Belajar Menjadi
KOTA bergerak tanpa bertanya apakah ia perlu bergerak. Di Denpasar, kendaraan merayap pelan, klakson bersahutan, dan manusia di dalamnya ikut bergerak karena takut tertinggal. Tidak ada yang benar-benar tahu ke mana semua ini hendak pergi, tetapi semua tetap berjalan.
Saya duduk di sebuah kedai kopi di sudut kota itu, cukup lama untuk menyadari bahwa yang bergerak bukan hanya mesin. Wajah-wajah di balik kemudi mobil keluaran terbaru tampak tegang. Usia mereka sebaya saya. Kepala empat menuju lima. Mereka tampak sampai, tetapi seperti belum tiba.
Kemapanan mudah dikenali dari luar. Pakaian rapi. Jam tangan mahal. Ponsel yang selalu dalam jangkauan. Yang sulit disembunyikan justru kegelisahan. Tatapan itu seperti berjaga terus-menerus, seolah sesuatu bisa runtuh jika lengah sedikit saja. Padahal sering kali yang dijaga bukan hidup itu sendiri, melainkan bayangan tentang hidup yang seharusnya.
Saya tidak menempatkan diri di luar pemandangan itu. Saya pernah berada di dalamnya. Dunia memang mengajarkan kita untuk bergerak dan memiliki, pelan-pelan, tanpa suara. Mula-mula sebagai kebutuhan, lalu sebagai ukuran diri. Kita belajar mengenali keberhasilan dari apa yang bisa ditunjukkan, bukan dari apa yang sungguh dihayati.
Di Bali hari ini, pola itu terasa semakin jelas. Tanah berubah menjadi tanda kemenangan. Rumah menjadi pernyataan. Jabatan dijaga lebih keras daripada dijalani. Semua bergerak dalam satu arah yang sama, tanpa banyak bertanya apakah arah itu masih masuk akal.
Benda-benda itu sendiri tidak pernah meminta apa-apa. Mereka hanya ada. Yang gelisah adalah manusia yang menggantungkan seluruh makna hidupnya pada sesuatu yang bisa menyusut, bergeser, dan ditinggalkan. Dari sanalah tekanan bekerja. Tidak selalu tampak, tetapi terus hadir.
Cicilan berjalan berdampingan dengan rasa takut. Hari tua dibayangkan sebagai ancaman. Tubuh dipaksa kuat untuk menopang gengsi, sampai suatu hari ia berhenti bekerja sama.
Ada pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: apakah kita sedang menjalani hidup, atau sekadar mengikuti arus yang tidak pernah kita pilih?
Pertanyaan itu biasanya datang bukan saat kita berada di puncak, melainkan saat kita lelah. Kelelahan ternyata tidak selalu buruk. Ia memaksa kita berhenti berpura-pura. Ia membuat kita menyadari bahwa tidak semua perlombaan perlu dimenangkan, dan tidak semua gerak harus diikuti.
Di titik itu, makna “menjadi” mulai terasa berbeda.
Menjadi tidak menambah apa pun yang bisa dipamerkan. Ia justru mengurangi. Mengurangi dorongan membandingkan. Mengurangi kebutuhan membuktikan. Mengurangi kecemasan yang lahir dari mata orang lain. Dari pengurangan itu, muncul sesuatu yang jarang dirayakan: kejernihan.
Saya melihatnya pada orang-orang yang memilih hidup di pinggiran kota. Pagi hari mereka menyapu halaman sendiri. Siang mengurus tanah atau pekerjaan kecil yang berulang. Sore hari suara upacara kadang terdengar dari kejauhan. Tidak ada yang istimewa, tetapi hidup mereka utuh. Tidak terbelah antara citra dan kenyataan.
Hidup bersahaja bukan berarti berhenti bekerja keras. Ia adalah keputusan untuk tidak lagi menjadikan pengakuan sebagai pusat hidup. Dalam kesederhanaan, manusia memperoleh jarak yang sehat dari dunia. Dari jarak itulah ia bisa bernapas tanpa terburu-buru.
Pada fase Wanaprasta, dunia tidak lagi harus ditaklukkan. Ia cukup dipahami. Ambisi perlahan kehilangan suaranya. Yang tersisa bukan keinginan untuk menang, melainkan kebutuhan untuk jujur pada diri sendiri.
Benda-benda yang kita miliki tidak akan ikut terlalu jauh. Sebagian akan usang. Sebagian hilang. Sebagian lain mungkin diperebutkan. Yang tertinggal hanyalah diri kita, bersama pilihan-pilihan yang pernah kita ambil. Bukan apa yang kita kumpulkan, melainkan apa yang kita hayati.
Belajar menjadi bukan tindakan heroik. Ia tidak gaduh. Ia tidak membutuhkan pengakuan. Ia berjalan pelan, sering kali sendirian, dan karena itu mudah diabaikan. Namun justru di dalam kesunyian itulah manusia kembali merasa hidup.
Di tengah Bali yang semakin bising oleh hasrat memiliki, keberanian untuk menepi sejenak, menarik napas, dan memilih menjadi mungkin adalah bentuk perlawanan paling sederhana.
Pilihan itu tidak memerlukan pengumuman.
Ia cukup dijalani. (*)
Menot Sukadana