Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Melamun Bukan Dosa

Oleh Nyoman Sukadana • 01 Maret 2026 • 01:50:00 WITA

Melamun Bukan Dosa
Menot Sukadana (dok/pribadi)

KEBIASAAN satu ini dianggap buruk. Dicap pemalas. Tapi siapa sangka, ia sudah berkali-kali mengubah nasib umat manusia.

Kita sudah salah kaprah. Saat kita diam mematung dengan tatapan kosong, orang sering berkata, "Jangan melamun, nanti kemasukan setan." Begitu peringatan yang sering kita dengar sejak kecil.

Di dunia yang serba sibuk dan berisik ini, diam dianggap dosa. Melamun diposisikan sebagai "pikiran kosong". Ruang hampa. Sesuatu yang harus segera diisi dengan kerja, gadget, atau obrolan basa-basi yang sebenarnya tidak penting.

Padahal, tuduhan itu meleset jauh. Melamun bukan kekosongan. Justru, saat seseorang melamun, otaknya sedang bekerja dalam mode "turbo" yang berbeda.

Ilmuwan menyebutnya Default Mode Network (DMN). Ini adalah sirkuit saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak yang biasanya tidak saling bicara. Di sinilah keajaibannya: melamun adalah laboratorium internal. Tempat di mana kepingan memori, emosi, dan pengetahuan yang berserakan mulai dijahit menjadi satu pola baru. Namanya: "inspirasi".

Sejarah dunia adalah saksi. Betapa "lamunan" telah mengubah nasib umat manusia.

Lihatlah Albert Einstein. Teori Relativitas yang mengguncang dunia fisika itu tidak lahir di atas meja hitung yang kaku. Tidak. Ia bermula dari lamunan visual seorang pemuda yang membayangkan dirinya sedang mengejar seberkas cahaya.

Begitu juga dengan August Kekulé. Ahli kimia itu bertahun-tahun buntu mencari struktur molekul benzena. Ia hanya terkantuk-kantuk di depan perapian sampai melamunkan bayangan ular menggigit ekornya sendiri. Lamunan itulah yang memecahkan rahasia atom benzena. Tanpa lamunan di depan perapian itu, ilmu kimia organik mungkin tertahan puluhan tahun lebih lama.

Bagi para penulis dan jurnalis, melamun adalah ritual wajib. Namun, ada satu tempat yang sering menjadi "kantor redaksi" paling jujur di dunia: kamar mandi. Atau WC.

Anda boleh tertawa, tapi ini fakta. Secara psikologis, WC adalah satu-satunya ruang privat yang tersisa. Di sana, manusia benar-benar sendirian. Tanpa gangguan media sosial. Tanpa tuntutan jabatan.

Di sana, di bawah kucuran air atau saat duduk diam di "singgasana", otak mengalami relaksasi total. Banyak penulis besar mengaku, judul-judul tulisan yang paling tajam justru "nongol" saat mereka sedang berada di WC. Mengapa? Karena di sana, pertahanan logika kita mengendur. Kita tidak sedang mencoba menjadi pintar. Kita hanya sedang "menjadi". Saat itulah ide-ide yang selama ini tersembunyi berani menampakkan diri. WC adalah ruang di mana kejujuran bertemu dengan kebebasan berpikir.

Di Bali, tradisi melamun dan merenung ini bukan sekadar aktivitas individu. Ia sudah mendarah daging dalam budaya dan arsitektur. Leluhur kita di Bali sangat jenius dalam memuliakan "jeda". Mereka memahami bahwa untuk bisa melihat ke luar, manusia harus lebih dulu berani melihat ke dalam, apa yang kita sebut sebagai mulat sarira.

Mereka menciptakan Bale Bengong.

Namanya saja sudah sangat jujur: sebuah bangunan untuk "bengong". Bale Bengong biasanya diletakkan di sudut pekarangan yang memiliki pandangan paling luas. Tanpa dinding. Agar angin bebas masuk. Agar pikiran tidak merasa terkurung.

Di sinilah proses ngulengang kayun terjadi, sebuah praktik menenangkan pikiran dan perasaan yang sederhana namun dalam maknanya. Ini bukan sekadar hening, tapi cara menyelaraskan diri dengan alam, napas, dan semesta. Lewat ritual kecil seperti duduk di bale sambil menyeruput kopi atau mendengar desir angin, kita belajar "hadir" sepenuhnya.

Melamun di Bale Bengong adalah cara kita mulat sarira, melihat ke dalam diri sendiri. Dalam keheningan itu, kita menemukan keseimbangan. Dalam kesadaran, kita menemukan kedamaian. Seperti ungkapan tua: "Ngulengang kayun, nenten nganggen gumi. Ngidang melinggih, prasida mulat sarira." Tenangkan hati, tak perlu mencari ke mana-mana. Duduk saja, dan lihat ke dalam diri.

Bahkan, dasar negara kita pun digali dari proses serupa. Bung Karno, saat diasingkan di Ende, memiliki "Bale Bengong"-nya sendiri berupa pohon sukun yang menghadap laut Flores. Beliau melamunkan nasib bangsa, merenungkan sejarah Nusantara, hingga akhirnya menemukan lima butir mutiara bernama Pancasila. Pancasila tidak lahir dari kegaduhan rapat, tapi dari kesunyian yang mendalam.

Jadi, salah besar jika kita menganggap melamun adalah aktivitas negatif. Justru, yang berbahaya adalah orang yang tidak pernah melamun. Orang yang terus bergerak tanpa pernah diam biasanya adalah orang yang kehilangan arah. Mereka hanya reaktif terhadap keadaan. Bukan menciptakan masa depan.

Bagi seorang penulis, melamun adalah "investasi". Tanpa melamun, tulisan hanyalah susunan kata-kata yang kering. Kaku. Seperti mesin. Melamun memberikan "nyawa" pada tulisan. Memberikan sudut pandang unik yang tidak bisa ditemukan di mesin pencari. Melamun adalah cara kita bicara dengan diri sendiri. Dan mungkin dengan semesta.

Maka, sudah saatnya kita merehabilitasi nama baik melamun. Jangan takut untuk diam. Jangan merasa bersalah saat duduk mematung menatap kosong. Di balik tatapan kosong itu, mungkin sedang terjadi ledakan ide yang akan mengubah hidup kita.

Sebab, pada akhirnya, ide besar tidak pernah lahir dari kegaduhan yang dipaksakan. Melainkan dari kedalaman lamunan yang jujur.

Asal saja kita jangan "ngelonjor" alias ngelamun jorok. (*)

Menot Sukadana