Bangkit, Bertahan, Menata
“Ketika kita tidak lagi mampu mengubah suatu keadaan, maka kita ditantang untuk mengubah diri kita sendiri.”
Viktor E. Frankl
KUTIPAN itu terasa sederhana ketika dibaca dalam buku. Namun ia berubah menjadi pengalaman ketika hidup benar-benar menempatkan seseorang di sudut yang sempit, saat pilihan terasa terbatas dan keadaan tidak bisa lagi ditawar. Pada titik itulah, kebangkitan tidak datang sebagai sorak, melainkan sebagai keputusan sunyi. Tidak semua kebangkitan lahir dari kemenangan. Sebagian justru tumbuh ketika seseorang dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri dan memilih tetap berdiri meski lutut bergetar.
Tahun 2024 adalah fase semacam itu bagi saya. Sebuah tahun yang menguji bukan dengan keributan, melainkan dengan angka-angka dingin yang menekan batin.
Pada tahun itu, saya harus mengurai sengkarut finansial dengan nilai yang bagi saya nyaris tak masuk akal. Sekitar satu miliar rupiah. Jumlah yang sangat besar bagi saya, seorang pengelola media lokal dengan penghasilan pribadi yang tak terpaut jauh dari upah minimum provinsi Bali. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada ruang untuk mengeluh panjang. Yang tersedia hanya satu pilihan, bertahan.
Syukurnya, persoalan itu dapat saya selesaikan dengan relatif cepat dan lancar. Bukan tanpa tekanan, bukan tanpa kepanikan, tetapi selesai. Proses itu mengajarkan bahwa masalah besar tidak selalu harus dihadapi dengan kegaduhan. Kadang ia justru selesai karena kita mau duduk tenang, jujur pada diri sendiri, dan berani mengambil keputusan yang tidak populer, termasuk mengakui kesalahan sendiri.
Sering kali, untuk menutupi kegamangan yang menyertai proses itu, kondisi tersebut saya jadikan gurauan. Tidak membuat tumbang, tapi membuat sangat pening. Kalimat itu saya ulang-ulang, seolah ingin meyakinkan diri sendiri bahwa saya masih berdiri. Bahwa saya belum runtuh. Padahal di balik tawa ringan tersebut, ada malam-malam panjang berisi hitung-hitungan, doa-doa pendek, dan kesadaran bahwa salah urus keuangan harus ditebus dengan kedewasaan.
Menjelang akhir tahun yang sama, saya kembali masuk ke palagan politik lokal lima-tahunan terbesar di Bali. Sekitar dua bulan yang menguras tenaga dan pikiran. Sebenarnya bukan hal baru. Sejak 2015, saya berulang kali terlibat dalam pusaran serupa. Namun usia dan fase hidup membuat segalanya terasa berbeda. Tubuh masih kuat, tetapi batin mulai meminta jeda.
Usai palagan, saya memilih menepi. Bukan karena kalah, bukan pula karena jenuh, melainkan karena ada kebutuhan untuk duduk diam dan bertanya dengan jujur. Ke mana sesungguhnya saya ingin melangkah. Apa yang hendak saya bangun. Dan untuk apa semua ini dijalani.
Di penghujung 2024, saya mulai menyusun ulang arah media yang saya kelola, PodiumNews. Pertanyaan paling sederhana sekaligus paling mendasar pun muncul. Mau dibawa ke mana media ini. Dari permenungan itulah lahir gagasan tentang Podium Ecosystem. Sebuah konsep jangka panjang yang saya bayangkan berjalan lima-tahunan, layaknya perencanaan pembangunan, tetapi dalam versi kehidupan pribadi dan usaha.
Awal 2025 menjadi fase bekerja sunyi. Membenahi manajemen, merekrut karyawan baru, serta merapikan struktur kerja. Di sela-sela itu, saya mulai menyiapkan bahan untuk tiga buku yang rencananya terbit pada awal 2026. Semua berjalan pelan. Tidak tergesa. Namun dengan kesadaran bahwa fondasi sedang dibangun.
Saya semakin percaya bahwa semakin tinggi bangunan yang ingin ditegakkan, semakin dalam dan kokoh pondasinya harus dibuat. Begitu pula hidup. Dua tahun ke depan, 2025 hingga 2026, saya niatkan sebagai masa menanam. Masa memperkuat dasar. Bukan untuk cepat terlihat berhasil, tetapi agar kelak tidak mudah roboh ketika angin datang.
Bangunan yang sedang saya susun ini saya harapkan memiliki daya-tahan. Bukan semata demi keberlanjutan usaha, tetapi agar kehadirannya kelak memberi dampak. Setidaknya bagi lingkaran terdekat. Bagi komunitas kecil di sekitarnya. Semangat yang dulu mendorong saya mendirikan dan mengelola berbagai organisasi media dan wartawan sejak 2015 hingga 2022 ingin saya hidupkan kembali, kali ini melalui usaha yang saya rawat sendiri.
Itulah sebabnya, dalam konsep Kedai Kopi Redaksi yang saya rancang sebagai kebun, saya sertakan ruang baca dan buku-buku. Bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang belajar. Tempat melatih literasi generasi muda. Tempat orang datang tidak hanya untuk duduk, tetapi juga untuk tumbuh.
Pengalaman sakit finansial membuat saya memilih jalan yang mungkin lebih berat di awal. Menggunakan sumber-daya sendiri. Aset sendiri. Modal sendiri. Padahal sebagai jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun, tawaran bantuan kerap datang tanpa diminta. Namun kali ini, saya ingin menguji daya-tahan dengan berdiri di atas kaki sendiri. Setidaknya sampai saya benar-benar memahami batas kemampuan dan kekuatan saya.
Semua ini saya pandang sebagai persiapan menuju masa wanaprasta. Masa menepi. Ketika kelak usia melewati kepala lima, saya ingin pulang ke kampung dengan hidup yang lebih matang. Bukan hanya cukup secara materi, tetapi jernih dalam prinsip.
Dalam perjalanan liputan setahun terakhir, saya dan ES kerap tanpa sengaja mendiskusikan soal prinsip-prinsip kerja. Percakapan-percakapan itu mengalir begitu saja, di sela tugas dan perjalanan, tanpa forum resmi, tanpa niat menggurui. Salah satu prinsip yang paling sering saya ceritakan kepadanya adalah tentang cenik lantang. Prinsip untuk merasa cukup meski hasil sedikit, selama kepercayaan tetap terjaga. Karena dari kepercayaan itulah hubungan dapat berumur panjang.
Kami juga belajar menentukan batas. Di mana bisa berkompromi. Di mana harus tegas. Karena tidak semua rezeki layak diambil dengan mengorbankan nilai. Hidup, bagi saya, bukan tentang menghalalkan segala cara, melainkan tentang berjalan dengan kepala tegak meski langkah tidak selalu cepat.
Kini saya belajar menerima bahwa bangkit tidak selalu berarti meloncat tinggi. Kadang ia hanya berarti tidak menyerah. Bertahan pun bukan sekadar menunggu, melainkan menata dengan sabar. Dan menata bukan soal ambisi, melainkan kesiapan menjalani hidup yang lebih jujur, lebih cukup, dan lebih bermakna. (*)
Menot Sukadana