Humas, Rok Mini atau Daster?
PILIHANNYA cuma dua: Rok mini atau daster?
Kalau Anda seorang praktisi Humas (Hubungan Masyarakat), pilihan ini bukan soal selera berpakaian. Ini soal bagaimana Anda mengemas pesan. Soal bagaimana Anda menyuguhkan "hidangan" informasi di tengah banjir informasi digital yang begitu menyesakkan.
Winston Churchill, Perdana Menteri legendaris Inggris, pernah memberi tamsil yang nakal tapi cerdas tentang sebuah pidato yang juga sangat relevan untuk rilis pers. Katanya, sebuah rilis itu ibarat rok mini: harus cukup pendek untuk menarik perhatian, tapi harus cukup panjang untuk menutupi bagian-bagian yang penting.
Dalam dunia komunikasi, prinsip ini sering terlupakan. Saya sering geleng-geleng kepala melihat rilis yang mendarat di meja redaksi maupun yang tayang di kanal media sosial perusahaan.
Banyak Humas yang masih hobi pakai "daster". Rilisnya panjang sekali. Kedodoran. Semua informasi dimasukkan tanpa proses kurasi. Mulai dari sejarah perusahaan yang membosankan, visi misi yang klise, sampai daftar nama semua pejabat yang hadir lengkap dengan gelarnya. Kalimatnya muter-muter seperti jalanan di Kintamani.
Humas "berdaster" ini biasanya sedang cari aman. Mereka pikir, semakin panjang tulisan, semakin terlihat mereka bekerja keras. Padahal, mereka lupa bahwa jurnalis dan netizen adalah makhluk yang sangat sibuk. Begitu melihat rilis sepanjang daster, mereka langsung gerah. Malas baca. Ujung-ujungnya? Masuk tong sampah digital atau dilewati begitu saja dalam sekali scroll.
Tapi, jangan pula kelewat pendek hingga "telanjang".
Ada rilis yang saking minimalisnya malah kehilangan esensi. Isinya kering, tanpa data, tanpa konteks. Ini ibarat membuat lawar tapi lupa memberi base genep. Hambar. Tidak ada rasa nyangluh-nya. Jangankan jurnalis yang haus berita, masyarakat pun tidak akan tertarik untuk sekadar melirik, apalagi mengklik.
Humas yang hebat itu ibarat penjahit "rok mini" yang juga jago ngelawar.
Ia tahu takarannya. Ia tahu kapan harus mengiris kalimatnya tipis-tipis agar renyah dikunyah oleh pembaca yang hanya punya waktu 15 detik. Ia tahu kapan harus memberi "pedas" di judul agar mata redaktur langsung melotot dan jempol netizen berhenti melakukan scrolling. Namun, ia tetap menjaga martabat korporasi. Tahu bagian-bagian krusial tetap tertutup rapi dengan fakta yang kuat dan akurasi yang terjaga.
Intinya adalah proporsi. Keseimbangan bumbu.
Dunia komunikasi sudah berubah total. Kita tidak lagi berkomunikasi di ruang hampa. Kita berebut perhatian dengan jutaan konten lainnya. Orang tidak punya waktu lagi untuk membaca narasi yang menjuntai-juntai seperti daster. Publik butuh sesuatu yang ringkas, menarik, tapi berisi. Sesuatu yang sekali baca langsung bikin paham.
Jadi, untuk teman-teman Humas: mulailah ukur kembali tulisan Anda. Jangan biarkan ia kedodoran hingga kehilangan bentuk, tapi jangan biarkan ia hambar tanpa gizi informasi.
Tentukan pilihan Anda. Mau tetap bertahan dengan "daster" yang bikin ngantuk, atau mulai berani merancang "rok mini" yang memikat perhatian tanpa kehilangan kehormatan?
Kalau saya, jelas lebih suka rok mini. Bagaimana dengan Anda?
Menot Sukadana