Apa Kita Korsel?
DULU sekali. Tahun 1950. Korea Selatan (Korsel) itu bukan apa-apa. Bukan raksasa Samsung. Bukan pusat bedak kecantikan. Bukan juga ekspor drama romantis yang bikin ibu-ibu lupa masak.
Waktu itu, Seoul hancur. Rata dengan tanah. Rakyatnya makan apa saja yang bisa dikunyah. Kalau bukan karena "tetangga" jauh dari Asia Tenggara, mungkin peta dunia hari ini sudah beda.
Ada Thailand dan Filipina yang mengirim ribuan prajurit. Namanya keren: Philippine Expeditionary Forces to Korea (PEFTOK) dan pasukan Little Tigers dari Thailand. Mereka bertempur habis-habisan di bukit-bukit seperti Yultong dan Pork Chop Hill. Mereka tidak cuma membawa bedil, tapi juga membawa beras. Beras yang memastikan perut rakyat Korea tidak kosong saat peluru beterbangan. Ribuan dari mereka pulang tinggal nama. Gugur di tanah orang demi sebuah negara yang bahkan mereka tidak tahu di mana letaknya di peta.
Lalu, di mana posisi Indonesia?
Kita punya logika sendiri. Bung Hatta baru saja merumuskan politik "Bebas Aktif". Indonesia memilih tidak mengirim peluru karena tidak mau jadi bidak catur negara besar. Kita tidak mau jadi anak buah Blok Barat maupun Blok Timur.
Tapi "Bebas Aktif" bukan berarti diam. Indonesia memilih jalur kemanusiaan. Kita mengirim bantuan yang sangat mendasar: garam dan bantuan pangan. Kita memberi "rasa" dan energi di saat bangsa mereka sedang tawar dan lemas karena perang saudara. Secara politik, kita memilih berdiri sebagai penengah yang bermartabat, bukan sebagai penambah bahan bakar perang.
Bahkan, sejarah mencatat para peneliti mereka dulu datang ke Bogor. Mereka duduk di bangku-bangku kuliah Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka datang dengan buku catatan kosong. Belajar bagaimana cara mengelola varietas padi unggul agar rakyatnya tidak lagi mati kelaparan. Kita adalah guru yang membukakan pintu ilmu saat mereka sedang buntu. Dari situlah mereka pulang dan bikin gerakan Saemaul Undong. Suatu gerakan desa baru yang mengubah nasib mereka.
Lalu Korea Selatan tumbuh. Meluncur bak roket. Jadi negara kaya raya. Jadi kiblat dunia.
Di sinilah Bung Karno benar. Beliau pernah teriak: Jas Merah! Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Kalimat itu bukan cuma pajangan di buku teks sekolah. Itu peringatan soal karakter.
Tapi sifat manusia itu memang unik. Kadang menjengkelkan.
Begitu ekonomi melesat dan hidup sudah mapan, ingatan sering mendadak "pudar". Korea Selatan hari ini tidak lagi melihat kita sebagai penolong atau guru. Di media sosial, banyak dari mereka justru memandang rendah orang Asia Tenggara. Hinaan rasis sering terlontar. Seolah mereka lupa bahwa leluhur mereka dulu selamat karena darah prajurit kita, beras dari sawah kita, dan ilmu dari tanah ini.
Mereka lupa, atau mungkin pura-pura lupa.
Ironisnya, saat sebagian dari mereka menghina, tangan mereka tetap menengadah ke arah kita. Asia Tenggara adalah pasar terbesar. Konsumen paling loyal. Kalau ada konser K-Pop, tiket jutaan perak ludes dalam hitungan menit di Jakarta atau Manila. Tanpa dukungan uang dari "orang-orang cokelat" yang mereka rendahkan itu, industri hiburan mereka mungkin tidak akan segigih sekarang di panggung dunia.
Di Bali, kita mengenal konsep Rna. Bahwa hidup ini adalah rangkaian hutang budi yang harus dibayar dengan rasa syukur dan penghormatan. Menghina mereka yang pernah menolong kita bukan sekadar rasisme, tapi dalam kacamata kita, itu adalah pelanggaran etika yang berat. Itu adalah pengingkaran terhadap Rna. Hutang budi pada mereka yang telah membukakan jalan saat kita masih buntu. Hutang budi, dalam keyakinan kita, adalah sesuatu yang dibawa sampai mati.
Waktu masih susah, kita ingat siapa yang mengulurkan tangan. Tapi begitu posisi sudah di atas, kita sering merasa sukses itu murni karena otak kita sendiri.
Jangan sampai kita jadi Korsel yang perutnya dulu kenyang karena beras Thailand, tapi sekarang mulutnya sibuk menghina orang Asia Tenggara. Jangan sampai kita jadi bangsa yang sombongnya selangit, tapi amnesia pada nisan-nisan tentara tetangga yang mati demi tegaknya bendera mereka.
Melupakan bantuan beras itu buruk, tapi melupakan nyawa yang dikorbankan orang lain untuk kita itu sudah melampaui batas kemanusiaan. Jangan meludah di piring yang dulu memberimu makan, apalagi menggigit tangan orang yang dulu membantumu.
Jas Merah itu bukan soal politik saja. Itu soal tahu diri agar tidak jadi manusia yang kehilangan nurani.
Jangan-jangan, kita adalah Korsel itu sendiri.
Jika ya? Terlalu. (*)
Menot Sukadana