Podiumnews.com / Kolom / Opini

Wartawan Paripurna: Penghidupan Menjadi Jalan Hidup

Oleh Nyoman Sukadana • 03 Januari 2026 • 18:51:00 WITA

Wartawan Paripurna: Penghidupan Menjadi Jalan Hidup
Menot Sukadana (dok/pribadi)

BAGI sebagian besar orang, jurnalisme hanyalah sebuah pekerjaan yang dijalani sambil lalu sebelum kaki melangkah ke karier yang dianggap lebih menjanjikan secara finansial atau posisi sosial. Bagi sebagian lainnya, ia adalah panggilan yang datang dan pergi mengikuti dinamika kepentingan zaman. Namun bagi sedikit orang, jurnalisme adalah sesuatu yang menetap di dalam sumsum tulang; ia menjadi sumber penghidupan sekaligus jalan hidup yang melampaui sekadar keterampilan teknis menulis berita. Kehadiran wartawan jenis ini membawa kita pada pertanyaan mendalam mengenai apa yang membuat seseorang mencapai derajat paripurna dalam sebuah profesi yang penuh dengan tekanan, godaan, dan keletihan moral yang nyaris tanpa jeda.

Jawabannya dimulai dari sebuah fondasi pemikiran yang diletakkan oleh Andreas Harsono dalam bukunya yang berjudul Agama Saya Adalah Jurnalisme. Di sana, jurnalisme dipahami bukan sebagai profesi netral yang kering, melainkan sebagai sebuah laku atau praxis yang menuntut kesetiaan tunggal pada kebenaran. Kata agama di sana tidak dimaksudkan sebagai doktrin dogmatis, melainkan sebagai sebuah kompas moral yang memberikan arah, membatasi perilaku, sekaligus menuntut kejujuran paling sunyi pada diri sendiri sebagai hukum tertinggi. Dari titik inilah sosok wartawan paripurna lahir. Ia adalah pribadi yang telah tuntas dengan konflik batin utamanya dan tidak lagi terjebak dalam tarik-menarik yang melelahkan antara idealisme moral dan tuntutan kebutuhan perut. Keduanya telah menemukan tempatnya masing-masing dalam harmoni yang tenang.

Pencapaian ini selaras dengan konsep Eudaimonia yang ditawarkan oleh Aristoteles dalam etika kebajikannya. Wartawan paripurna tidak mengejar kesenangan sesaat atau popularitas yang meledak-ledak di media sosial. Ia mencari kebahagiaan melalui perkembangan jiwa yang selaras dengan kebajikan dan kesadaran penuh. Ini adalah kondisi di mana ia tahu kapan harus mengejar berita dengan gigih dan kapan harus berhenti demi menjaga kewarasan nuraninya. Hidupnya adalah hidup yang tertata, sebuah proses perkembangan jiwa yang tidak lagi diperbudak oleh ambisi buta atau keinginan untuk sekadar tampil di permukaan.

Namun, jalan menuju kematangan itu tidak pernah mudah. Pada fase awal kariernya, seorang wartawan sering kali terjebak dalam apa yang dikritik oleh Hannah Arendt sebagai ketimpangan Vita Activa atau kehidupan aktif. Ia terlalu sibuk dalam kesibukan bekerja yang bersifat mekanis (labor) dan memburu tenggat waktu (deadline), hingga kehilangan ruang kontemplasi yang sangat berharga. Hidupnya hanya berisi reaksi cepat terhadap setiap peristiwa tanpa sempat mencerna maknanya secara mendalam. Inilah yang melahirkan keletihan moral yang khas; sebuah situasi di mana mata terus-menerus melihat ketidakadilan, namun batin kehilangan waktu untuk berefleksi. Banyak wartawan bertahan dalam kondisi ini, namun tidak semuanya berhasil keluar dengan jiwa yang tetap utuh.

Wartawan paripurna berhasil melampaui fase tersebut dengan merengkuh kemandirian yang hakiki. Ia mempraktikkan otonomi moral ala Immanuel Kant, di mana tindakannya didasarkan pada hukum nurani yang ia berikan pada dirinya sendiri melalui nalar, bukan karena perintah atasan atau tekanan narasumber yang memiliki kuasa. Kemandirian ekonomi baginya adalah alat vital untuk menjaga otonomi ini. Ia bekerja keras agar tidak mudah ditekan oleh kepentingan pihak mana pun, memastikan bahwa jurnalisme tetap menjadi sumber penghidupan yang sah dan bukan alat tawar-menawar kepentingan politik maupun bisnis.

Dalam bekerja sehari-hari, ia menerapkan prinsip Wu Wei dari pemikiran Laozi. Ia bertindak tanpa paksaan dan bergerak tanpa beban keterikatan yang berlebihan pada hasil materi. Kebebasan batin ini secara otomatis mengubah cara kerjanya di lapangan. Ia tidak lagi terobsesi menjadi yang paling cepat jika itu berarti harus mengorbankan ketepatan fakta, karena ia tahu bahwa kepercayaan publik adalah sebuah bangunan yang disusun dengan bata kejujuran yang diletakkan perlahan. Ia memahami bahwa kebenaran bukan sekadar tumpukan fakta mentah, melainkan sebuah tanggung jawab besar atas konteks dan dampak yang ditimbulkan.

Sebagai bagian integral dari masyarakat, ia menolak untuk menjadi penghuni menara gading yang asing dan dingin. Ia adalah perwujudan dari intelektual organik dalam kerangka berpikir Antonio Gramsci; seorang pemikir yang hidup, bernapas, dan menyuarakan kegelisahan kelas sosialnya secara aktif. Ia tidak lagi memandang narasumber sebagai objek liputan semata, melainkan sebagai subjek yang setara. Ia memilih untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara, menyadari bahwa banyak kebenaran justru tersembunyi dalam pengalaman sehari-hari rakyat jelata, bukan pada podium resmi para penguasa yang penuh dengan citra.

Kesadaran sosial ini membuatnya selalu waspada terhadap relasi kuasa atau power-knowledge yang dipetakan oleh Michel Foucault. Ia paham benar bahwa setiap informasi yang ia tulis memiliki potensi untuk menjadi alat kekuasaan. Maka, tugas utamanya bukan sekadar menyampaikan fakta apa adanya, melainkan menjaga agar pengetahuan tersebut tidak diselewengkan untuk menindas pihak yang lemah. Ia bersikap skeptis terhadap segala bentuk otoritas, termasuk terhadap otoritas dirinya sendiri sebagai pemilik pena yang memiliki kuasa membentuk opini publik.

Pada akhirnya, seiring dengan memutihnya rambut dan bertambahnya pengalaman, orientasi sang wartawan bergeser dari hiruk-pikuk sorotan menuju kesunyian yang bermakna. Mengikuti prinsip logoterapi dari Viktor Frankl, ia telah menemukan makna hidup yang melampaui sekadar pujian atau penghargaan formal. Ia bekerja karena ia tahu benar mengapa ia harus bekerja. Ia mewariskan nilai-nilai jurnalisme kepada generasi muda bukan melalui retorika yang berapi-api, melainkan melalui teladan hidup yang utuh dan konsisten.

Wartawan paripurna adalah mereka yang di akhir perjalanannya mampu melihat ke belakang tanpa rasa penyesalan yang besar. Ia mungkin tidak selalu benar dalam setiap keputusannya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak pernah mengkhianati nuraninya sendiri demi keuntungan sesaat. Jurnalisme telah memberinya penghidupan, dan sebagai imbalannya, ia telah memberikan seluruh hidupnya untuk menjaga api kebenaran tetap menyala. Di sanalah, makna paling sederhana dari jurnalisme sebagai jalan hidup akhirnya menemukan muaranya yang paling damai. Ia tidak menganggap profesinya suci, tetapi ia menjalaninya dengan kesungguhan yang tak tergoyahkan. (*)

Menot Sukadana (Jurnalis, Kolumnis & Publisher)