Sakau Menulis
BELUM bisa bikin istilah baru, bukan wartawan namanya. Makin tinggi jam terbang, biasanya kian jago soal mengolah kata
Wartawan itu makhluk yang aneh. Ngobrol sedikit saja, keluar istilah baru. Seperti sumur yang tak pernah kering. Kreatifnya sering kelewatan. Barangkali itu sebabnya tulisan mereka terasa hidup.
Saya tidak sedang membela profesi sendiri. Ini pengamatan.
Beberapa waktu lalu saya nongkrong dengan teman-teman wartawan di Tabanan. Obrolan biasa. Kopi biasa. Yang tidak biasa, muncul satu istilah yang membuat saya tersentak.
“Sakau menulis.”
Itu vonis untuk saya.
Yang menjatuhkan vonis Gek Yuni. Wartawan perempuan dari sebuah koran grup media nasional. Gayanya tomboi. Bicaranya ceplas-ceplos. Kalau sudah mulai ngomong, seperti rem blong. Sulit disetop kalau sudah ketemu asyiknya.
Saya mengenalnya sejak di Fakultas Hukum Universitas Udayana. Ia adik angkatan. Kalau tak salah, sejak mahasiswa ia sudah aktif di pers kampus.
Kembali ke soal sakau.
Menurut Gek Yuni, saya seperti orang ketagihan menulis. Setahun terakhir ini saya memang rajin. Esai, opini, artikel budaya populer. Sepuluh bulan, lebih dari dua ratus tulisan terkumpul.
Angka itu tidak saya rencanakan. Tahu-tahu sudah sebanyak itu.
Apakah saya sakau?
Istilah “sakau” sebenarnya menyeramkan. Di dunia jalanan, itu identik dengan penderitaan karena ketergantungan. Ada yang menyebutnya “Sakit Karena Engkau”. Engkaunya narkoba. Ada pula yang mengaitkan dengan “suck out”, energi tersedot habis.
Intinya: siksaan.
Bedanya, “engkau” saya bukan narkoba. Tapi ide.
Ide-ide itu antre di kepala. Berisik. Minta keluar. Kalau tidak ditulis, justru menyiksa. Saya memang sulit tidur. Sering terjaga sampai dini hari. Daripada melamun tidak jelas, lebih baik menghidupkan komputer. Menulis.
Setidaknya ada yang jadi.
Menulis bagi saya bukan pekerjaan. Lebih mirip terapi. Kegelisahan disalurkan. Pikiran ditertibkan. Seperti kata Angga Wijaya, menulis itu proses penyembuhan. Saya setuju.
Kegelisahan tidak selalu buruk. Bagi penulis, kegelisahan adalah bahan bakar. Memaksa kita berpikir. Lahir pertanyaan-pertanyaan. Ide tulisan justru muncul dari sana.
Bandingkan dengan sakau yang lain. Sekarang banyak orang juga sedang sakau. Sakau komentar. Sakau marah di media sosial. Sakau menghujat orang yang berbeda pendapat. Energinya habis di jempol.
Mungkin mereka perlu sakau yang berbeda. Sakau menulis. Supaya kemarahan berubah menjadi kalimat. Bukan makian.
Kalau memang saya disebut sakau. Biarlah.
Kalau menulis adalah obat insomnia dan kegelisahan, saya akan terus mengonsumsinya. Lebih baik kecanduan merangkai kalimat daripada kecanduan merangkai kebencian.
Toh, sakau yang ini gratis.
Modalnya cuma satu: gelisah.
Dan untungnya, hidup di negeri ini selalu memberikan alasan untuk tetap gelisah, bukan?
Menot Sukadana