Menghitung Sisa
ADA yang boleh ditanya. Ada yang tabu.
Umur, misalnya.
Apalagi kalau yang ditanya wanita. Wah, itu area sensitif. Sangat sensitif. Melebihi sensitivitas harga BBM di tahun politik.
Tak percaya? Coba saja tanya. Iseng-iseng. Lalu beri tahu saya bagaimana responsnya. Kalau Anda tidak kena semprot, syukur. Kalau Anda dijauhi, itu risiko.
Manusia itu memang jago berdalih. Apalagi soal angka usia. Angka yang setiap tahun bertambah, tapi hati inginnya tetap diam di satu tempat.
Anda pasti sering dengar kalimat ini: “Umur boleh tua, tapi semangat tetap muda.”
Saya sering curiga. Jangan-jangan itu kalimat pelarian. Kalimat penghibur diri. Biar tidak dibilang uzur. Biar tidak dicap ketinggalan zaman. Biar tetap dianggap relevan di tengah gempuran anak-anak muda yang napasnya masih panjang.
Atau, jangan-jangan memang belum puas. Belum puas menikmati kenakalan masa muda. Karena dulu masa mudanya terlalu lurus. Atau terlalu sibuk.
Kalau yang terakhir itu, orang menyebutnya tua-tua keladi. Makin tua makin jadi. Entah menjadi apa. Bisa jadi lebih bijak. Bisa juga jadi lebih nekat.
Saya sendiri hampir masuk kepala lima. Sudah tua. Titik. Tak perlu pakai koma.
Belakangan, saya merasa mulai menghitung mundur. Rasanya seperti sedang berdiri di depan jam pasir. Saya bisa melihat butiran pasir itu jatuh. Satu demi satu. Tidak bisa dihentikan. Tidak bisa diputar balik.
Kesempatan rasanya makin sempit. Tak banyak lagi.
Inilah yang membuat saya sering merenung. Soal sadar umur. Menghitung sisa umur yang mungkin masih ada.
Apalagi sekarang. Kabar duka makin sering mampir. Satu per satu orang terdekat pergi. Teman kerja, sahabat lama, atau saudara jauh di kampung. Kemarin baru saja ngopi bareng, tiba-tiba pagi ini sudah ada di dalam peti jenazah.
Kita melihat mereka pergi satu per satu. Dan kita sadar: antrean itu sedang bergerak. Makin lama makin dekat ke arah kita.
Kalau pakai pembanding, hitung-hitungannya sederhana saja. Mana yang lebih besar peluangnya? Antara kesempatan hidup lebih lama atau peluang mati lebih cepat?
Jawabannya jelas. Tak perlu pakai rumus kalkulus yang rumit. Pasti yang terakhir.
Dulu, waktu masih muda, saya merasa waktu itu milik saya sepenuhnya. Saya boroskan waktu untuk hal-hal sepele. Saya merasa esok masih akan selalu ada. Matahari masih akan terbit dengan cara yang sama.
Tapi sekarang berbeda.
Angka pada umur itu seperti alarm. Alarm yang bunyi tiap saat. Bukan cuma di pagi hari.
Kita diminta menghitung ulang. Kita dipaksa tahu di mana titik akhir batasan itu. Kita dipaksa sadar bahwa panggung ini bukan milik kita selamanya. Kita hanya pemain pengganti yang sebentar lagi harus masuk ruang ganti.
Sadar umur itu sebenarnya cuma istilah lain dari satu hal: Sadar diri.
Sadar diri bahwa tubuh ini ada masa kedaluwarsanya. Lutut sudah mulai protes kalau diajak jalan jauh. Mata sudah mulai pilih-pilih jarak pandang. Jantung sudah mulai punya irama sendiri.
Kalau sudah sadar diri, mestinya hidup jadi lebih sederhana. Tidak lagi mengejar semua hal. Tidak lagi ingin memiliki semua benda.
Mestinya, di usia begini, kita lebih banyak "melepas" daripada "mengambil". Melepas ambisi yang tidak masuk akal. Melepas dendam yang cuma bikin berat di hati. Melepas keinginan untuk selalu benar.
Menghitung sisa itu bukan berarti pesimis. Bukan.
Menghitung sisa itu justru cara agar sisa waktu yang ada tidak terbuang percuma. Biar setiap detik ada maknanya. Biar setiap pertemuan ada bekasnya.
Saya ingin, di sisa waktu ini, saya tidak lagi sibuk menjelaskan siapa saya. Saya lebih ingin mendengar. Lebih banyak mengamati.
Dunia ini sudah terlalu bising. Dan orang tua yang tidak tahu diri itu biasanya yang paling keras suaranya. Saya tidak mau jadi bagian dari kebisingan itu.
Saya ingin menyepi dalam kesadaran.
Melihat pasir itu jatuh ya lihat saja. Tak usah dilawan. Sambil menyeruput kopi. Tanpa gula. Karena hidup sudah terlalu banyak janji manis yang palsu.
Cukup sadar diri saja. Bahwa garis finis itu sudah terlihat. Dan saya ingin sampai di sana tanpa harus terengah-engah karena beban yang saya bawa sendiri.
Sadar umur. Sadar diri. Beres. (*)
Menot Sukadana