Cerita Media dari Tiga Kota
TAK terasa hampir setahun ini, dalam upaya mematangkan konsep model bisnis media dari project Podium Ecosystem (POST), saya melakukan riset melalui berbagai sumber referensi hingga akhirnya menemukan tiga media dari tiga kota berbeda. Bagai sebuah perjalanan, pengembangan usaha jurnalisme itu membawa saya melintasi tiga penjuru: dari keriuhan Sleman hingga ketenangan pesisir Singaraja, melintasi jantung kota Denpasar yang padat.
Inspirasi ini menjadi fondasi bagi Podium Ecosystem, sebuah visi untuk membangun media yang tidak hanya hidup di ruang siber, tetapi mewujud sebagai pusat interaksi kreatif yang mandiri dan berdampak. Di tiga kota tersebut, saya menemukan bahwa media-media mandiri paling sukses adalah mereka yang menempatkan komunitas sebagai jantung hidupnya. Bagi media ini, komunitas bukan sekadar angka statistik, melainkan manusia nyata yang membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Untuk mendukung itu, mereka menghadirkan rumah bersama yang ramah dan inklusif sebagai tempat menyemai gagasan serta merawat literasi.
Mojok, yang berbasis di Sleman, Yogyakarta, telah lama menjadi anomali yang menyegarkan sejak didirikan pada tahun 2014 oleh Puthut EA. Keberhasilan mereka berakar pada kemampuan membangun ekosistem komunitas yang solid melalui unit bisnis yang mendukung operasional redaksinya. Di bawah manajemen yang diperkuat oleh Irwan Bajang, Mojok menjalankan model bisnis hibrida yang memadukan konten digital dengan ekonomi kreatif.
Mereka membagi aktivitasnya dalam dua ruang yang saling mendukung. Ruang kreatif redaksi mereka menempati sebuah rumah di kawasan perumahan yang tenang untuk menjaga fokus kreasi konten. Sementara itu, di lokasi lain, hadir Mojok Store yang menjadi muara ekonomi komunitas. Tempat ini bukan sekadar gerai; bangunan dua lantai yang hangat dengan struktur Joglo kayu di lantai duanya ini menjadi titik temu di mana pembaca bisa berinteraksi langsung sambil mengapresiasi karya-karya literasi dan merchandise. Di sinilah roda ekonomi komunitas berputar, membuktikan bahwa kemandirian media dapat dicapai melalui dukungan langsung dari ekosistem setianya.
Bergeser ke Bali, kita menemukan BaleBengong di Denpasar Utara yang menempuh jalan serupa sejak tahun 2007. Didirikan oleh pasangan jurnalis Anton Muhajir dan Luh De Suryani, media ini sedari awal dirancang sepenuhnya berbasis pada kekuatan komunitas. Melalui konsep Ruang Komunal yang terbuka dan asri, mereka menyediakan wadah bagi gerakan jurnalisme warga agar menjadi alat advokasi komunitas dalam menyuarakan isu-isu krusial. Model ini memastikan media tetap relevan melalui nilai manfaat dan keterbukaan bagi siapa saja yang ingin belajar.
Di utara Pulau Dewata, Tatkala.co menawarkan wajah lain dari keberlanjutan media berbasis komunitas di Singaraja. Di bawah kepemimpinan Made Adnyana Ole, mereka membangun sebuah oase kreatif yang tenang sebagai pusat kegiatan literasi sejak resmi mengelola narasi budaya setempat. Dengan menghadirkan ruang bagi komunitas sastra untuk pulang, Tatkala menjaga keberlanjutan media melalui pengabdian pada narasi lokal dan pengembangan talenta baru. Ruang yang mereka kelola menjadi mesin produksi pengetahuan yang inklusif, membuktikan bahwa media yang berakar pada komunitas akan selalu memiliki daya tahan.
Ketiga referensi ini menjadi pijakan penting bagi Podium Ecosystem (POST) dalam merumuskan strategi ruang dan keberlanjutan. Terinspirasi dari efisiensi Mojok, kami menempatkan kantor di Dalung sebagai dapur redaksi, yaitu pusat pengolahan gagasan dan produksi konten yang fokus. Sementara itu, lahan di Mengwi akan bertransformasi menjadi Selasar Literasi, sebuah kedai kopi Redaksi dengan konsep kebun yang asri.
Tempat ini akan menjadi wujud fisik dari inklusivitas yang kami cita-citakan; sebuah ruang terbuka bagi publik untuk berdiskusi, melakukan bedah buku, dan belajar literasi di tengah suasana hijau Mengwi. Pada akhirnya, kedaulatan sebuah media ditentukan oleh seberapa kuat akar komunitasnya tertanam dan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh manusia-manusia di dalamnya melalui ruang-ruang temu yang bermartabat. (*)
Menot Sukadana