Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jalan Pulang

Oleh Nyoman Sukadana • 02 Januari 2026 • 13:59:00 WITA

Jalan Pulang
Menot Sukadana (dok/pribadi)

BANYAK orang memandang hidup sebagai perjalanan ke depan. Kita didorong untuk terus bergerak, mengejar sesuatu yang dianggap lebih baik dari hari ini. Dalam cara pandang itu, masa depan menjadi tujuan utama, sementara hari ini sering kali hanya persinggahan.

Namun, seiring waktu, saya mulai melihat hidup secara berbeda. Hidup tidak selalu bergerak lurus. Ada saatnya ia berputar dan membawa kita kembali ke tempat semula. Dalam kebudayaan kita, kesadaran ini dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Sebuah pemahaman bahwa hidup bermula dari asal, dan pada akhirnya kembali ke asal.

Kesadaran ini mengingatkan saya pada baris T.S. Eliot dalam sajak Little Gidding. Ia menulis bahwa akhir dari seluruh penjelajahan adalah tiba kembali di tempat kita bermula, lalu mengenalnya untuk pertama kali. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi tepat menggambarkan banyak pengalaman hidup. Banyak hal yang kita kejar jauh-jauh ternyata membawa kita kembali pada nilai-nilai dasar yang dulu dianggap biasa.

Mengambil jeda sering dipahami sebagai berhenti. Padahal, jeda bisa berarti memilih. Memilih untuk tidak terus mengikuti irama yang ditentukan oleh luar diri. Dalam pemikiran Martin Heidegger, manusia yang berani menyadari keterbatasan waktunya justru memiliki kesempatan untuk hidup lebih otentik. Dengan menerima bahwa waktu terbatas, kita berhenti sibuk pada hal-hal kecil yang menyita energi tanpa memberi makna.

Menepi, dalam pengertian ini, bukan kekalahan. Ia adalah cara menjaga kewarasan. Tidak semua hal perlu dikejar. Tidak semua kesempatan harus diambil. Ada saatnya hidup perlu diringankan agar langkah tidak terbebani.

Kesederhanaan kemudian terasa cukup. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kebiasaan. Di sini, saya teringat pesan Lao Tzu dalam Tao Te Ching tentang pentingnya kesederhanaan dan kesabaran. Bahwa hidup yang selaras bukanlah hidup yang penuh ambisi, melainkan hidup yang tahu kapan bergerak dan kapan diam.

Dalam praktik sehari-hari, ini berarti memberi waktu pada proses. Tidak tergesa meminta hasil. Menyadari bahwa banyak hal hanya bisa tumbuh jika diberi ruang. Seperti akar yang bekerja dalam diam, tanpa sorak dan tanpa janji instan.

Kesadaran ini relevan juga dalam kerja-kerja literasi dan media. Media tidak selalu harus cepat dan riuh. Ada saatnya ia hadir sebagai ruang tenang. Ruang untuk membaca tanpa distraksi, berpikir tanpa tekanan, dan menimbang tanpa dorongan untuk segera bereaksi. Bukan untuk menolak perubahan, tetapi untuk menjaga agar perubahan tidak menghilangkan arah.

Ruang-ruang kecil seperti tulisan, percakapan, dan secangkir kopi sering kali menjadi tempat paling jujur untuk mengambil jeda. Di sana, orang tidak sedang membangun citra atau mengejar apa-apa. Hanya memberi waktu pada diri sendiri.

Pada satu fase kehidupan, ukuran keberhasilan pun berubah. Bukan lagi tentang seberapa jauh melangkah, melainkan seberapa tenang menjalani hari. Rasa cukup tidak datang dari pencapaian besar, tetapi dari kemampuan berhenti ketika perlu.

Hidup, pada akhirnya, membawa kita kembali. Ke hal-hal yang mendasar. Ke asal yang sederhana. Mungkin di sanalah makna perjalanan panjang ini berada.

Saya tidak sedang berlari.
Saya sedang berjalan pulang.

Bukan untuk sampai lebih cepat, tetapi agar langkah tetap jernih dan arah tidak kehilangan makna. (*)

Menot Sukadana