Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Taksu di Ujung Pena

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Januari 2026 • 01:03:00 WITA

Taksu di Ujung Pena
Menot Sukadana (dok/pribadi)

SEBUAH kata bergetar di luar jangkauan kamus, sesuatu yang sering kita sebut dengan takzim: taksu. Ia bukan sekadar bakat, bukan pula sekadar keterampilan teknis yang diasah melalui ribuan jam latihan. Taksu adalah sebuah kehadiran. Ia adalah saat di mana si penari kehilangan dirinya di panggung, dan yang tersisa hanyalah gerak yang ditiupkan oleh sesuatu yang lebih purba dari ingatan manusia.

Bayangkan seorang I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang lebih kita kenal sebagai Putu Wijaya. Ketika ia berdiri di atas panggung Teater Mandiri, atau saat jemarinya menari di atas tuts mesin tik melahirkan "Teror Mental", kita melihat taksu itu bekerja. Ia tidak sedang bercerita, ia sedang menghadirkan sebuah dunia. Plato mungkin akan menyebutnya sebagai theia mania, sebuah kegilaan ilahi yang merasuki penyair sehingga ia melampaui rasionalitasnya sendiri. Putu tak sekadar menulis lakon, ia menghidupkan kegelisahan yang membuat kita terjaga. Di sana, taksu adalah jembatan antara yang fana dan yang kekal.

Namun, benarkah taksu hanya milik mereka yang bergelut dengan gamelan, kuas, atau panggung sandiwara?

Jika kita melangkah keluar dari pura dan galeri, memasuki ruang-ruang redaksi yang bising dan penuh debu, kita akan menemukan bahwa taksu juga bersemayam di sana, di ujung pena yang gelisah. Jurnalisme, pada tingkatannya yang paling paripurna, adalah sebuah kerja kesenian yang menuntut dedikasi yang nyaris religius.

Mari kita sebut nama Mochtar Lubis. Dalam "Harimau Harimau" atau tajuk-tajuk beraninya di Indonesia Raya, kita tidak hanya membaca berita. Kita membaca sebuah integritas yang berdenyut. Ada taksu dalam keberaniannya menghadapi jeruji penjara demi sebuah keyakinan akan kebenaran. Ia seperti apa yang dibayangkan Immanuel Kant sebagai subjek yang memiliki otonomi moral penuh, seorang manusia yang tidak membiarkan hukum di luar dirinya (kekuasaan, uang, ancaman) mendikte hukum di dalam nuraninya.

Atau lihatlah Rosihan Anwar. Ia bukan sekadar wartawan, ia adalah pencatat zaman yang menulis dengan ketajaman seorang pembedah sekaligus kelembutan seorang saksi. Di Bali, kita melihat jejak itu pada sosok-sosok seperti Putu Setia atau almarhum Raka Santeri. Putu Setia, melalui kolom "Cari Angin" yang legendaris, menunjukkan bagaimana jurnalisme bisa menjadi sebuah laku kebudayaan. Ia membedah carut-marut politik dengan gaya jenaka namun tetap menyimpan kedalaman spiritual seorang putra Bali. Tulisan-tulisannya bukan sekadar laporan tentang "who does what", melainkan sebuah upaya untuk menangkap "ruh" dari sebuah peristiwa. Ketika Putu Setia atau Raka Santeri menulis, ada rasa jengah dan cinta yang berkelindan, sebuah taksu yang lahir dari kepedulian mendalam terhadap kemanusiaan dan tanah kelahirannya.

Di sini, benang merah itu mulai tampak jelas. Antara seorang penari yang meliuk di pelataran pura dan seorang jurnalis yang membongkar skandal korupsi di balik meja kayu yang lecet, ada satu titik temu: dedikasi yang melampaui kalkulasi untung-rugi.

Aristoteles menyebutnya Eudaimonia. Ini bukan kebahagiaan karena mendapat pujian atau honorarium yang besar. Ini adalah kebahagiaan yang muncul ketika seseorang berfungsi sesuai dengan kebajikan terbaiknya. Seorang seniman mencapai taksu ketika ia tak lagi memedulikan penonton, seorang jurnalis mencapai taksu ketika ia tak lagi memedulikan "click" atau popularitas semu. Mereka hanya peduli pada satu hal: karya yang jujur.

Namun, jalan menuju taksu adalah jalan yang sunyi dan penuh penderitaan. Hannah Arendt pernah mengingatkan kita tentang bahaya vita activa yang tanpa jeda, kehidupan yang hanya berisi kerja mekanis tanpa kontemplasi. Banyak jurnalis saat ini kehilangan taksu-nya karena mereka hanya menjadi "buruh informasi". Mereka mengejar kecepatan, namun kehilangan makna. Mereka menulis ribuan kata, namun tak satu pun yang mampu menggetarkan nurani pembaca. Mereka kehilangan "api".

Taksu menuntut sesuatu yang lebih, ia menuntut cinta yang obsesif. Martin Heidegger mungkin akan menyebutnya sebagai Sorge atau "kepedulian". Tanpa kepedulian yang mendalam terhadap kemanusiaan, seorang wartawan hanya akan menghasilkan tumpukan kertas yang esoknya akan dipakai membungkus kacang. Namun, jurnalis yang memiliki taksu, seperti Goenawan Mohamad dengan "Catatan Pinggir"-nya atau jurnalis lokal yang gigih membela hak tanah petani di pelosok Bali, akan menghasilkan karya yang memiliki "dampak".

Dampak ini bukan berarti harus segera terjadi revolusi di jalanan. Dampak dari taksu bisa jadi lebih halus, sebuah pergeseran kesadaran, sebuah keraguan yang muncul di benak penguasa, atau setetes harapan bagi mereka yang tertindas. Seperti tarikan garis pada kanvas-kanvas almarhum Nyoman Gunarsa yang hingga kini masih mampu membuat kita terdiam dalam kagum, sebuah laporan investigasi yang ditulis dengan taksu mampu membuat sebuah bangsa merenungi kembali arah perjalanannya.

Karya yang memiliki taksu adalah karya yang "ber-ruh". Ia tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari pertautan antara intelektualitas yang tajam dan kepekaan rasa yang halus. Ia adalah hasil dari apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai "intelektual organik", mereka yang tidak berjarak dengan penderitaan rakyatnya, namun memiliki alat analisis untuk menjelaskan mengapa penderitaan itu terjadi.

Pada akhirnya, taksu adalah sebuah pengabdian. Bagi seniman Bali, ia adalah persembahan (ngayah) kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Bagi jurnalis, ia adalah persembahan kepada publik dan kebenaran. Keduanya adalah jalan sunyi yang menuntut kesetiaan tunggal.

Seringkali kita bertanya, di manakah taksu itu kini? Di tengah deru digitalisasi yang mendewakan algoritma, taksu tampaknya mulai memudar. Kita lebih sering melihat kemasan daripada isi, lebih sering melihat citra daripada integritas. Namun, selama masih ada seorang wartawan yang berani berkata "tidak" pada amplop narasumber demi menjaga kesucian tulisannya, dan selama masih ada seniman yang menari di pura desa tanpa peduli apakah ada turis yang memotretnya atau tidak, maka taksu itu masih ada.

Ia tersimpan dalam setiap tetes keringat dedikasi. Ia bersembunyi di sela-sela kalimat yang disusun dengan penuh tanggung jawab. Ia adalah api yang kecil, namun cukup untuk menerangi kegelapan nurani sebuah bangsa.

Mungkin, taksu adalah cara kita untuk tetap menjadi manusia di dunia yang kian mekanis ini. Sebab pada akhirnya, yang akan diingat sejarah bukanlah seberapa kaya kita, melainkan seberapa besar "ruh" yang kita tinggalkan dalam setiap karya yang kita buat. Jurnalisme tanpa taksu adalah berita tanpa nyawa. Seni tanpa taksu adalah raga tanpa sukma. Dan kehidupan tanpa keduanya adalah sebuah perjalanan yang hambar menuju ketiadaan. (*)

Menot Sukadana