Bukan Disfungsi Ereksi
AWALNYA enak. Keenakan. Lalu ketagihan. Akhirnya? Disfungsi.
Sesuatu yang terlalu nyaman memang sering kali tidak sehat.
Tapi tolong, jangan ngeres dulu. Ini bukan soal "enak-enak" yang itu. Anda pasti mengerti maksud saya.
Bicara disfungsi, kaum laki-laki biasanya langsung parno. Takut. Apalagi kalau sudah menyangkut kejantanan di atas ranjang. Ya, disfungsi ereksi.
Bahasan kita kali ini mirip-mirip. Tapi sasarannya beda: otak.
Secara medis, disfungsi itu artinya gangguan sistem internal. Sesuatu tidak berjalan normal. Bisa karena penyakit. Bisa karena manja.
Ide tulisan ini muncul pekan lalu. Saat saya mampir dengan kawan-kawan di sebuah rumah makan di Jalan Gatsu Tengah, Denpasar.
Obrolan kami sebenarnya tidak pakai istilah disfungsi. Kata itu muncul mendadak saat saya duduk di depan komputer kantor. Saya ingin menulis dengan gaya sedikit "nakal". Sersan. Serius tapi santai. Sesekali bosan juga kalau terlalu serius. Bagaimana menurut Anda?
Oke. Kita kembali ke laptop.
Waktu itu kami duduk berenam. Meja panjang. Topiknya berat: Dampak AI atau Artificial Intelligence terhadap jurnalisme. Juga terhadap perilaku orang mencari informasi.
Menurut saya, AI itu keniscayaan. Tidak bisa dilawan. Dia bikin kerja jurnalis jadi cepat. Tulisan jadi lebih rapi. Itu bagusnya.
Lalu, apa buruknya?
Ketergantungan. Itu penyakitnya.
Kalau sudah keenakan, wartawan jadi malas. Inilah awal bencana itu: Kemunduran kognitif.
AI memang jago merapikan kalimat. Tapi AI juga melumpuhkan kemampuan kognitif wartawan untuk mengolah logika. Wartawan sekarang jarang "berdarah-darah" memeras otak mencari diksi. Tidak lagi ulet menyusun argumen. Semuanya diserahkan ke mesin.
Dampaknya? Insting verifikasi tumpul. Daya kritis merosot.
Keahlian dasar menulis: yang seharusnya jadi "otot" utama: perlahan menyusut. Atropi. Jika wartawan sudah tidak pede menulis tanpa bantuan mesin, itulah disfungsi intelektual.
Seorang teman menimpali. Dia benar. Teknologi itu memudahkan, tapi sekaligus melumpuhkan fungsi normal tubuh.
"Dulu, sebelum ada HP, kita hafal belasan nomor telepon di luar kepala. Sekarang? Nomor istri sendiri saja sering lupa," katanya.
Kita juga makin jarang menyentuh pena. Semuanya serba klik.
Saya jadi teringat tahun 1984. Saat saya kelas satu SD. Kami diajari menulis halus. Di buku tiga lajur. Tangan dipaksa disiplin. Melatih otot motorik. Melatih fokus.
Bandingkan dengan anak sekarang. Banyak orang tua mengeluh. Kemampuan menulis tangan anak zaman now merosot tajam.
Padahal, lihat tulisan tangan Bung Karno atau Bung Hatta. Rapi. Tegas. Berkarakter. Itu cerminan pikiran yang terlatih. Pikiran yang disiplin.
Mungkin benar. Karena terlalu dimanja teknologi, sistem internal kita sedang turun mesin. Memori kita degradasi. Otot motorik kita melemah.
Ingat: Otot dan otak itu sama. Kalau tidak dipakai, ya menyusut.
Menulis itu butuh rasa. Butuh empati. Butuh kejernihan logika. Itu yang tidak dimiliki algoritma.
Jangan sampai karena terlena kenyamanan instan, kita jadi "impoten" secara gagasan. Jangan sampai karena keenakan, kita berakhir disfungsi permanen.
Teknologi itu alat bantu. Bukan pengganti otak. (*)
Menot Sukadana