Cegah Tragedi Lagi
RENTETAN peristiwa tragis yang terjadi di Jembatan Tukad Bangkung bukan sekadar catatan statistik atau kabar duka yang lewat begitu saja. Ia adalah peringatan keras bahwa ruang publik dapat berubah menjadi ruang rawan ketika keselamatan dan kepedulian tidak dijaga secara bersama. Setiap kehilangan nyawa adalah luka kemanusiaan yang seharusnya menggugah nurani semua pihak.
Langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung memperkuat sistem pengamanan melalui kolaborasi lintas sektor patut diapresiasi. Penambahan kamera pengawas, pengamanan fisik, serta koordinasi antarlembaga menunjukkan kehadiran negara dalam melindungi warganya. Upaya ini penting sebagai langkah preventif agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Namun, pengamanan fisik dan teknologi semata tidak cukup bila tidak dibarengi pemahaman yang lebih utuh tentang akar persoalan. Fenomena bunuh diri tidak lahir dari satu sebab. Ia sering kali merupakan akumulasi tekanan psikologis, persoalan sosial, kesepian, serta keterputusan komunikasi di lingkungan terdekat. Karena itu, pencegahan sejati tidak hanya bertumpu pada pagar, kamera, atau penjagaan.
Pendekatan kemanusiaan harus berjalan seiring dengan pengamanan. Edukasi kesehatan mental, penguatan layanan konseling, serta keberanian membuka ruang dialog di tingkat keluarga dan komunitas menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang. Desa, sekolah, tokoh adat, dan institusi sosial perlu dilibatkan untuk membangun budaya saling peduli dan saling menjaga.
Mengembalikan citra Tukad Bangkung sebagai destinasi wisata unggulan tidak semata soal memulihkan wajah pariwisata. Yang lebih mendasar adalah memulihkan rasa aman dan martabat ruang publik itu sendiri. Sebuah tempat wisata yang baik adalah ruang yang membuat setiap orang merasa aman, diterima, dan dihargai sebagai manusia.
Tragedi tidak boleh menjadi rutinitas yang dinormalisasi. Setiap peristiwa harus menjadi pembelajaran kolektif. Upaya pencegahan harus dirawat secara berkelanjutan, tidak berhenti setelah perhatian publik mereda. Keselamatan adalah kerja panjang yang menuntut konsistensi, empati, dan keterlibatan bersama.
Cegah tragedi lagi bukan sekadar seruan moral, melainkan komitmen bersama. Tukad Bangkung harus kembali menjadi ruang harapan, bukan ruang kehilangan. Menjaga kehidupan adalah tanggung jawab semua pihak, tanpa kecuali. (*)