Podiumnews.com / Aktual / Kesehatan

DVT Kerap Baru Terdeteksi Saat Sudah Mematikan

Oleh Nyoman Sukadana • 29 Januari 2026 • 08:50:00 WITA

DVT Kerap Baru Terdeteksi Saat Sudah Mematikan
Ilustrasi. Nyeri dada menjadi salah satu tanda komplikasi serius dari gangguan pembekuan darah dalam tubuh. (podiumnesw)

YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com - Kasus Deep Vein Thrombosis atau DVT di Indonesia kerap baru terdeteksi ketika sudah berkembang menjadi komplikasi serius berupa emboli paru yang berisiko menyebabkan kematian mendadak. Kondisi ini terjadi karena DVT sering berkembang tanpa gejala khas pada fase awal, sehingga luput dari perhatian pasien maupun tenaga kesehatan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Prof Dr dr Usi Sukorini MKes SpPK menyebut emboli paru sebagai komplikasi yang sangat berbahaya dan sering datang tanpa peringatan. Kondisi ini bahkan dikenal sebagai silent killer karena dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba.

“Emboli paru merupakan komplikasi yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian mendadak sehingga sering disebut silent killer,” ujar Usi dalam pidato pengukuhan Guru Besar bidang Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium, Selasa (27/1/2026), di Balai Senat UGM.

Dalam pidato berjudul “Pemeriksaan Laboratorium: Kunci Mengungkap Misteri Deep Vein Thrombosis di Indonesia”, Usi menyoroti masih besarnya tantangan deteksi dini penyakit trombotik di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar kasus DVT ditemukan secara kebetulan atau baru diketahui setelah pasien mengalami sesak napas akibat emboli paru.

Usi menjelaskan angka kejadian DVT di Indonesia diperkirakan cukup tinggi, meskipun data nasional yang komprehensif masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara praktik klinis dan tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit trombotik. Banyak pasien dan tenaga kesehatan belum sepenuhnya menyadari pentingnya pengenalan dini terhadap faktor risiko dan tanda awal DVT.

Faktor risiko DVT bersifat multifaktorial, mulai dari imobilisasi dalam jangka panjang, kondisi pascapembedahan, perawatan intensif, hingga gangguan pembekuan darah. Usi menegaskan sebagian besar kejadian venous thromboembolism sebenarnya dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak awal.

“Sebagian besar kasus DVT di Indonesia ditemukan setelah muncul komplikasi. Padahal penyakit ini dapat dicegah jika faktor risikonya dikenali lebih dini,” katanya.

Selain berdampak secara klinis, DVT juga membawa konsekuensi sosial dan ekonomi yang luas. Pasien dengan komplikasi DVT kerap menghadapi biaya perawatan jangka panjang, keterbatasan aktivitas, serta penurunan kualitas hidup yang turut memengaruhi produktivitas keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Usi menambahkan kesadaran publik terhadap DVT masih relatif rendah dibandingkan penyakit kardiovaskular lain seperti stroke dan serangan jantung. Banyak pasien tidak mengenali gejala awal berupa bengkak atau nyeri pada tungkai dan menunda pemeriksaan medis, sehingga diagnosis sering datang terlambat.

“Dampak DVT tidak hanya medis, tetapi juga ekonomi, psikologis, dan sosial,” ucapnya.

Pidato pengukuhan tersebut menegaskan pentingnya peran pemeriksaan laboratorium, edukasi publik, serta kolaborasi lintas sektor kesehatan dalam menekan angka komplikasi DVT. Melalui penguatan riset dan pendidikan kesehatan, UGM berkomitmen mendorong deteksi dini sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan nasional.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UGM Prof Ova Emilia menyampaikan bahwa Prof Dr dr Usi Sukorini kini menjadi satu dari 559 guru besar aktif di UGM. Di lingkungan FK-KMK UGM, ia merupakan salah satu dari 74 guru besar aktif dari total 104 guru besar yang dimiliki fakultas tersebut.

(riki/sukadana)