Bukan Sekadar Toilet
KABUPATEN Badung adalah simbol kemakmuran di Bali. Dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak hotel dan restoran bernilai triliunan rupiah, daerah ini adalah "wajah" kemewahan pariwisata Indonesia di mata dunia.
Namun, sebuah realitas yang kontras muncul di Desa Tumbak Bayuh pada Sabtu (24/1/2026). Di sana, Ketua TP PKK Badung, Nyonya Rasniathi Adi Arnawa, bersama KADIN Badung menyerahkan bantuan sarana sanitasi kepada warga kurang mampu.
Kejadian ini membukakan mata kita bahwa masalah di kabupaten terkaya ini ternyata masih menyentuh hal yang paling mendasar. Urusan ini benar-benar bukan sekadar toilet atau bangunan fisik berukuran dua kali satu meter.
Toilet adalah simbol martabat manusia. Di balik deretan resort mewah dengan standar sanitasi kelas dunia, masih adanya warga yang belum memiliki akses jamban layak adalah sebuah anomali pembangunan yang harus kita renungkan bersama.
Keberadaan warga tanpa fasilitas sanitasi standar di tengah gemerlapnya Gumi Keris menunjukkan bahwa distribusi kesejahteraan masih memiliki celah. Ada jarak yang lebar antara kemegahan infrastruktur pariwisata dengan realitas di beberapa sudut banjar.
Bagaimana mungkin wilayah yang mampu memberikan hibah miliaran rupiah ke daerah lain, masih memiliki warga yang harus menunggu uluran tangan organisasi masyarakat untuk memiliki fasilitas pembuangan yang manusiawi?
Sinergi antara TP PKK dan KADIN Badung melalui "Gerakan Badung Peduli" memang patut diberikan apresiasi tinggi. Ini adalah bentuk gerak cepat dan empati sosial yang sangat dibutuhkan di tengah birokrasi yang terkadang kaku.
Namun, kehadiran bantuan dari pihak swasta ini sekaligus menjadi "sentilan" halus bagi kebijakan publik daerah. Bantuan ini adalah sinyal kuat bahwa ada kebutuhan mendasar rakyat yang belum sepenuhnya ter-cover oleh anggaran daerah yang melimpah.
Sanitasi adalah fondasi paling awal dari kesehatan keluarga. Tanpa akses yang layak, kita sedang membiarkan bom waktu penyakit menular dan risiko stunting menghantui generasi masa depan di desa-desa kita.
Di Badung, tantangan ini semakin berat karena pesatnya alih fungsi lahan dan tekanan populasi. Kualitas air tanah di pemukiman warga terancam jika urusan sanitasi tidak diselesaikan secara masif dan tuntas dari hulu ke hilir.
Kita tidak boleh memandang remeh bantuan satu atau dua unit toilet. Bagi keluarga penerima, ini adalah perubahan kualitas hidup. Namun bagi pengambil kebijakan, ini adalah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara struktural.
Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari indahnya kolam renang di hotel berbintang. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika lingkungan rumah warga lokal juga bersih, sehat, dan bermartabat.
Sangat ironis jika predikat "kabupaten kaya" hanya terlihat di jalan-jalan protokol, namun keropos di sistem pembuangan limbah rumah tangga warganya. Kemajuan daerah harusnya berjalan seiring dengan pemenuhan hak dasar rakyat.
Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan audit sanitasi total. Jangan sampai kita terlena dengan angka-angka pertumbuhan ekonomi makro, namun abai terhadap kebutuhan mikro yang sangat esensial seperti ini.
Data warga kurang mampu harus terus diperbarui agar intervensi pemerintah bisa lebih presisi. APBD Badung yang besar harus hadir untuk memastikan tidak ada lagi warga yang tertinggal dalam urusan fasilitas kesehatan dasar.
Rencana KADIN Badung untuk merambah ke sektor pendidikan dan pemberdayaan ekonomi patut didukung. Namun, tanggung jawab utama dalam memenuhi hak dasar warga tetap berada di pundak negara dan pemerintah daerah.
Sinergi dengan sektor usaha harus diletakkan dalam kerangka kolaborasi, bukan pengalihan tanggung jawab. Sektor swasta adalah akselerator, sementara pemerintah adalah motor utama pembangunan yang inklusif dan merata.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Tumbak Bayuh harus menjadi momentum refleksi. Bahwa di balik kemilau pariwisata, masih ada "pekerjaan rumah" yang tertinggal di dapur dan kamar mandi warga kita sendiri.
Membangun toilet berarti membangun kesehatan. Membangun sanitasi berarti membangun masa depan. Dan lebih dari itu, memberikan akses sanitasi yang layak bagi setiap warga adalah cara kita menjaga martabat kemanusiaan di tanah Bali.
Kemakmuran sejati sebuah daerah baru tercapai ketika tidak ada lagi warganya yang merasa terpinggirkan di rumah sendiri. Mari kita pastikan pembangunan di Badung benar-benar menyentuh hingga ke dalam pintu rumah rakyat yang paling membutuhkan. (*)