Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Media Tumbuh

Oleh Nyoman Sukadana • 23 Januari 2026 • 20:36:00 WITA

Media Tumbuh
Menot Sukadana (dok/pribadi)

SETELAH tubuh kembali pulih dari sakit dan jeda tiga minggu terasa cukup untuk merapikan napas, saya menepati janji yang sempat tertunda. Sebuah ajakan ngopi dengan seorang kawan lama dari Tabanan. Kami bertemu di tempat yang sudah akrab sejak lama, sebuah kedai kopi legendaris yang berdiri puluhan tahun, tanpa sekat ruangan, menyerupai bale banjar. Meja-mejanya sederhana, mirip bangku sekolah dasar, namun selalu ramai, bahkan oleh anak-anak muda generasi Z.

Kawan saya ini mantan wartawan media nasional. Pernah lama bergulat di ruang redaksi majalah berita besar, kini menjalani peran ganda. Mengelola media online sembari mengajar sebagai dosen di salah satu kampus negeri di Singaraja, Bali Utara. Kami sama-sama datang tanpa agenda resmi. Hanya ingin berbincang, menukar kabar, dan mengingat kembali mengapa dulu memilih jalan sunyi bernama jurnalisme.

Sore yang basah oleh hujan deras dan angin kencang itu berubah menjadi perbincangan panjang. Lima jam lebih kami duduk. Dari pukul lima sore hingga hampir setengah sebelas malam. Obrolan mengalir dari jurnalisme, pers, dunia buku, hingga tokoh-tokoh pemikir yang membentuk cara pandang kami hari ini. Barangkali karena disatukan oleh minat yang sama, waktu terasa seperti lupa bergerak.

Di tengah percakapan itulah, satu topik membuat saya terdiam sejenak. Ia menyoal istilah yang selama ini kerap saya gunakan. Media UMKM. Menurutnya, istilah itu kurang tepat, bahkan cenderung merugikan posisi media secara simbolik. Terasa mengecilkan peran media sebagai lembaga sosial, sekaligus mengesankan ketidakprofesionalan dalam menjalankan mandatnya.

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya mengikuti berbagai fellowship jurnalisme. Di sana, kata dia, hampir semua peserta menyebut medianya sebagai media startup. Dalam dunia digital dan industri kreatif, istilah UMKM nyaris tidak dipakai untuk menyebut media. Yang ada adalah media rintisan. Media yang sedang membangun, bereksperimen, dan mencari bentuk.

Saya tidak membantah. Saya paham maksudnya. Namun saya menjelaskan alasan di balik pilihan istilah itu. Secara faktual, sebagian besar media online lokal memang berada pada skala usaha mikro, kecil, atau menengah. Modal terbatas, pendapatan minim, aset sederhana. Realitas ini tidak bisa dipungkiri.

Hanya saja, ada satu hal yang tidak sempat saya sampaikan sejak awal. Penggunaan istilah UMKM selama ini lebih saya tempatkan sebagai strategi politis. Sebuah cara agar pemerintah daerah melihat media online lokal sebagai entitas usaha yang patut dibela. Di Bali, kebijakan dan program pemerintah sangat berpihak pada UMKM. Sementara media online lokal hari ini hidup di tengah disrupsi besar. Ekonomi digital dikuasai korporasi global. Platform raksasa menyedot sebagian besar kue iklan. Ketidakadilan sistem membuat media lokal bertahan nyaris hanya dari kerja sama publikasi pemerintah daerah.

Namun, saya juga sepakat dengan catatannya tentang batasan. Istilah media startup, menurut saya, hanya tepat untuk media yang berusia nol hingga lima tahun. Dalam logika bisnis, lima tahun adalah fase krusial. Sebuah usaha seharusnya sudah mencapai titik balik modal dan mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan. Jika di tahun kelima belum ada perubahan signifikan, maka ada yang perlu dievaluasi secara serius.

Salah satu tanda yang paling mudah dibaca adalah ketika sebuah media masih dijalankan dengan pola one man show. Pemilik merangkap pemimpin redaksi, wartawan, editor, pengelola media sosial, sekaligus marketing dan administrasi. Itu bukan romantisme perjuangan. Itu tanda bisnis yang tidak sehat. Media hari ini, suka atau tidak, adalah industri. Ia tetap lembaga pers, tetapi juga entitas bisnis yang menuntut manajemen yang waras.

Di titik itu saya bertanya, setengah retoris. Lalu bagaimana dengan media yang usianya sudah melewati enam tahun. Media yang tidak lagi pantas disebut rintisan, tetapi juga tidak bisa disamakan dengan media besar. PodiumNews, misalnya. Istilah apa yang tepat.

Dari situlah muncul gagasan tentang media tumbuh. Saya meminjamnya dari konsep rumah tumbuh dalam bidang arsitektur dan perumahan. Sebuah rumah yang dibangun bertahap, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan fase hidup penghuninya, namun sejak awal dirancang dengan fondasi dan arah pengembangan yang jelas. Dalam istilah lain, saya menyebutnya media growth.

Namun, tidak semua media yang berumur di atas lima tahun layak disebut media tumbuh. Ia hanya pantas disematkan pada media yang menunjukkan pertumbuhan sehat. Memiliki manajemen yang jelas, arah bisnis yang terbaca, dan rencana pengembangan yang realistis. Setidaknya telah berani mengembangkan satu lini usaha berbasis media, dengan core business tetap jurnalisme.

Media online berada di ranah digital dan industri kreatif. Itu artinya, ia dituntut untuk terus bereksperimen. Tidak hanya pada konten, tetapi juga pada model usaha. Dari titik itulah PodiumNews mulai membangun sistem yang lebih terpadu. Dengan belajar dari sejumlah media seperti Mojok, Tatkala, dan BaleBengong, lalu mempraktikkan pola Amati, Tiru, Modifikasi (ATM), lahirlah gagasan Micro Multi-Unit Media. Sebuah model bisnis ramping dengan jurnalisme sebagai inti, dan ekosistem sebagai penguat.

Laboratorium kecil itu kini bernama Podium Ecosystem. Di dalamnya ada PodiumNews, UrbanBali, Podium Kreatif, dan Kedai Kopi Redaksi. Semua dirangkai bertahap. Dari pembenahan visual dan infrastruktur digital, hingga menyiapkan aset fisik berupa kantor dan lahan. Pelan, tidak tergesa, tetapi berarah.

Kawan saya lalu menunjukkan rencana-rencana pengembangan medianya lewat layar ponsel. Produk jurnalisme investigasi yang tengah ia siapkan, meski usia medianya baru dua tahun. Waktu berjalan tanpa terasa. Seorang pelayan akhirnya mengingatkan bahwa kedai akan segera tutup. Di luar, hujan masih turun dengan angin yang kencang.

Kami pun beranjak pulang. Membawa satu kesimpulan sunyi. Bahwa media tidak selalu harus besar untuk bermakna. Ia cukup tumbuh. Dengan arah, dengan kesadaran, dan dengan kesabaran. (*)

Menot Sukadana