Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Balian Kata-Kata

Oleh Nyoman Sukadana • 03 Maret 2026 • 03:27:00 WITA

Balian Kata-Kata
Menot Sukadana (dok/pribadi)

DIBILANG sakti? Tidak juga. Tapi sekejap bisa mengubah total nasib seseorang.

Iya, apalagi kalau bukan wartawan.

Terkadang saya berpikir: jangan-jangan wartawan itu sebenarnya seorang balian. Mantranya? Pertanyaan dan kata-kata. Halus, tapi bisa sangat mematikan.

Di Bali, kita mengenal balian penengen yang menyembuhkan dengan usadha. Namun, ada juga balian pengiwa yang akrab dengan cetik, desti, hingga leak. Wartawan berdiri di antara keduanya.

Pertanyaannya seperti pisau bedah. Bisa mengungkap habis rahasia gelap yang paling tersembunyi. Dari pertanyaan lahir jawaban, dari jawaban lahir persepsi, dan dari persepsi, nasib sosial seseorang ditentukan.

Di sinilah "kesaktian" itu diuji. Wartawan bisa menjadi balian usadha yang memberikan obat bagi ketidakadilan. Namun, ia juga sangat rentan tergelincir menjadi praktisi balian pengiwa jurnalistik.

Jika sudah berniat buruk, seorang wartawan bisa berubah menjadi leak di dunia informasi. Sosok yang mencari-cari kesalahan di kegelapan malam, lalu menyemburkan "api" lewat pemberitaan yang menghanguskan martabat orang.

Masih ingat kemunculan Jokowi di Solo? Secara fisik ia kerempeng, bicaranya terkadang cengengesan. Tapi media mempersonifikasikannya sebagai "penawar" bagi dahaga rakyat akan kejujuran. Cara media memotret itulah yang meresonansi kesederhanaannya menjadi gelombang nasional. Inilah sisi penengen sang balian: mengangkat sosok terpinggirkan menjadi harapan melalui kekuatan aksara.

Namun, ada satu "ilmu" lagi yang sangat berbahaya jika disalahgunakan: trial by press. Penghakiman oleh pers. Banyak pejabat sudah merasakan pedihnya "teluh" diksi, lebih kejam dari desti mana pun.

Modusnya sederhana. Seorang yang belum tentu bersalah langsung dipasangi label negatif. Judul berita dibuat layaknya vonis hakim. Kutipan dipilih yang paling menyudutkan. Di titik ini, wartawan sedang mengirim cetik lewat tinta.

Sekali label "koruptor" atau "penjahat" menempel, sakitnya lama, sembuhnya susah. Bahkan jika pengadilan negara menyatakan tidak bersalah, luka nama baiknya sulit kering.

Seorang balian kata-kata yang berjiwa usadha tahu batas. Ia memiliki sesana. Ada Kode Etik Jurnalistik yang menjaganya agar tidak sembarangan menerima "pesanan" untuk menyakiti jiwa manusia. Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan: seseorang harus "Adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan."

Wartawan seharusnya begitu. Sebelum jempol menekan tombol publish, ia harus adil sejak dalam pikiran. Kekuatan membentuk opini publik bukanlah hak istimewa untuk sewenang-wenang.

Di luar urusan citra, wartawan sering kali menjadi tumpuan terakhir. Seperti orang sakit yang sudah putus asa lalu datang ke balian. Ada jalan rusak menahun? Ada warga miskin yang tak tersentuh bantuan? Tuliskan. Begitu berita muncul, biasanya "keajaiban" terjadi. Pemerintah yang tadinya lamban berubah gerak cepat.

Di sinilah wartawan benar-benar menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibungkam. Kesaktian ini jauh lebih mulia daripada sekadar membuat orang jadi pahlawan atau pecundang.

Tujuan akhirnya harus satu: memperbaiki keadaan.

Jika ada pejabat salah, berita menjadi cermin. Jika ada orang difitnah, liputan menjadi penawar. Itulah balian yang benar. Sebab di ujung pena itu, ada nasib dan nyawa orang lain.

Jangan sampai kita hanya menjadi balian kata-kata yang pandai meramu kalimat, tapi mati rasa pada tanggung jawab. Apalagi kalau ujung-ujungnya cuma jadi leak yang minta "sesajen" amplop di balik kegelapan untuk membungkam berita.

Apakah itu benar atau betul?

Menot Sukadana