Senior yang Junior
"SOAL menulis esai, saya ini masih pemula."
Kalimat itu saya ucapkan pelan. Di depan seorang kawan lama. Namanya: Angga Wijaya.
Angga langsung menyanggah. Cepat. "Bli, saya tahu sudah lama menulis opini di koran. Mana bisa disebut pemula," katanya.
Dia tersenyum. Angga memang murah senyum. Padahal, saya tahu, jalan hidupnya tidak selalu manis. Sering pahit.
Saya kenal Angga sudah lebih dari 12 tahun. Sejak kami sama-sama di sebuah harian di Ubung. Waktu itu, saya atasannya. Dia satu dari tujuh wartawan muda di bawah asuhan saya.
Sejak dulu, tulisan Angga sudah beda. Rapi. Runut. Enak dibaca. Ternyata dia memang seorang penulis. Sudah 17 buku dia terbitkan.
Penampilannya sederhana saja. Jalannya agak membungkuk. Sering pakai kemeja flannel kotak-kotak. Khas sekali. Dia tipe irit bicara. Kalem. Pakai kacamata.
Tapi, jangan coba-coba tanya soal keberaniannya menulis. Beda jauh dengan tampilannya. Di balik kacamata itu, ada pikiran yang sangat kritis. Vokal. Dia berani jujur. Bahkan berani menampakkan kerentanan hidupnya sendiri dalam tulisan.
Lama kami tidak bertemu. Kini, takdir membawa kami kembali satu atap. Dia bergabung di media yang saya kelola. Saya menawarinya jadi kolumnis di podiumnews.
Kami punya tiga "iman" yang sama: kopi, buku, dan menulis.
Kalau saya bilang "ketemu ngopi", itu kode. Artinya: kopi darat. Pertemuan fisik. Kami bicara soal pekerjaan, tapi pasti merembet ke mana-mana. Ke soal buku, dinamika media, jurnalisme, hingga sastra.
Dan sekarang, topik favorit saya adalah bagaimana menulis esai yang baik. Hal itu pula yang kami bedah saat Rabu siang itu, kami ngobrol panjang. Di titik inilah saya sadar. Roda berputar. Dalam hal esai, Angga adalah senior saya. Saya muridnya.
Dulu saya mentornya. Sekarang dia "guru" saya. Sederhananya: saya ini senior yang junior.
Saya curhat pada Angga. Sudah hampir setahun saya mencari bentuk. Mencari gaya yang pas untuk media daring. Yang serba cepat itu.
"Apa esai 3.000 sampai 3.500 karakter itu tidak kependekan? Itu kan cuma sepanjang berita straight news. Dua menit sudah habis dibaca," tanya saya.
Angga menggeleng. Baginya, esai pendek itu minimal 6.000 karakter. Sekitar 500-600 kata. "Kalau di bawah itu, terlalu pendek, Bli," sahutnya kalem.
Saya manggut-manggut. Saya kagum pada kepekaannya. Angga bisa melihat hal sepele, lalu mengubahnya menjadi ulasan kritis yang dalam. Itulah esensi penulis esai.
Menulis bukan cuma soal teknis. Tapi soal perspektif. Soal melihat apa yang orang lain lewatkan. Untungnya, saya punya modal. Dua puluh tahun lebih jadi jurnalis sudah mengasah sense of news saya. Pernah menulis opini juga. Tapi menulis esai itu seni yang berbeda.
"Kemahiran menulis itu seperti otot. Harus terus dilatih," kata saya.
Meski usia saya sudah masuk kepala lima, saya tidak malu untuk terus berlatih. Saya teringat buku Andrias Harefa yang saya baca awal tahun 2000-an: Menjadi Manusia Pembelajar.
Isinya jelas: kita bisa belajar dari siapa saja. Belajar tidak kenal usia. Termasuk belajar dari mantan anak buah sendiri.
Ternyata, menjadi senior yang junior itu rasanya asyik juga. Pikiran jadi tetap segar. Tidak merasa sudah "jadi".
Siang itu, kopi kami habis. Tapi semangat belajar saya baru saja diisi ulang. Oleh seorang junior yang sudah jadi senior. (*)
Menot Sukadana