Pengrajin Kata
HIDUP di era internet itu repot. Meski banyak yang digampangkan.
Di dunia yang serba layar ini, kita katanya harus punya "label". Anak zaman now menyebutnya: personal branding. Kalau tidak punya itu, kita dianggap hilang. Dianggap tidak ada.
Awalnya saya bingung. Mau disebut apa?
Umur saya sudah akan 50 tahun. Setengah abad. Dalam hitungan orang Bali, saya sudah masuk masa Wanaprasta. Masa untuk mulai menepi. Bukan hilang. Cuma ingin mengurangi hiruk-pikuk yang tak bermakna.
Dulu, cukup sebut wartawan saja. Selesai.
Tapi sekarang, istilah wartawan di Bali sering bikin perih. Ada stigma yang menempel: tukang mengejar amplop. Atau tak becus menulis berita.
Kadang, saya sering merasa getir jika harus menyebut diri wartawan. Saya pernah seperti itu. Mungkin juga masih begitu. Saya malu mengakuinya. Tapi, ya sudahlah?
Saya ingin saat kepala lima nanti, saya bisa memulai babak baru.
Selain tetap menjalani profesi kewartawanan, saya mengelola media online lokal. Sesekali, saat senggang, saya juga menulis kolom.
Lalu, apa sebutan yang pas?
Teman-teman tertentu punya sebutan mentereng. Ada yang menyebut dirinya CEO. Founder. Atau Director. Kedengarannya gagah sekali. Elit.
Tapi saya sadar diri. Istilah-istilah itu sering kali cuma singkatan dari "Elit": Ekonomi Sulit. Gaya selangit, tapi bisa bikin katong pailit. Saya tidak mau terjebak dalam kepalsuan hanya untuk menunjukkan siapa saya. Saya tidak butuh jas hanya untuk terlihat berwibawa.
Saya pun memilih istilah yang paling membumi: Pengrajin Kata.
Saya suka istilah itu. Sangat Bali. Sangat "tukang".
Pengrajin itu bekerja dengan rasa. Seperti tukang ukir di Gianyar. Atau pengrajin perak di Celuk. Mereka telaten. Duduk diam, tapi menghasilkan karya nyata yang punya jiwa.
Dalam satu istilah itu, saya merangkum tiga peran sekaligus.
Pertama, sebagai Editor. Di sini saya adalah pengrajin yang menyaring. Mana kata yang tajam, mana yang tumpul. Mana yang harus dihaluskan, mana yang dibuang. Editor adalah penjaga gawang kualitas. Dia memastikan "ukiran" narasi itu tidak cacat.
Kedua, sebagai Kolumnis. Ini bagian paling personal. Lewat berbagai tulisan, saya mengukir makna. Saya tidak sekadar melaporkan peristiwa. Saya ingin menawarkan sudut pandang. Mengajak orang berhenti sejenak untuk merenung di tengah bisingnya dunia.
Ketiga, sebagai Digital Publisher. Ini wadahnya. Saya bukan penulis yang numpang di rumah orang. Saya membangun rumah sendiri: Podiumnews. Sebuah ekosistem digital.
Kenapa pengrajin? Karena pengrajin itu jujur. Dia tahu karyanya akan dilihat dan dirasakan orang. Saya ingin bisa begitu dengan setiap konten di Podium.
Di usia 50-an nanti, mimpi saya sederhana saja. Ingin menjalani hidup yang tenang di kampung halaman, Mengwi. Berkebun di sepetak lahan tepi sawah yang hijau. Sambil terus bekerja dengan kata-kata.
Mungkin juga sambil membuka kedai kopi. Sederhana. Tapi rasanya itu lebih cocok dengan jiwa dan karakter saya. Barangkali, ini yang disebut menjadi diri sendiri.
Saya merasa menjadi pengrajin itu lebih tenang. Tidak perlu takut jatuh karena kita memang sudah di tanah. Bekerja dengan aksara, membangun masa depan lewat narasi digital itu pekerjaan mulia.
Bagi saya, menjadi Pengrajin Kata adalah cara paling elok untuk merawat sisa usia. Tetap mengabdi pada literasi, sambil menjaga dapur tetap ngepul. Tanpa harus kehilangan martabat. Tanpa harus kehilangan harga diri.
Dan saya bangga menjadi Pengrajin Kata. (*)
Menot Sukadana