Bertahan untuk Berubah
DUA puluh tahun sudah media kelas UMKM di Bali berusaha mencari bentuk. Sejak kemunculan gelombang pertama di awal 2000-an, hingga kini, jejaknya bisa ditelusuri lewat ruang digital yang penuh semangat namun sering kali rapuh secara ekonomi. Tahun 2015, saya bersama sejumlah kawan mendirikan Asosiasi Media Online (AMO) Bali. Harapannya sederhana, bagaimana caranya media kelas UMKM bisa bertahan, membayar gaji wartawan, dan tetap hadir sebagai bagian dari demokrasi lokal.
Awalnya, AMO tumbuh pesat. Anggotanya pernah mencapai empat puluh media. Namun seleksi alam berjalan. Hanya yang memiliki sedikit kemampuan bertahan yang terus berlanjut. Pada 2018, sejumlah media mulai berproses menuju verifikasi Dewan Pers. Jalan ini tidak mudah. Syarat administratif, standar organisasi, hingga kapasitas redaksi menjadi ujian berlapis. Dari sana, terlihat jelas betapa media kelas UMKM berjalan di garis tipis antara idealisme dan kenyataan hidup.
Hingga 2022, dari sekitar sepuluh media anggota yang masih bertahan, sebagian berhasil terverifikasi Dewan Pers. Jumlah itu jauh lebih sedikit dari awal, tetapi di balik angka kecil tersebut ada kekuatan tersembunyi. Sepuluh media kelas UMKM yang tersisa, dengan segala keterbatasan, mampu memperkerjakan sedikitnya lima puluh orang. Angka yang mungkin sepele di mata korporasi besar, tetapi bagi kami, itulah bukti bahwa media kecil pun bisa membuka pintu rezeki, menyediakan dapur yang mengepul, dan menjaga asa banyak keluarga.
Pada 2024, kegelisahan mulai menguat. Perubahan datang begitu cepat. Algoritma mesin pencari, kebiasaan pembaca yang kian singkat, dan banjir informasi di media sosial membuat media kelas UMKM seperti berdiri di tepi arus deras. Herakleitos sejak lama mengingatkan, yang abadi hanyalah perubahan itu sendiri. Ketika melihat media kelas UMKM tetap berjalan di tempat, pertanyaan pun muncul. Apakah ini berarti kami justru melawan hukum alam yang meminta kita bergerak dan menyesuaikan diri
Kenyataan itulah yang mendorong saya mencari jalan baru. Nietzsche menulis, siapa yang memiliki alasan untuk hidup dapat menanggung hampir segala cara. Saya merenungkan kalimat itu dalam konteks media kecil. Selama ini alasan bertahan sering berhenti pada bisa membayar operasional bulan depan, bisa menggaji karyawan sebulan lagi, atau bisa memenuhi satu kontrak kecil. Semua itu penting. Namun tanpa alasan yang lebih besar, perjuangan hanya menjadi rutinitas yang melelahkan.
Kierkegaard mengingatkan bahwa hidup hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang, tetapi harus dijalani dengan menatap ke depan. Ketika menoleh ke belakang, perjalanan AMO memberi banyak pelajaran. Dari puluhan media, kini tinggal sepuluh. Dari mimpi besar, yang tersisa adalah keteguhan untuk bertahan. Menatap ke depan, saya tahu bertahan saja tidak cukup. Perlu arah baru agar tidak sekadar mengulang pola yang sama.
Dari kegelisahan itu lahir gagasan Podium Ecosystem pada 2024. Saya membayangkannya bukan sekadar pengembangan PodiumNews, melainkan jejaring yang memberi napas panjang, media gaya hidup UrbanBali, konsultan media Podium Kreatif, serta rencana ruang fisik berupa Kedai Kopi Redaksi. Masing-masing bagian ibarat cabang kecil, tetapi akarnya satu. Tujuannya agar media kelas UMKM punya cara bertahan yang lebih kokoh, tidak hanya bergantung pada kontrak tahunan yang serba tak pasti.
Plato menulis bahwa permulaan adalah bagian terpenting dari pekerjaan. Awal 2025 saya memegang kata-kata itu. Tidak ada janji hasil instan. Tidak ada kepastian garis akhir. Yang ada adalah kesediaan memulai dan merawat langkah, satu per satu. Dengan langkah kecil itu, diharapkan ekosistem tumbuh, saling menopang, dan kelak memberi ruang untuk berkembang.
Camus menulis bahwa perjuangan sendiri sudah cukup untuk mengisi hati manusia. Dalam kerja media kecil, kalimat itu menemukan wujudnya. Ada hari ketika angka pembaca turun, ada bulan ketika iklan belum datang, ada momen ketika keraguan muncul. Namun selama masih ada alasan yang jernih, selama masih ada keyakinan bahwa suara lokal perlu tempat, perjuangan tetap memiliki makna.
Bertahan bukan tujuan akhir. Bertahan adalah jembatan menuju perubahan. Sepuluh tahun lalu kami ingin survive. Hari ini kami ingin tumbuh. Perjalanan mungkin panjang dan melelahkan. Tetapi selama ada alasan yang lebih besar, selama ada langkah yang terus diambil, media kelas UMKM akan menemukan caranya sendiri untuk bertahan dan berubah. Bertahan untuk berubah, itulah jalan yang kami pilih. (*)
Menot Sukadana