Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Tahun Baru, Harapan dan Jejak Kolonialisme

Oleh Nyoman Sukadana • 01 Januari 2026 • 09:48:00 WITA

Tahun Baru, Harapan dan Jejak Kolonialisme
Menot Sukadana (dok/pribadi)

SETIAP kali kalender Masehi mendekati lembar terakhirnya, dunia seolah terjebak dalam sebuah kegelisahan yang kolektif sekaligus puitis. Di kota-kota besar hingga pelosok desa, orang-orang bersiap menyambut detik yang dianggap sebagai garis start baru. Kita sering lupa bahwa angka-angka tahun ini seperti 1511, 1945, hingga kini 2026 hanyalah konstruksi manusia untuk menjinakkan waktu yang tak bertepi. Namun, di balik angka-angka itu, ada satu denyut nadi yang tidak pernah berubah yakni Harapan.

Filsuf eksistensialis asal Prancis, Albert Camus, pernah menulis dalam esainya yang terkenal, "Di tengah musim dingin, akhirnya aku belajar bahwa di dalam diriku ada musim panas yang tak terkalahkan." Kalimat ini adalah personifikasi dari harapan. Tahun baru bukanlah sekadar pergantian angka, melainkan manifestasi dari musim panas dalam jiwa manusia yang menolak untuk menyerah pada dinginnya keputusasaan.

Sistem Masehi yang kita gunakan saat ini memang sebuah produk sejarah yang berkelindan dengan kolonialisme. Ia tiba di Nusantara melalui lambung kapal-kapal kayu bangsa Eropa, terutama Belanda, yang selama berabad-abad menanamkan pengaruhnya. Namun, sebelum sistem ini mendominasi, tanah air kita adalah mosaik dari berbagai konsep waktu. Masyarakat Bali dengan Tahun Baru Saka-nya mengajarkan kita tentang Catur Brata Penyepian. Di sana, harapan tidak dirayakan dengan ledakan kembang api, melainkan dengan keheningan total. Di Tiongkok, Imlek hadir dengan simbolisme pembersihan diri. Di Jazirah Arab, Tahun Baru Hijriah mengingatkan pada konsep hijrah yakni perpindahan fisik dan spiritual menuju kondisi yang lebih baik.

Benang merah dari semua tradisi ini adalah pengakuan manusia atas keterbatasannya. Kita menciptakan batas awal dan akhir karena kita butuh titik jeda. Sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, harapan adalah mimpi dari mereka yang terjaga. Kita menciptakan tahun baru agar mimpi-mimpi kita tetap terjaga dan tidak larut dalam rutinitas yang menjemukan.

Jika kita menengok ke belakang, peradaban modern hari ini dibentuk oleh ledakan harapan yang terjadi pada era penjelajahan samudra. Mari kita bayangkan wajah Christopher Columbus saat menatap cakrawala Atlantik, atau keberanian Ferdinand Magellan dan Juan Sebastian Elcano saat memimpin armada mengelilingi dunia untuk pertama kalinya. Kala itu, samudra bukan sekadar air yang luas, melainkan neraka yang penuh dengan mitos monster laut. Namun, apa yang membuat mereka berani berlayar menembus badai? Itu adalah harapan akan sebuah Terra Incognita atau dunia baru yang menjanjikan kemakmuran.

Tokoh seperti Vasco da Gama tidak hanya didorong oleh keinginan mencari rempah-rempah semata. Secara filosofis, penjelajahan mereka adalah upaya manusia untuk membuktikan bahwa batas dunia tidaklah berhenti di ufuk yang terlihat. Mereka memecahkan mitos dengan keberanian yang lahir dari harapan. Sayangnya, bagi kita di Nusantara, Tanah Harapan yang mereka cari justru menjadi awal dari jejak kolonialisme yang panjang. Namun, di sini lah dialektika sejarah bekerja.

Penderitaan akibat kolonialisme yang berlangsung berabad-abad seharusnya cukup untuk memadamkan semangat bangsa manapun. Namun, Indonesia membuktikan kebenaran teori Friedrich Nietzsche tentang Will to Power atau Kehendak untuk Berkuasa. Bagi Nietzsche, dorongan terdalam manusia bukanlah sekadar untuk bertahan hidup, melainkan kehendak untuk tumbuh, menaklukkan hambatan, dan melampaui keterbatasan diri sendiri. Para pahlawan kita tidak hanya ingin bertahan di bawah penindasan, mereka memiliki kehendak besar untuk menguasai nasib mereka sendiri.

Kita melihat manifestasi Will to Power ini pada sosok Pangeran Diponegoro yang teguh melawan penjajahan dalam Perang Jawa, hingga Cut Nyak Dhien yang tak gentar memimpin gerilya di rimba Aceh. Mereka menolak menjadi objek yang lemah dan memilih menjadi subjek yang menciptakan nilai kemerdekaannya sendiri. Bayangkan Soekarno atau Mohammad Hatta saat mendekam di pengasingan yang sunyi dan lembap di Boven Digul atau Pulau Bangka. Secara logika, hampir tidak ada peluang bagi sebuah bangsa yang tanpa senjata modern untuk mengusir kekuatan imperialis besar.

Namun, harapan bekerja seperti mantra. Sebagaimana yang diucapkan Bung Karno, gantungkan cita-citamu setinggi langit, karena jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang. Para pejuang seperti Jenderal Besar Raden Soedirman membuktikan bahwa harapan adalah satu-satunya senjata yang tidak bisa disita oleh penjajah. Mereka membayar harapan itu dengan darah dan nyawa demi terwujudnya negeri yang adil, makmur, dan berdaulat.

Memasuki abad ke-18 dan 19, harapan manusia juga bergeser ke arah kemajuan ilmu pengetahuan. Penemuan mesin uap oleh James Watt atau teori gravitasi oleh Isaac Newton lahir dari harapan bahwa manusia bisa memahami hukum alam untuk mempermudah hidup. Harapan pulalah yang mendorong Louis Pasteur menemukan vaksin atau Thomas Alva Edison menerangi dunia dengan bola lampunya. Dalam konteks ini, harapan bukan lagi sekadar angan-angan kosong, melainkan sebuah dorongan intelektual untuk membentuk nasib melalui teknologi.

Namun, di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa hingga tahun 2026 ini, kita tetap kembali pada pertanyaan kuno: Apakah kita masih punya harapan yang tulus? Di era kecerdasan buatan dan eksplorasi ruang angkasa, tantangan kita bukan lagi naga di lautan, melainkan kekosongan jiwa di tengah keramaian informasi.

Kembali ke momen pergantian tahun ini. Setiap resolusi yang kita tulis adalah sebuah pengakuan bahwa kita belum puas dengan diri kita yang sekarang. Keinginan untuk berubah adalah tanda bahwa jiwa kita masih hidup. Harapan adalah kompas yang tidak pernah salah arah. Ia adalah jeda yang memberi kita napas untuk kembali berlari. Sejarah telah mengajarkan bahwa dari harapan lah sebuah peradaban dibangun oleh para penemu dan pahlawan, dan dari harapan pulalah hidup Anda akan bermakna.

Semoga di tahun 2026 ini, harapan Anda bukan sekadar menjadi catatan di kertas, melainkan menjadi api yang membakar semangat untuk menaklukkan samudra kehidupan Anda masing-masing. (*)

Menot Sukadana