Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Plastik Redaksi

Oleh Nyoman Sukadana • 15 Februari 2026 • 10:58:00 WITA

Plastik Redaksi
Menot Sukadana (dok/pribadi)

PLASTIK itu horor. Di Bali, ia bukan lagi ancaman, tapi bencana.

Semua pun panik. Tak percaya? Tengok saja sekeliling. Pejabat sibuk rapat, aktivis teriak-teriak, masyarakat ribut. Semua bergerak atas nama satu jargon: melawan sampah plastik.

Wajar kalau kita panik.

Pariwisata Bali itu jualannya bukan cuma budaya. Tapi juga keindahan alamnya. Turis ke sini mau menikmati sunset yang ikonik di Pantai Kuta. Saya ingat era 80-an atau 90-an. Tema promosi lewat postcard, majalah dan billboard selalu menampilkan sunset sebagai latarnya. Dipadu entah itu penari Bali atau Tari Kecak.

Dulu rumus menjual Bali itu sederhana: Sun, Sea, and Sand. Tapi tanpa embel-embel Sex. Seperti industri syahwat di Thailand. Kesamaannya menjual fantasi pulau tropis “Nusa Damai” yang eksotis.

Tapi sekarang?

Putih pasir itu sering tertimbun gunungan plastik. Ini bukti betapa joroknya perilaku kita. Kita hanya mau praktisnya, tanpa peduli ekosistemnya.

Lihat saja pesisir Kuta sampai muara sungai di Denpasar. Kita lagi perang melawan plastik kiriman angin barat. Tapi, plastik di pantai itu setidaknya masih bisa diangkut truk. Masih kasatmata.

Sebetulnya ada polusi plastik lain yang lebih licin. Lebih jahat.

Daya rusaknya menembus sampai ke sumsum nalar publik. Itulah: Plastik Redaksi.

Saya teringat Nick Davies. Jurnalis investigasi asal Inggris itu merilis buku yang bikin geger pada 2008 berjudul Flat Earth News. Isinya membuat merah telinga bos media. Davies riset bersama Cardiff University dan temuannya ngeri: 80 persen berita di media besar Inggris saat itu cuma hasil daur ulang.

Itulah era churnalism.

Jurnalisme plastik ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia adalah anak kandung dari industri yang dipaksa cepat tapi tidak mau bayar mahal. Ia lahir dari rahim algoritma yang serakah, di mana satu jurnalis dipaksa memproduksi belasan berita sehari.

Mana mungkin ada "jiwa" kalau satu berita hanya dikerjakan dalam 15 menit?

Inilah asal-usulnya: matinya rasa ingin tahu. Jurnalis tidak lagi didorong bertanya "mengapa", tapi cuma ditanya "kapan tayang?". Ruang redaksi menjadi malas karena dimanjakan rilis instan. Kita tidak lagi berburu berita, tapi cuma jadi penadah berita.

Kata-kata bukan lagi alat perjuangan, tapi komoditas pemancing klik demi recehan iklan.

Itulah era churnalism. Berita dikocok kayak di pabrik. Jurnalis tidak lagi turun ke lapangan untuk mencium aroma keringat atau menatap mata narasumber. Mereka cukup duduk manis depan laptop. Tunggu rilis WhatsApp. Dipoles sedikit dengan judul clickbait. Klik. Tayang.

Cepat? Memang. Tapi hebat? Belum tentu.

Dapur redaksi sekarang hampa. Tak ada lagi aroma kopi yang berkelindan dengan debat panas soal kebenaran. Yang ada cuma bunyi notifikasi grup WA. Isinya rilis seragam. Titik komanya sama.

Itulah sampah plastik informasi yang kita produksi setiap hari di Bali.

Ekonomi lagi mendung. PHK jurnalis itu bukan sekadar angka di kertas rilis. Itu luka. Saya tahu rasanya jadi jurnalis 25 tahun. Sekarang, ribuan kawan terlempar ke jalanan. AJI mencatat lebih dari 1.500 jurnalis kehilangan kerja setahun ini.

Itu 1.500 piring nasi keluarga terancam kelaparan di saat harga beras makin tidak masuk akal.

Martabat jurnalisme sedang di titik nadir. Manusia di dalamnya dianggap seperti onderdil plastik. Kalau sudah aus, tidak menghasilkan klik, atau sudah tua, buang begitu saja.

Mari jujur melihat dapur wartawan di Bali. Banyak yang siaga 24 jam tapi gajinya di bawah UMP. Lebih sedih lagi melihat para senior. Di masa senjanya harus berjuang melawan sakit dalam kepayahan ekonomi. BPJS menunggak.

Mereka yang dulu menjaga narasi publik, kini justru dilupakan publik.

Ironisnya. Cuma sedikit yang peduli. Pemerintah daerah peduli? Barangkali masih sedikit peduli. Bagaimana industri pariwisata Bali? Nyaris tak terdengar.

Di Bali, saat industri pariwisata lagi pesta dolar, tapi pelukis narasinya lagi pusing cicilan BPJS. Ini ironi yang tidak boleh kita anggap biasa. Padahal pariwisata Bali sangat bergantung pada citra positif untuk mendatangkan dolar. Berpuluh tahun medialah yang setia menjaga narasi "Pulau Surga" itu.

Media dibutuhkan kalau ada kebakaran isu saja. Kalau lagi aman, mereka abai.

Media lokal itu pagar rumah. Kalau pagarnya ambruk karena kelaparan, rumah itu juga terancam. Kolaborasi harus nyata, bukan cuma bagi-bagi "amplop" rilis yang melahirkan berita plastik seragam. Kita butuh ekosistem yang menghargai kedalaman, bukan sekadar kecepatan copy-paste.

Pariwisata Bali butuh pers yang sehat.

Bukan cuma dijadikan “petugas pemadam kebakaran”. Tapi pers yang mampu membangun peradaban masyarakatnya. Memperjuangkan keadilan sosial, politik, hukum dan ekonomi.

Pers yang sehat bagi Bali adalah pers yang organik.

Yang tumbuh dari kegelisahan masyarakatnya. Tanpa pers yang sehat, Bali hanyalah komoditas plastik yang gampang retak saat diterjang krisis.

Sekarang pilihannya cuma satu: mau menjadi jurnalisme organik yang menghidupi, atau jurnalisme plastik yang mengotori?

Sebab kalau jurnalisme sudah menjadi sampah, siapa lagi yang akan menyapu noda di wajah peradaban kita?

Menot Sukadana