Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Sombong Itu Mahal

Oleh Nyoman Sukadana • 19 Februari 2026 • 17:15:00 WITA

Sombong Itu Mahal
Menot Sukadana (dok/pribadi)

TAK ada yang suka melihat kesombongan. Bikin jengkel. Tapi kalau sudah kena batunya? Panik sendiri. Dan harganya: mahal sekali.

Itulah yang kini sedang dirasakan Korea Selatan (Korsel).

Semenanjung itu sedang tegang. Tapi bukan panik karena ancaman nuklir Kim Jong-un, pemimpin tertinggi Korea Utara yang selama ini jadi musuh bebuyutannya. Bukan. Mereka justru sedang panik karena penyakit lama yang sulit dicarikan obatnya: Sombong.

Secara medis sosial, sombong itu gangguan sistem internal otak. Merasa diri paling putih. Paling maju. Lalu dengan entengnya menyamakan warga Asia Tenggara dengan monyet. Lalu menyebut kita "miskin".

Kabarnya, Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata mereka, Chae Hwi-young, mulai pusing tujuh keliling. Kerugian Korsel disebut-sebut mencapai angka yang bikin meriang: ratusan miliar rupiah.

Itu baru awal. Kalau terus berlanjut dan boikot meluas? Korsel terancam rugi ratusan triliun rupiah. Bisa-bisa industri hiburan K-Pop dan bisnis kecantikan "oplosan" mereka gulung tikar. Ribuan warga Negeri Ginseng bisa jadi pengangguran. Padahal biaya hidup di sana selangit mahalnya.

Penyebabnya? Sepele tapi fatal. Ulah jempol netizen mereka yang tidak sekolah etika. Bayangkan: hanya karena jempol, devisa negara bisa menguap begitu saja.

Hotel-hotel di Jeju mulai sepi. Bus wisata di Busan banyak yang masuk garasi. Kenapa? Ya rasisme itu tadi. Mereka menghina fisik kita. Mereka meremehkan ekonomi kita. Bahkan, grup band No Na asal Indonesia pun dihina. Hanya gara-gara syuting di sawah. Katanya: miskin dan kampungan.

Dalam kearifan lokal kita, orang-orang Korea ini sedang "mabuk". Mereka sedang kena Sapta Timira. Tujuh kegelapan yang membutakan mata batin.

Setidaknya ada tiga jenis mabuk yang menjangkiti mereka.

Pertama, mereka mabuk Surupa. Mabuk karena rupa. Merasa paling cantik dan paling tampan di Asia, lalu dengan ringannya menghina fisik orang lain.

Kedua, mereka mabuk Dhana. Mabuk karena harta. Merasa negaranya sudah jadi raksasa ekonomi, lalu memandang rendah tetangga. Mereka sebut kita "miskin".

Ketiga, mereka mabuk Guna. Mabuk karena kepandaian teknologi. Merasa paling jago urusan robot dan digital, tapi lupa kalau teknologi tanpa etika itu hampa.

Mereka mendongak terlalu tinggi. Terjebak dalam watak Adigang, Adigung, Adiguna. Merasa kuat karena kekuasaan. Merasa besar karena harta. Merasa sakti karena kepandaian teknologi.

Mereka menyombongkan kelebihan yang sebenarnya hanya titipan sementara. Mereka lupa, semua itu bisa hilang dalam sekejap hanya karena gerakan kolektif jempol netizen.

Watak seperti ini berbahaya. Sejarah sudah mencatat: kekuatan yang tidak dibarengi kerendahan hati adalah kerapuhan yang terbungkus kemegahan.

Harusnya mereka belajar lagi petuah tua kita: Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin. Jangan pernah merasa paling hebat. Biarkan dunia yang memberi nilai. Sebab, memuji diri sendiri adalah awal dari kejatuhan yang memalukan.

Kini alam semesta mulai bekerja. Dunia memberi penilaian lewat gerakan SEAblings. Saudara-saudara se-Asia Tenggara merapat. Barisan digital ini memang tak terlihat, tapi dampaknya nyata sekali.

Pesannya telak: Kalau Anda tidak bisa menghargai kami sebagai manusia, jangan harap kami mau memberi Anda devisa. Diplomasi jempol ini ternyata jauh lebih ampuh daripada nota protes diplomatik yang pakai jas rapi.

Bahkan, bos musik dunia sekelas Lucian Grainge dari Universal Music Group sampai ikut bersuara. Dia mengingatkan agar industri hiburan di sana jangan amnesia.

K-Pop tidak akan pernah mencicipi panggung megah di Amerika kalau tidak punya "tabungan" sukses di Jakarta atau Manila. Tanpa fans dari Asia Tenggara, mereka mungkin tetap jadi artis lokal. Sunyi di sudut semenanjung sendiri.

Saya melihat fenomena ini sebagai pengingat penting. Branding yang dibangun dengan modal triliunan rupiah bisa luluh lantak hanya karena satu kalimat merendahkan di media sosial.

Kita di Indonesia mungkin belum semaju mereka dalam urusan robot atau semikonduktor. Tapi kita punya sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang: Harga Diri. Sesuatu yang tak bisa dihasilkan oleh operasi plastik secanggih apa pun.

Dan perlu diingat: ketika martabat itu disentuh, netizen kita bisa berubah jadi pasukan paling solid di dunia.

Korsel lagi panik. Panik itu adalah obat pahit. Harus ditelan. Itu konsekuensi dari kesombongan yang teramat prematur. Mereka harus belajar bahwa ekonomi kuat tanpa etika sehat adalah bom waktu.

Ingatlah, di atas langit masih ada langit. Korsel harus belajar dari filosofi padi: Semakin berisi, semakin merunduk. Bukan malah mendongak tinggi, apalagi sampai menghina tempat padi itu tumbuh. Tanah yang hasil buminya mereka makan setiap hari agar mereka tetap bisa hidup sebagai manusia.

Bukan cuma bikin panik. Sombong itu memang mahal harganya.

Mau sombong lagi? (*)

Menot Sukadana