Logika Wariga Ratu Elizabeth
APAKAH Ratu Elizabeth II itu manusia Bali? Jelas ini pertanyaan konyol.
Tapi nanti dulu. Boleh jadi iya?
Anda ingin tahu jawabannya? Mari pelan-pelan memahami pertanyaan itu. Jika dikaitkan dengan filosofi dan laku hidup sebagai manusia Bali. Setengahnya bisa benar. Sisanya lagi bisa tidak.
Kita mulai melihat pada filosofi kearifan yang menjadi laku hidup soal waktu atau kala. Waktu itu bukan sekadar angka di jam tangan. Di Bali, waktu adalah energi. Ada hari untuk memendam benih. Ada pula hari untuk menebas ilalang. Kita mengenalnya sebagai dewasa ayu.
Jika nekat membangun rumah di hari ala dahat atau lanyapan, fondasi sekuat apa pun bisa goyah. Itu namanya melabrak ritme alam. Dampaknya bisa gering. Rumah itu akan "sakit" dan membawa kesialan bagi penghuninya.
Ratu Elizabeth II tidak pernah belajar kitab Wariga. Tapi selama 70 tahun bertakhta, beliau adalah praktisi terbaik padewasan dalam skala global. Beliau memiliki alam kebatinan yang sangat tajam. Sebuah insting yang selaras dengan getaran semesta.
Bayangkan situasinya. Beliau mewarisi takhta saat Inggris sedang sekarat usai Perang Dunia II. Negara-negara jajahan satu per satu pamit. Di dalam negeri, generasi muda mulai berisik. Mereka menganggap takhta itu barang antik. Harus masuk museum. Tidak relevan dengan demokrasi.
"Buang-buang pajak!" protes mereka.
Elizabeth bisa saja panik. Beliau bisa saja sibuk masuk TV untuk berdebat. Atau membuat pembelaan panjang lebar. Tapi beliau tidak melakukannya. Beliau justru memilih diam.
Inilah inti dari dewasa ayu dalam komunikasi.
Kepekaan batinnya diuji habis-habisan saat tragedi wafatnya Putri Diana pada 1997. Dunia menghujat. Rakyat Inggris marah karena Ratu memilih diam membisu di Istana Balmoral, sementara bunga-bunga duka menumpuk di London. Banyak yang mengira Ratu tidak peduli.
Namun, itulah cara beliau membaca situasi. Beliau tahu dunia sedang dilanda badai emosi. Beliau memilih diam sebagai bentuk penyengker. Beliau menunggu gejolak reda sebelum akhirnya muncul memberikan pidato yang menyejukkan. Beliau tidak ingin suara monarki tenggelam dalam kebisingan emosi sesaat.
Beliau memahami konsep ala ayuning dewasa. Bicara di tengah badai adalah dewasa ala. Beliau menunggu momentum yang tepat untuk muncul sebagai sosok nenek yang berduka, sekaligus kepala negara yang tegar. Hasilnya? Rakyat yang tadinya menghujat, berbalik bersimpati.
Dalam filosofi kita, tidak setiap hari manusia boleh mengumbar energi. Ada kalanya kita harus nyepi. Menepi. Mengosongkan diri agar energi kembali murni. Elizabeth mempraktikkan itu. Beliau jarang memberikan wawancara pribadi. Beliau tidak pernah menjelaskan alasan di balik keputusannya.
"Never complain, never explain," katanya.
Itu bukan karena beliau sombong. Itu karena beliau tahu nilai sebuah kemunculan. Beliau paham akan hukum alam. Keanggunan muncul dari kemampuan menahan diri.
Elizabeth memposisikan dirinya seperti hari Purnama.
Hanya muncul di saat-saat tertentu. Membawa cahaya di tengah kegelapan. Lalu kembali memudar di balik awan. Di sinilah kita melihat jati diri manusia Bali sebagai Manusia Simbol. Kita memahami bahwa kata-kata sering kali dianggap memiliki keterbatasan untuk menjangkau wilayah spiritual yang suci.
Kata sering kali bisa terpeleset. Atau disalahpahami.
Karena itu, kita menciptakan bahasa rupa melalui banten. Bagi kita, banten adalah Aksara Visual. Setiap elemennya adalah huruf yang menyusun kalimat doa. Janur yang dirangkai atau sampian adalah simbol rona pikiran. Tumpeng adalah representasi giri atau gunung sebagai poros semesta.
Saat nanding banten, kita sebenarnya sedang menyusun sebuah korespondensi puitis dengan alam semesta. Melalui rupa, bukan suara.
Inilah konsep yadnya sebagai materialisasi niat. Sebuah niat baik belum dianggap puput atau selesai jika belum mewujud secara fisik. Proses menjahit janur adalah meditasi dalam gerak. Banten menyatukan kalkulasi intelektual wariga, keindahan bentuk, dan ketulusan hati atau sradha.
Manusia Bali merasa lebih manunggal saat doa itu bisa dilihat, disentuh, dan dicium aromanya.
Elizabeth melakukan hal yang sama melalui komunikasi nir-kata. Beliau memahami kekuatan frekuensi yang melampaui suara. Seperti penggunaan Sanga Warna atau sembilan warna untuk menyapa energi penjuru angin. Elizabeth menggunakan warna baju, jenis bros, hingga posisi tas tangannya sebagai pesan tersembunyi.
Cukup dengan simbol yang tepat di waktu yang tepat.
Bagi Elizabeth, setiap gerak-gerik publik adalah replika Bhuana alit yang dipersembahkan kepada Bhuana agung. Alam kebatinannya sangat peka terhadap perubahan cuaca politik dan sosial. Beliau tahu kapan alam semesta sedang menuntutnya untuk tenang. Dan kapan saatnya muncul memberikan perlindungan.
Keberadaannya adalah simbol ngaturang raga. Sebuah penyerahan diri secara total kepada pengabdian. Ini adalah negosiasi harmoni untuk mencapai Jagadhita.
Refleksi besarnya: gaya kepemimpinan Elizabeth ini sebenarnya adalah teguran bagi kita, para tokoh dan pemimpin di Bali. Kita sering kali gagap membaca kala. Terlalu bernafsu tampil ke depan meski situasi sedang ala. Padahal, pemimpin yang punya taksu adalah mereka yang tahu kapan harus menjadi "Gunung" yang diam mengayomi, dan kapan harus menjadi "Surya" yang terbit memberi solusi.
Beliau adalah maestro padewasan yang sebenarnya. Tanpa perlu memegang kalender Bali, beliau sudah khatam cara hidup yang selaras dengan alam. Tahu waktu, tahu tempat, dan tahu diri. Seperti banten yang dihaturkan dengan tulus, keberadaannya menjadi simbol yang memberikan rasa tenang bagi seisi dunianya.
Sangat kontras dengan kita di sini. Kita yang setiap hari ribut menghitung dewasa ayu hanya untuk sekadar pamer gengsi. Kita yang lebih sibuk memoles simbol daripada memaknai isi.
Mungkin kita perlu belajar pada Sang Ratu. Bahwa kehormatan itu dijaga dengan hening, bukan dengan obral kata-kata di media sosial yang isinya cuma keluhan dan pembenaran diri sendiri.
Sungguh ironis: kita yang merasa paling memiliki tradisi wariga, justru sering kali menjadi yang paling buta dalam membaca situasi.
Jangan-jangan Ratu Elizabeth lebih manusia Bali daripada orang Bali itu sendiri?
Menot Sukadana