Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Wartawan Rebahan

Oleh Nyoman Sukadana • 21 Februari 2026 • 05:52:00 WITA

Wartawan Rebahan
Menot Sukadana (dok/pribadi)

SOAL melabeli seseorang, siapa lagi jagonya? Sudah pasti: wartawan.

Bukan cuma tokoh terkenal yang dibuatkan julukan. Kawan sendiri pun tak luput. Saya “korbannya”. Julukan baru itu: Wartawan Rebahan.

Gelar itu diberikan sesama wartawan senior. Dewa Sumerta dari Baliberkarya dan I Made Suteja dari MataDewata.

Alasannya?

Barangkali mereka melihat hidup saya santai sekali. Sering bangun kesiangan. Tiap hari cuma ngopi. Jarang lagi kelihatan lari-lari liputan. Cuma menulis esai dan opini. Saya tidak marah. Toh, tidak rugi juga pikir saya. .

Beda Kadek Putra, juga wartawan senior. Ia menyebut saya ini seperti orang yang tak butuh duit lagi. Ia tak salah. Barangkali karena saya sering melewatkan ajakan liputan. Tawaran menjadi narasumber pelatihan. Maupun menyusun konsep usaha bersama.

Dari mereka semua. Kadek Putra tampak paling kesal. Ia tipe orang blak-blakan. Tapi setia kawan. Dan sangat sulit percaya pada orang tertentu.

Saya menghargai sikapnya. Meski kadang menjengkelkan.

Sebetulnya di balik layar "rebahan" itu, kepala saya pusing tujuh keliling. Tiap hari pusing mikir bagaimana cari pendapatan tambahan. Bagaimana agar bisa bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang, jujur saja: lagi ngos-ngosan.

Selama empat tahun terakhir, saya bertarung dengan kondisi keuangan yang amburadul. Tubuh yang mulai gampang kelelahan. Beruntung, masalah itu sudah beres. Tapi bikin cukup trauma. Sekarang pun tetap masih terasa.

Pasalnya, saya terpaksa melepas sebagian aset. Warisan almarhum orang tua. Lahan yang mereka beli dengan cucuran keringat puluhan tahun. Saya malu mengakuinya. Acapkali ada rasa kecewa dan menyesal.

Beruntung, kakak saya cukup bijak menyikapinya. Dia tidak cerewet. "Jadikan pelajaran hidup. Kamu menghabiskan uang senilai harga satu rumah baru di Denpasar," ujarnya suatu kali. "Andai saja kamu bisa kelola uang dengan baik, hidupmu sudah pasti lebih baik sekarang. Jangan ulangi lagi".

Jleb.

Kalimat itu masuk ke ulu hati. Kakak saya sengaja tak membahasnya lagi karena tahu saya tipikal orang yang gampang kepikiran. Dia ingin saya belajar dari trauma itu agar lebih hati-hati. Lebih bisa mengelola uang.

Dari titik itulah, di tengah kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, saya menyusun ulang rencana hidup. Saya ingin masa tua yang tenang. Mandiri secara ekonomi. Kesehatan terawat. Tetap bisa menulis. Dan tetap bisa bermanfaat.

Saat ini, meski masalah besar sudah lewat, ekonomi saya masih bisa dibilang ngos-ngosan. Hidup hanya dari satu sumber penghasilan itu ngeri-ngeri sedap. Apalagi mengelola media kecil seperti Podiumnews. Sangat rentan guncangan.

Solusinya cuma satu: Harus cari sumber pendapatan tambahan.

Muncullah gagasan Podium Ecosystem (POST). Sebuah ekosistem bisnis media yang unit-unit usahanya saling terintegrasi. Saling mengunci. Saling mendukung. Salah satu unitnya adalah Kedai Kopi Redaksi.

Akhirnya saya pilih pulang kampung. Ke Mengwi, Badung. Di sana masih ada sisa lahan warisan orang tua yang belum termanfaatkan. Lokasinya memang agak jauh dari kota Denpasar. Rencananya saya bangun bertahap. Mungkin lima sampai tujuh tahun ke depan. Sambil mematangkan konsep dan riset kecil-kecilan.

Dulu, ambisi saya ingin bikin kedai kopi konsep industrial tengah kebun di tepi sawah. Keren tapi mahal. Sekarang saya balik: kedai kopi kampung saja. Sederhana. Pakai bahan bangunan daur ulang. Lebih murah, lebih cepat eksekusinya. Yang penting ada pemasukan harian yang masuk.

Tentu agar kelak jadi “Wartawan Rebahan" yang tak lagi ngos-ngosan. (*)

Menot Sukadana