Kalah Cantik
DENPASAR malam itu cantik sekali. Lampu merah menyala terang. Merah. Kuning. Hijau. Bergantian. Seperti orkestra yang sangat teratur. Aspalnya mulus. Taman kotanya rapi. Lampu-lampu hias memantul di kaca mobil yang melintas perlahan.
Denpasar memang sedang bersolek. Kota ini ingin tampil modern. Bersih. Tanpa cacat.
Namun, di bawah cahaya estetis itu, ada yang dianggap mengganggu. Ada pemandangan yang dicap sebagai "noda".
Denting gitar kecil di sela knalpot. Tubuh manusia yang disapu cat perak kaku. Tangan-tangan yang menadah di antara barisan mobil mahal. Bagi mereka yang duduk di dalam kabin ber-AC, ini adalah gangguan visual. Bagi pemerintah, mereka adalah noda yang harus segera dibersihkan dari kanvas kota yang sedang dicat rapi.
Maka, Kamis malam itu, sapu-sapu birokrasi bergerak. Namanya Sabergep. Sapu Bersih Gepeng. Sebuah nama yang efisien. Sekaligus dingin. Seolah-olah manusia yang sedang berjuang menyambung nyawa itu hanyalah debu. Cukup disapu, lalu hilang ditiup angin.
Hasilnya konkret. Dua pengamen kena. Satu manusia silver diciduk. Satu pengemis diamankan. Total empat nyawa. Mereka kalah. Mereka tersingkir dari aspal yang setiap hari mereka sapa. Mereka diangkat dari jalanan seolah-olah sedang membersihkan noda tinta di atas taplak meja putih yang mahal.
Kabid Ketertiban Umum, Anak Agung Ngurah Gede Yudie Asmara, turun tangan langsung. Sang Kabid bilang ini demi kenyamanan. Demi ketertiban umum. Dia benar secara aturan. Sangat benar. Tapi di sinilah ironinya: kemiskinan sering kali memang tidak punya tempat dalam definisi "nyaman".
Orang miskin itu selalu kalah oleh estetika. Kota harus cantik. Kota harus rapi. Sementara, kemiskinan itu kumuh. Kemiskinan itu bau matahari. Maka, ia harus "disapu". Seolah-olah dengan menghilangkan mereka dari pandangan mata, kemiskinan itu otomatis lenyap dari muka bumi.
Petugas bilang pendekatannya humanis. Dibina, bukan dihukum. Kalimat itu terdengar sangat indah di telinga. Tapi pembinaan sehebat apa pun sering kali kandas oleh satu hal nyata: perut yang lapar.
Saya membayangkan petugas bertanya pada si manusia silver: "Kenapa ke jalan?"
Jawabannya pasti pendek: "Lapar, Pak."
Setelah didata, mereka dilepaskan. Lalu apa? Apakah esoknya mereka langsung jadi pengusaha sukses? Atau jadi pegawai kantoran yang rapi?
Mustahil.
Besok, mereka pasti kembali. Mencari celah di antara lampu merah yang lain. Menghindari petugas yang sama. Ini seperti permainan kucing dan tikus yang abadi. Razia ini sebenarnya hanyalah sebuah potret kecil dari drama besar bernama ketimpangan. Satpol PP hanya menjalankan tugas membersihkan "gejala", tapi bukan "penyakitnya".
Penyakitnya adalah: mereka tidak punya pilihan.
Siapa yang mau berdiri di bawah terik matahari dengan tubuh dibaluri cat perak yang menyesakkan pori-pori? Siapa yang mau memelas di trotoar kalau ada meja makan yang terisi di rumah?
Tidak ada.
Tapi di kota yang semakin modern ini, ruang bagi mereka semakin sempit. Jalan raya yang dulu jadi sandaran nasib, kini dipasangi mata digital. Ada Garbasita. Ada bot WhatsApp. Warga kini bisa melaporkan "noda" ini semudah memesan makanan online. Klik, foto, kirim. Pasukan datang. Sapu.
Teknologi membuat persembunyian mereka semakin sulit. Warga pun diminta berhenti memberi. Katanya, memberi uang di jalan itu menjerumuskan. Logikanya masuk akal. Sangat masuk akal.
Tapi coba bayangkan jadi mereka. Saat tangan menadah dan semua kaca mobil tertutup rapat atas nama "edukasi". Di titik itu, mereka bukan hanya miskin harta. Mereka miskin eksistensi. Mereka ada, tapi dianggap tidak boleh terlihat.
Inilah nasib kaum marginal. Diusir dari trotoar atas nama keindahan. Dilarang meminta atas nama ketertiban. Kita memang butuh kota yang tertib. Kita butuh jalan yang aman. Tapi kita juga harus sadar, bahwa setiap kali kita berhasil "menyapu bersih" noda itu, ada sekumpulan manusia yang semakin tersudut ke pinggiran gelap.
Malam itu, operasi Sabergep sukses besar. Denpasar lebih rapi. Lampu merah lebih tenang. Citra kota kembali bersih. Glowing.
Tapi di balik ketenangan itu, ada tanya yang menggantung: setelah tersingkir dari lampu merah, ke mana lagi mereka harus pergi membawa rasa laparnya?
Dunia memang panggung sandiwara. Dan bagi mereka yang miskin, peran mereka hanyalah sebagai figuran. Yang harus segera keluar panggung saat lampu sorot kota mulai dinyalakan. Kota lebih suka memoles wajahnya daripada merawat manusianya.
Kasihan. Tapi aturan tetap aturan. Itulah ironi paling getir di atas aspal Denpasar. Sebuah kota yang cantik, namun terkadang terlalu dingin bagi mereka yang tak punya apa-apa. (*)
Menot Sukadana