Media Butik
DUNIA media lagi pusing. Benar-benar pusing. Terutama raksasa yang merasa paling besar itu. Yang orangnya ribuan. Yang gedungnya mentereng.
Sekarang? Terengah-engah.
Mereka terjebak satu berhala baru: pageviews. Jumlah klik. Segala cara dilakukan demi itu. Judul dibuat bombastis. Isinya? Sering kosong. Hanya seperti makan angin. Kenyang tidak, kembung iya. Itulah yang saya sebut pabrik berita. Isinya cuma berita isu yang tidak jelas.
Tapi, di tengah keriuhan itu, muncul arus baru. Namanya: Media Butik.
Anda tahu butik, kan? Toko pakaian yang kecil. Yang tidak jualan daster kodian. Barangnya cuma satu-dua. Tapi unik. Bahannya enak. Potongannya pas. Harganya? Jelas tidak murah.
Media butik juga begitu. Dia tidak mau jadi raksasa yang mengurusi semua hal. Dari politik sampai kucing hilang. Media butik tahu diri. Dia memilih "menyepi" di satu pojok. Membahas satu hal saja. Tapi sangat dalam. Sangat mengerti.
Istilah butik ini sejarahnya panjang. Menarik. Dulu, akhir tahun 60-an, orang periklanan mulai bosan. Bosan dengan agensi besar yang birokratis. Ribet. Lambat. Mereka lalu bikin Creative Boutiques. Isinya orang-orang pintar yang lincah.
Rupanya, semangat itu lahir kembali sekarang.
Saya ingat kata Seth Godin. Tokoh pemasaran cerdik itu. Dia bilang: Small is the New Big. Kecil itu sekarang justru jadi kekuatan. Kenapa? Karena yang kecil bisa lebih dekat. Bisa lebih intim. Bisa lebih dipercaya.
Dunia sekarang tidak kekurangan informasi. Kita justru kelebihan. Tsunami. Yang kita butuhkan bukan lagi berita yang banyak. Kita butuh kurasi. Butuh orang yang mau memilah mana yang penting, mana yang sampah.
Itulah tugas media butik.
Tiru saja Monocle di London. Mereka tidak pusing soal trafik jutaan. Tapi pembacanya adalah orang-orang yang mengubah kebijakan dunia. Atau The Ken di India. Hanya kirim satu artikel sehari. Satu saja. Tapi pembacanya mau bayar mahal.
Di Indonesia, ada Whiteboard Journal. Bicara seni dan budaya dengan cara beda. Hasilnya? Merek ternama malah menunggu di depan pintu mereka. Itulah kekuatan otoritas. Kekuatan selera.
Bagi saya, media butik adalah oase. Terutama bagi jurnalis yang masih punya idealisme. Yang tidak mau sekadar jadi buruh ketik pengejar algoritma.
Kita butuh sentuhan manusia. Human curation. Sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh robot atau AI secanggih apa pun. AI bisa bikin seribu artikel dalam semenit. Tapi AI tidak punya rasa. AI tidak punya selera.
Media butik adalah tempat di mana rasa dan selera itu dirawat.
Memang, media butik tidak akan punya gedung pencakar langit. Tapi dia punya akar. Dia tidak bicara kepada semua orang. Dia bicara tepat di telinga mereka yang peduli.
Prinsip ekonomi saya sederhana: tidak apa-apa kecil, yang penting sehat. Daripada besar, tapi sakit-sakitan. Apalagi kalau besarnya karena tumor.
Masa depan media bukan lagi soal siapa yang paling luas jangkauannya. Tapi soal siapa yang paling dipercaya oleh pembacanya.
Dan butik punya kunci jawaban itu. (*)
Menot Sukadana