisan darah. Selain korban, anaknya bernama Dika Putri Kartikasari (24) juga menjadi korban kebiadaban pelaku.

Namun putri korban ini lolos dari maut dan dilarikan ke rumah sakit di Jimbaran, Kuta Selatan. Ia mengalami luka pada bagian leher akibat dicekik pelaku, dan wajah lebam. Sedangkan, jasad ibunya sudah dievakuasi ke RSUP Prof Ngoerah, Sanglah, Denpasar.

Saksi warga, Jo, menyebutkan mengenal korban dan anaknya yang hanya tinggal berdua di TKP. Korban jualan roti bakar endues, sedangkan anaknya trainer di salah satu toko ritel.

Dijelaskanya, peristiwa itu terjadi Minggu 23 Februari 2025 sekitar pukul 03.00 dini hari. Saksi dan istrinya awalnya mendengar suara bunyi seperti ada benda yang dibenturkan. Saksi mengira ada yang sedang bermain game. Saksi sempat keluar jalan untuk mengeceknya, namun tidak ada apa-apa.

"Saya sempat keluar ke jalan, mencari ke utara, namun tidak ada apa-apa," katanya. 

Sekitar 30 menit kemudian, Jo mendengar suara minta tolong. Lantas saksi dan istrinya keluar rumah. Mereka melihat Dika tetangganya samping kiri yang berteriak minta tolong. Saksi kemudian masuk ke rumahnya hendak memberikan pertolongan.

Saya melihat banyak darah di lantai ruang tamu. Ibunya dalam posisi terlentang di atas meja mengenakan kain pantai dan telanjang dada. Kepalanya ke arah barat dan kedua kakinya gantung menyentuh lantai.

"Saat itu ibunya (Kartini) terlihat masih hidup karena masih bergerak, namun sudah tak bisa bicara. Anaknya (Dika) juga tidak bisa bicara saat saya tanyain," terangnya.

Saksi menduga korban mengalami pendarahan hebat, lantas memanggil para tetangga untuk memberikan pertolongan. Sedangkan saksi Jo pergi mengambil mobil ke tempat parkir yang berada cukup jauh dari TKP, dengan maksud untuk menghantar korban ke RS. Namun, baru saja tiba di parkiran, Jo menerima pesan dari warga bahwa korban sudah meninggal.

"Saya masuk ke dalam rumah saya melihat wajah korban bersih. Mulutnya juga tidak ada keluar darah. Makanya saya mengira korban pendarahan. Padahal kepala bagian belakangnya luka parah. Dugaannya pelaku membentur-benturkan kepala korban ke meja," tuturnya.

Warga kemudian perlahan-lahan menanyakan kepada Dika terkait peristiwa tersebut. Dia mengatakan ada seorang pria masuk ke dalam rumahnya dan menganiaya ibunya. Ia awalnya mendengar suara benturan di ruang tamu dan pergi untuk melihatnya. Ia kaget melihat ibunya disiksa oleh orang tak dikenal. Namun begitu melihat Dika datang, pelaku makin beringas.

"Pelaku menghampiri Dika lalu mencekiknya sekuat tenaga. Pelaku mungkin berusaha untuk membunuh anaknya juga," ucapnya.

Saat dicekik, Dika sempat menyampaikan permintaan kepada korban agar ambil saja apa yang mau diambil tapi jangan membunuhnya. Tapi Dika terus berusaha untuk berontak dan berteriak. Akibatnya teriakan Dika itu membuat pelaku panik dan berusaha kabur. Ia naik ke tangga lalu lompat ke bedeng proyek di belakang rumahnya.

"Sepertinya pelaku itu sudah tahu situasi rumah korban hanya ditempati dia orang perempuan. Mungkin niat awalnya mencuri, tetapi karena dipergoki korban (Kartini) akhirnya dia beringas. Dugaan niat mencuri itu karena cerita dari temannya, pelaku sempat mengeluh tak punya uang," duga Jo.

Dikatakanya, korban Kartini merupakan orang baik. Dia mengenal pertama kali tinggal di sana sejak puluhan tahun lalu. Dahulu Kartini bekerja di travel. Sejak Covid-19 tahun 2020 dia berhenti dan banting setir jual roti bakar.

"Ibu Kartini ini orang baik. Dia tinggal sama anaknya (Dika). Sedangkan suaminya tinggal di Jogja tinggal bersama anak yang satunya. Ibu ini bolak-balik Jogja. Demikian juga suaminya bolak-balik ke Bali," ujarnya.

Sementara itu, pelaku yang tega menghabisi nyawa korban diduga buruh proyek di belakang rumah korban. Pelaku berinisial Rafli adalah buruh proyek bangunan asal Pasuruan, Jawa Timur. Hal ini berdasarkan keterangan tiga orang teman pelaku buruh proyek, dan dikuatkan oleh keterangan dari anak korban.

Diketahui Rafli mendadak kabur dari bedeng proyek sekitar pukul 04.00 WITA. Ia kabur mengenakan celana pendek dan jaket warna hitam. Hal itu sesuai dengan keterangan dari Dika. Kesamaan ciri lainnya adalah ciri fisik, yakni badan tidak terlalu tinggi, berotot, kuku panjang, dan rambut cepak.

Sebelumnya, pada saat kabur dari bedeng, pelaku Rafli tidak menjelaskan alasannya. Ia sempat diiinterogasi temanya kenapa pergi dari bendeng proyek. Ia hanya mengatakan pergi ke Ubud, Gianyar karena gajinya kecil. Ia pergi ke Ubud, Gianyar karena sudah mendapatkan kerjaan baru.

Setelah kejadian itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Untuk kepentingan penyelidikan rumah korban dipasangi garis polisi. Darah yang berceceran di ruang tamu di mana kedua korban disiksa belum dibersihkan.

Dikonfirmasi terpisah Kasi Humas Polresta Denpasar AKP I Ketut Sukadi membenarkannya dan mengatakan kasus dugaan perampokan itu masih dalam penyelidikan aparat Polsek Kuta Selatan dibantu Satreskrim Polresta Denpasar.

"Masih diselidiki, kita tunggu data lengkapnya," ujar AKP Sukadi, Minggu (23/2/2025). (hes/suteja)