Kopi Arak dan Nalar Merdeka
MUNGKIN nalar adalah sejenis kafein yang terlambat. Di Auditorium Saraswati, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Selasa yang sendu itu, kala langit di atas Denpasar menggantung kelabu, nalar itu tidak datang dengan toga yang berat atau dahi yang berkerut. Ia datang dalam selarik kalimat yang meluncur dari bibir Rocky Gerung, santai namun mengandung daya ledak yang liar: "Hidup tidak pasti, asal ada kopi arak."
Ada tawa yang pecah. Ada tepuk tangan yang menggulung. Tapi di balik keriuhan mahasiswa itu, kita seperti sedang menyaksikan sebuah upacara kecil bagi kemerdekaan berpikir. Sebuah pengakuan bahwa di era ketika Artificial Intelligence (AI) menjanjikan kepastian algoritma yang dingin, manusia justru harus pulang ke dalam sesuatu yang pahit, hangat, dan barangkali sedikit goyah.
Kopi, kita tahu, punya riwayat yang panjang dalam membentuk sejarah kepala manusia. Pada abad ke-18 di Paris, di kedai-kedai seperti Café Procope, kopi adalah katalisator yang melahirkan kegelisahan kreatif. Sebelum kopi menjadi minuman harian, Eropa adalah benua yang separuh mabuk oleh bir dan anggur dari pagi hingga malam. Lalu kopi datang. Ia membawa ketajaman yang gelisah. Ia membawa kewaspadaan.
Diderot, Voltaire, dan para ensiklopedis menyesap cairan hitam itu bukan untuk mencari ketenangan, melainkan untuk mencari "jaga". Dalam kepulan uap kopi itu, dogma-dogma monarki dan gereja digugat. Revolusi Prancis mungkin tak akan pernah pecah jika orang-orang Paris tidak terjaga oleh kafein. Kopi adalah minuman Abad Pencerahan, sebuah upaya untuk menarik garis batas yang tegas antara cahaya nalar dan kegelapan takhayul.
Namun, di Denpasar hari itu, kopi tidak berdiri sendiri. Ia bersanding dengan arak.
Ada cerita di baliknya. Sehari sebelumnya, di Jaya Sabha, Rocky duduk bersama Gubernur Wayan Koster. Di sana, di kediaman resmi itu, arak Bali tidak hadir sebagai "dosa" yang disembunyikan di bawah meja. Ia hadir sebagai kawan bagi kopi. Koster, sang gubernur yang menyebut Rocky sebagai "sahabat dalam berpikir", menyuguhkan campuran itu. Ia menyebutnya Irish Coffee versi Bali.
Di sini kita melihat sebuah dialektika yang unik. Jika kopi adalah simbol dari nalar Barat yang analitis, tajam, dan barangkali sedikit angkuh, maka arak adalah spirit yang lokal, hangat, dan merakyat. Arak adalah apa yang oleh orang Bali dipahami sebagai bagian dari ritual, dari laku sosial yang tak terpisahkan dari tanah.
Tapi yang menarik adalah soal takaran. Gubernur Koster mengingatkan bahwa yang penting adalah takaran yang pas. Takaran yang cukup. Di sinilah filsafat bertemu dengan kesehatan, dan logika bertemu dengan kearifan.
Aristoteles pernah bicara tentang phronesis, kebijaksanaan praktis yang menolak ekstrem. Kebenaran tidak berada di kutub yang jauh, melainkan di titik tengah yang presisi. Terlalu banyak kopi atau nalar tanpa arak yang melambangkan rasa serta keberanian hanya akan melahirkan manusia-manusia mesin yang dingin. Kita melihatnya hari ini pada AI: ia pintar, ia presisi, tapi ia tak punya nurani. Ia bisa menghitung jarak bintang, tapi ia tak tahu rasanya rindu atau pedihnya ketidakpastian. AI adalah kopi tanpa gula yang diminum di ruang kedap suara.
Sebaliknya, arak tanpa kopi adalah keberanian yang membabi buta. Ia adalah luapan emosi yang kehilangan kompas. Di sinilah letak pentingnya narasi Rocky. Dengan menyebut "kopi arak", ia seolah ingin memadukan dua kutub dalam jiwa manusia. Ia sedang merayakan Rwa Bhineda, keseimbangan antara yang pahit dan yang hangat, antara logika yang menjaga dan keberanian yang menerjang.
Dalam sejarah filsafat, kita teringat pada Friedrich Nietzsche. Ia pernah bicara tentang pertarungan antara unsur Apollonian dan Dionysian. Apollo adalah dewa cahaya, nalar, dan bentuk. Ia adalah kopi. Dionysus adalah dewa anggur, kegembiraan, dan luapan perasaan. Ia adalah arak. Nietzsche percaya bahwa tragedi Yunani yang agung lahir ketika kedua unsur ini menyatu. Manusia tidak boleh hanya menjadi pengikut nalar yang kaku, tapi juga jangan sampai larut dalam mabuk yang menghancurkan.
Kuliah umum di UNMAS itu menjadi semacam pengingat bahwa di era AI, manusia justru harus mempertahankan aspek paling manusianya: yakni kemampuan untuk merasa tidak pasti. Mesin tidak pernah merasa ragu. Algoritma tidak pernah merasa cemas. Hanya manusia yang bisa merasa cemas, dan dalam kecemasan itu, ia berpikir.
Rocky Gerung, dengan gaya retorika yang seringkali provokatif, sebenarnya sedang mengajak kita untuk kembali menjadi subjek. Ia menyebut hidup ini tidak pasti. Dan memang, kepastian adalah fiksi yang dijual oleh diktator dan mesin. Kebebasan sejati justru lahir dari kemampuan kita memeluk ketidakpastian itu dengan nalar yang terjaga.
Maka, ketika ribuan mahasiswa itu bertepuk tangan, barangkali mereka tidak hanya bertepuk tangan untuk Rocky. Mereka bertepuk tangan untuk sebuah kemungkinan: bahwa di tengah dunia yang kian mekanistik, mereka masih bisa menemukan kehangatan arak dalam nalar mereka, dan ketajaman kopi dalam keberanian mereka.
Di bawah naungan Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, kopi dan arak bukan lagi soal zat kimia. Ia adalah laku kultural. Ia adalah cara kita berkata kepada dunia: cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku terjaga. Aku berani, maka aku ada.
Mungkin benar apa yang tersirat dari percakapan di Jaya Sabha itu. Bahwa nalar yang merdeka adalah nalar yang tahu takaran. Ia tahu kapan harus menjadi tajam dan kapan harus menjadi hangat. Ia tahu kapan harus berdiri di depan podium dan kapan harus duduk melingkar berbagi gelas kearifan lokal.
Pada akhirnya, hidup memang sebuah spekulasi yang panjang. Dan di sebuah auditorium di Denpasar, kita diingatkan bahwa untuk menempuh perjalanan yang tak pasti itu, kita hanya butuh dua hal sederhana: nalar yang tak kunjung tidur, dan keberanian yang tak pernah dingin. (*)
Menot Sukadana