Pariwisata Tanpa Emisi
AMBISI Provinsi Bali untuk mentransformasi diri menjadi episentrum ekonomi hijau melalui akselerasi kendaraan listrik (EV) bukan sekadar mengikuti tren global. Ini adalah langkah strategis yang mengakar kuat pada filosofi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Bali dan PT PLN (Persero), Pulau Dewata sedang merancang ulang cetak biru transportasinya. Fokus utamanya adalah mewujudkan wajah baru pariwisata yang benar-benar bersih dan bebas polusi.
Langkah Gubernur Wayan Koster memprioritaskan kendaraan berbasis baterai adalah jawaban konkret untuk menjaga kesucian alam. Kebijakan ini menjadi tulang punggung bagi terciptanya standar baru pariwisata berkualitas yang berkelanjutan.
Wisatawan masa kini tidak hanya mencari keindahan visual, tetapi juga ketenangan dan kualitas udara. Dengan menghadirkan ekosistem e-mobility, Bali menawarkan pengalaman wisata yang lebih senyap, bersih, dan harmonis bagi para pelancong.
Visi pariwisata tanpa emisi ini menuntut realisasi infrastruktur yang tidak setengah-setengah. Komitmen PLN dalam memperkuat suplai listrik dan memperluas jaringan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menjadi faktor yang sangat krusial.
Kehadiran fitur digital seperti Trip Planner di aplikasi PLN Mobile menunjukkan bahwa transisi ini dibarengi kemudahan akses. Hal ini memastikan wisatawan maupun warga lokal dapat menjelajahi Bali tanpa rasa khawatir akan ketersediaan daya.
Data menunjukkan pertumbuhan mobil listrik mencapai 2,5 kali lipat per tahun. Ini adalah sinyal bahwa pasar mulai menyambut baik transisi ini, didorong oleh efisiensi biaya operasional yang jauh lebih murah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil.
Strategi zonasi hijau di Ubud, Sanur, Kuta, hingga Nusa Dua adalah langkah taktis yang cerdas. Dengan memulai dari titik pusat kunjungan turis, Bali menciptakan standar dunia tentang bagaimana sebuah destinasi mampu menekan emisi hingga titik terendah.
Nusa Penida, khususnya, diproyeksikan menjadi Green Island. Wilayah ini akan menjadi laboratorium hidup bagi implementasi energi bersih total, sekaligus daya tarik utama bagi ceruk pasar wisatawan yang peduli terhadap lingkungan.
Tentu saja tantangan edukasi tetap ada. Pemulihan ekonomi pascapandemi menjadi momentum bagi pelaku industri pariwisata untuk beralih, sehingga manfaat jangka panjang dari penggunaan energi bersih dapat dirasakan secara merata.
Insentif pemerintah dan ketersediaan variasi harga kendaraan menjadi kunci utama. Harapannya, adopsi teknologi ini menjadi gerakan massal yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari penyedia jasa transportasi hingga masyarakat umum.
Keseimbangan antara infrastruktur pengisian daya mandiri dan SPKLU di destinasi wisata adalah formula yang tepat. Bali sedang membangun sebuah ekosistem pariwisata yang utuh, yang tidak lagi bergantung pada energi yang merusak alam.
Jika momentum ini dijaga dengan regulasi yang progresif, Bali akan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin peradaban hijau. Inilah jalan nyata mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam secara Sekala dan Niskala. (*)