Enaknya di Konoha
JANGAN-JANGAN kita sudah lupa cara bersyukur. Mungkin saja.
Sekarang kita ini lebih pandai mengeluh. Protes harga naik. Jalanan macet. Banjir. Sampah menumpuk. Sampai kebijakan pemerintah yang sering tidak masuk akal.
Media sosial isinya umpatan. Muncul tagar Indonesia Gelap. Seolah-olah hidup akan berakhir besok pagi.
Barangkali kita memang hobi marah.
Tapi beberapa hari terakhir, saya justru merasa jadi warga Konoha itu banyak enaknya.
Konoha. Nama ejekan yang kita ciptakan sendiri. Awalnya sindiran. Lama-lama jadi identitas. Unik juga bangsa ini. Diejek, malah dipakai sendiri dengan santai.
Lalu datanglah "perang" di jagat maya. Netizen ASEAN bersatu melawan oknum K-Netz. Saya sampai geleng-geleng kepala. Kali ini bukan soal politik. Bukan soal pemilu. Bukan soal bansos.
Cuma gara-gara kamera.
Ada fansite Korea Selatan datang ke Malaysia. Nonton konser DAY6. Bawa lensa panjang. Lensa "meriam". Dilarang. Ditegur. Bukannya minta maaf, eh, malah galak. Katanya, budaya fansite mereka harus dihormati.
Lho. Bertamu kok mengatur tuan rumah?
Masalah sepele jadi melebar. Ada komentar rasis. Menyamakan orang Asia Tenggara seperti monyet. Girl group kita, No Na, juga ikut terseret. Katanya: "Kok syuting di sawah? Miskin ya?" Aktor Baskara Mahendra pun dihina. Wajahnya dibilang mirip buruh pabrik di Seoul.
Di sini lucunya.
K-Netz menyerang dengan narasi panjang lebar. Serius sekali. Pakai bahasa Inggris yang kaku. Isinya statistik kemajuan negara dan hinaan fisik yang menyakitkan hati. Kalau yang baca baperan.
Tapi netizen Konoha? Ah, mereka beda kelas.
Mereka membalas sambil rebahan. Pakai daster atau sarung. Sambil makan gorengan. Balasannya singkat-singkat. Cuma pakai meme lucu. Pakai gambar kucing bingung. Atau video pendek orang lagi ketawa ngakak.
K-Netz makin marah, netizen kita makin senang. Makin diketik panjang lebar, cuma dibalas: "Wkwk, nangis dek?" atau "Y."
Tujuannya cuma satu: bikin mereka kesal sampai ubun-ubun. Tanpa perlu buang energi. Tanpa perlu tensi tinggi.
Hebatnya lagi, dukungan untuk SEAblings malah meluas. Datang dari seluruh dunia. Brazil, Polandia, sampai India dan Pakistan ikut barisan. Semua sepakat: rasisme harus dilawan dengan kekompakan.
Seluruh dunia sudah maklum. Warga Negeri Ginseng memang terkenal rasis. Merasa lebih unggul dari orang kulit cokelat.
Di situ saya merasa heran. Sekaligus kasihan. Heran kenapa K-Pop masih begitu digandrungi di sini. Kita menggilai mereka, padahal di belakang kita direndahkan.
Mereka mungkin merasa lebih maju. Lahir berkulit putih. Punya gedung tinggi. Teknologi canggih. Internet kencang. Industri hiburan mendunia. Semua serba modern.
Tapi modern belum tentu bahagia.
Coba bandingkan hal paling sederhana. Di Konoha, lapar jam satu pagi? Tinggal buka pintu. Tukang nasi goreng lewat. Asapnya sudah jadi pengumuman. Tinggal panggil. Selesai. Bisa tambah telur. Bisa kurang pedas. Bisa utang kalau kantong lagi tipis.
Kalau di Bali, pas lagi begadang, santai saja. Cukup Rp20 ribu. Cari warung pinggir jalan. Bisa di pasar senggol. Beli nasi jinggo. Es teh. Kopi hitam. Perut pun kenyang.
Di sana? Mungkin harus buka aplikasi. Pilih menu. Tunggu lama. Bayar mahal. Belum tentu ada yang mau antar ke apartemen lantai dua puluh.
Ban motor bocor tengah malam? Tidak perlu panik. Tambal ban ada di setiap tikungan. Bisa sambil ngobrol soal bola. Nunggu sambil merokok. Bayarnya tidak bikin deg-degan. Cuma seharga segelas kopi sachet.
Bensin habis? Ada warung 24 jam jual eceran. Tak bawa uang? Cukup jaminkan KTP. Beres.
Di sana? Harus panggil layanan resmi. Biaya resmi. Tarif resmi. Dompet langsung terasa tidak resmi. Atau jalan kaki berkilo-kilo cari pom bensin.
Kita sering dihina "ndeso" karena punya sawah. Padahal sawah itu bukan tanda kemunduran. Sawah itu tanda kita masih punya ruang lega untuk bernapas. Masih punya cara untuk "jeda". Bukannya bule-bule yang ke Bali justru cari tempat tinggal di tepi sawah?
Mereka punya kota gemerlap. Tapi punya tekanan yang tidak terlihat. Jam kerja panjang. Kompetisi brutal. Standar kecantikan yang memaksa orang bongkar pasang wajah plastik. Angka kelahiran turun. Anak muda enggan menikah.
Itu bukan kemajuan. Itu sekolah penderitaan. School of suffering.
Di Konoha, kita memang ribut tiap hari. Kritik pemerintah sudah seperti sarapan. Marah bisa pagi, siang, sore. Tapi malamnya masih bisa tertawa di grup WA keluarga. Masih bisa kirim stiker lucu. Saling ejek tanpa dendam.
Yang paling saya kagumi dari keributan SEAblings kemarin bukan soal siapa menang. Tapi soal solidaritasnya. Satu negara disentil, yang lain berdiri. Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina. Mendadak kompak. Tanpa rapat resmi. Tanpa KTT.
Cukup satu sentilan rasis, satu kawasan bergerak.
Sedangkan mereka? Tetangga sekawasan saja tak ada yang membela. Malah netizen Jepang dan China memilih membela kita. Parahnya, sama saudara kandung Korea Utara saja mereka perang.
Itu kekayaan yang tidak ada di etalase mal mana pun. Namanya empati.
Kita boleh berantem sendiri. Soal politik. Soal agama. Soal klub bola. Tapi kalau ada yang merendahkan dari luar, kita berubah jadi saudara.
Mungkin inilah enaknya jadi warga Konoha. Tidak sempurna. Tidak rapi. Tidak selalu masuk akal. Tapi hangat.
K-Netz boleh bangga punya Samsung. Punya Hyundai. Punya drama yang mendunia. Kita juga menikmati itu semua. Tidak masalah. Tapi Konoha punya sesuatu yang tidak bisa dibeli: Kelonggaran jiwa.
Kita masih bisa menertawakan diri sendiri. Masih bisa hidup tanpa harus terlihat sempurna. Masih bisa makan di pinggir jalan tanpa merasa harga diri turun.
Saya tidak bilang kita tidak punya masalah. Banyak. Dan serius. Tapi di tengah semua kekurangan itu, kita masih punya satu hal yang mahal: kewarasan.
Peradaban tidak hanya diukur dari tinggi gedung atau cepatnya internet. Tapi dari seberapa manusia orang-orangnya bisa tetap menjadi manusia.
Kalau harus memilih, saya tetap pilih tinggal di Konoha. Biar macet. Biar semrawut. Biar ribut tiap hari. Asal masih bisa tertawa.
Dan kalau ada yang mencoba merendahkan, kita tahu caranya bersatu. Itulah yang bikin enaknya di Konoha. (*)
Menot Sukadana