Dosis Tinggi
SARAN itu seperti obat. Harapannya satu: menyembuhkan. Membantu orang keluar dari masalah.
Ketika seseorang datang membawa masalah, lalu bertanya, “Menurutmu bagaimana?”, saat itu juga kita berubah peran. Dari teman menjadi dokter dadakan. Mendiagnosis. Menebak akar persoalan. Lalu menyiapkan resep.
Tentu, dosisnya bertahap
Tapi seperti obat, takaran itu menentukan. Salah dosis bisa mempercepat sembuh. Bisa juga bikin kaget.
Dosis paling rendah biasanya sederhana. Diam. Mendengar. Mengangguk pelan. Mengucapkan kalimat standar: “Sabar ya.” Itu seperti vitamin. Tidak menyelesaikan, tapi menyejukan.
Naik sedikit, masuk dosis sedang. Mulai ada nasihat. Kalimat-kalimat mendadak terdengar bijak. Seolah kita sudah pernah lulus dari semua masalah yang sebenarnya juga belum tentu pernah kita alami.
Nah, yang terakhir ini paling berbahaya. Dosis tinggi.
Kata-kata jadi lebih tegas. Nada suara tajam. Kalimat tidak lagi dibungkus basa-basi. Langsung ke inti. Telinga bisa panas. Hati bisa tersengat.
Saya pernah berada di fase itu.
Hampir dua puluh lima tahun liputan di lapangan membuat saya kenyang cerita. Susah, senang, lucu, pahit. Dunia wartawan membentuk karakter. Kadang terlalu keras.
Made Suteja salah satu saksi.
Ia wartawan senior. Belasan tahun di televisi lokal bagian dari grup media terbesar di Bali. Semua posisi pernah ia jajal. Kini ia membangun media online sendiri. Dua tahun berjalan, medianya tumbuh. Tidak mudah, tapi jalan.
Empat tahun lalu, saat pandemi masih menggigit, ia sering datang berdiskusi. Bertanya tentang manajemen redaksi. Soal pemasukan. Soal bertahan hidup di tengah badai.
Saya lebih dulu menjalankan media online. Itu saja alasan ia meminta saran.
Awalnya saya beri motivasi. “Jalan terus. Jangan ragu.” Itu dosis rendah.
Lalu naik sedikit. “Atur disiplin kerjamu.” Itu dosis sedang.
Entah kenapa, suatu hari saya meloncat ke dosis tinggi. Mungkin karena ia keras kepala. Mungkin karena saya kurang sabar. Kata-kata saya jadi tajam. Tanpa lapisan.
Saya tahu itu pedas.
Senin sore, sepulang liputan dari Pemkab Badung, kami singgah di warung kopi langganan. Persis di samping Sekretariat DPD PDI Perjuangan Badung yang sedang direnovasi. Dekat gapura selatan Puspem Badung.
Di sana saya meminta maaf.
“Saya mungkin pernah terlalu keras. Kalau terdengar saklek, itu karena saya anggap kamu teman dekat,” kata saya.
Ia tersenyum.
“Terima kasih Bli. Bli peduli,” jawabnya.
Saya paham, karakter saya tidak selalu ramah. Temperamental. Ia sudah sering melihat saya meledak pada pejabat atau sesama wartawan. Dunia liputan membentuk refleks cepat dan suara keras.
Cerita itu mengingatkan saya pada AD. Wartawan senior koran nasional. Tulisannya berani. Pertanyaannya sering membuat pejabat panas dingin.
Dua puluh tahun lalu saya juga pernah memberinya dosis tinggi. Padahal ia senior. Kata-kata saya waktu itu keras.
Baru tahun lalu saya sempat menjelaskan.
“Maaf Bang, dulu saya mungkin kelewatan,” kata saya di sebuah warung kopi di Kreneng. ES ikut mendengar.
AD tertawa kecil.
“Saya tidak pernah marah. Justru mungkin tanpa kata-katamu itu saya tidak sadar,” katanya.
Dari situ saya belajar.
Terkadang, orang justru sembuh karena dosis tinggi. Tapi tetap saja, itu bukan untuk semua pasien. Saran itu seperti obat; selalu ada efek sampingnya.
Apakah sekarang Anda sudah siap jadi dokter dadakan?
Menot Sukadana