Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Tragedi Sengkuni

Oleh Nyoman Sukadana • 31 Mei 2026 • 10:12:00 WITA

Tragedi Sengkuni
Menot Sukadana (vector/ai)

BRUTUS itu tragis.

Ia menusuk Julius Caesar. Kenapa? Karena cinta Republik.

Mari kita bedah dulu rahim sejarahnya. Marcus Junius Brutus tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah anak keturunan Lucius Junius Brutus, sang legendaris yang meruntuhkan monarki Romawi kuno dan mendirikan Republik. Darah anti-raja mengalir deras di tubuhnya. Beban sejarah itu berat sekali. Nama keluarganya adalah jaminan pelindung demokrasi Romawi.

Lalu datanglah Julius Caesar. Jenderal besar. Penakluk yang dicintai rakyat Romawi. Caesar melangkah terlalu jauh. Ia mengangkat dirinya sebagai diktator seumur hidup. Bagi Brutus, ini adalah lonceng kematian bagi Republik. Masa depan kebebasan Romawi dipertaruhkan.

Ironisnya, Caesar sangat menyayangi Brutus. Ada rumor yang menyebut Brutus adalah anak kandung Caesar dari hubungan gelap masa lalu. Caesar memperlakukannya seperti anak emas. Memberinya jabatan, pengampunan politik, dan masa depan yang cerah. Brutus berada di persimpangan jalan yang mengerikan. Memilih setia pada sosok bapak yang penuh kasih, atau setia pada tanah air yang sedang sekarat.

Bisikan para senator lain terus memprovokasi harga diri leluhurnya. Akhirnya, Brutus goyah. Ia memilih idealisme. Ia memilih Republik.

Hatinya hancur. Jiwanya robek. Setelah belati menembus jubah sang diktator, Brutus tidak pernah bisa tidur nyenyak. Detik ketika Caesar menatap matanya dan mendesiskan kalimat legendaris, "Et tu, Brute?"—Kau juga, Brutus?—moralitas Brutus langsung runtuh. Belati itu tidak hanya membunuh Caesar. Belati itu juga membunuh ketenangan jiwa Brutus. Seumur hidup. Ia dihantui rasa bersalah. Luar biasa besar.

Akhir hidupnya? Ya tragis itu. Republik yang ia bela justru jatuh ke dalam perang saudara yang lebih berdarah. Niat baiknya melahirkan monster tirani baru yang lebih absolut. Merasa gagal dan dikutuk oleh bayang-bayang Caesar, Brutus memilih mati di ujung pedangnya sendiri. Ada moralitas yang runtuh di sana.

Tapi Sengkuni? Jauh panggang dari api. Sengkuni tidak punya beban seperti itu.

Sengkuni tidak pernah susah tidur. Sepanjang malam di Astina, ia justru mendengkur. Tidur nyenyak sekali. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum sinis yang abadi.

Bagi Sengkuni, politik bukan soal moral. Bukan soal menyelamatkan negara. Politik baginya adalah pelampiasan dendam. Dendam masa lalu. Ketika keluarganya dihancurkan oleh keangkuhan dinasti Kurawa.

Mari kita tengok masa lalunya yang kelam. Sengkuni aslinya bernama Trigantaloka. Ia adalah pangeran dari Kerajaan Gandhara. Mengapa ia begitu penuh racun? Ada sejarah yang sangat perih di belakangnya. Kakak perempuannya, Gandhari, dipaksa menikah dengan Destarastra, pangeran Astina yang buta. Bagi keluarga Gandhara, ini adalah penghinaan luar biasa dari kerajaan besar Astina.

Cerita versi lain bahkan lebih sadis. Ayah dan seluruh saudara laki-laki Sengkuni dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah oleh Astina. Mereka hanya diberi makan satu butir nasi sehari untuk satu orang. Sang ayah tahu mereka semua akan mati kelaparan. Maka, sang ayah membuat keputusan ekstrem: seluruh jatah makanan diberikan kepada Sengkuni, anak yang paling cerdas, agar ia tetap hidup dan bisa membalas dendam keluarga. Satu per satu, ayah dan saudara-saudaranya mati kelaparan di depan matanya sendiri.

Sebelum mati, sang ayah mematahkan kaki Sengkuni agar jalannya pincang. Kenapa? Sebagai pengingat abadi akan kekejaman Astina. Rasa sakit di kakinya adalah alarm dendam yang berbunyi setiap kali ia melangkah.

Ia tidak butuh belati seperti Brutus. Fisik Sengkuni terlalu lemah untuk bertarung. Jalannya pincang. Tubuhnya kurus kering.

Tapi otaknya? Jangan tanya. Otaknya adalah laboratorium intrik paling mematikan dalam sejarah pewayangan.

Senjatanya cuma satu: kata-kata.

Dalam ajaran Hindu Bali, kita mengenal Tri Kaya Parisudha. Tiga perilaku yang harus disucikan: berpikir yang baik (Manacika), berkata yang baik (Wacika), dan berbuat yang baik (Kayika). Sengkuni menghancurkan ketiganya. Terutama Wacika-nya. Lidahnya adalah racun jahanam.

Dengan kata-kata, ia membius Duryudana. Dengan kata-kata, ia membakar kecemburuan Kurawa. Dengan kata-kata pula, ia merancang permainan dadu yang legendaris itu. Permainan yang merampas harga diri Pandawa. Yang menelanjangi Drupadi di depan publik.

Sengkuni adalah simbol hidup dari Sad Ripu. Enam musuh di dalam diri manusia. Di tubuh Sengkuni, Kroda (kemarahan) dan Matsarya (keirihatian) sudah menjelma jadi watak dasar. Jiwanya dikuasai kegelapan (Tamas).

Hebatnya, Sengkuni tidak pernah merasa bersalah. Tidak ada konflik batin sama sekali. Jiwanya sudah mengeras seperti batu karang semenjak hari-hari kelam di penjara bawah tanah Gandhara.

Ketika Bharatayuda pecah, jutaan nyawa melayang di padang Kurukshetra. Sengkuni mungkin sedang berdiri di atas bukit. Melihat darah mengalir. Sambil tetap tersenyum. Kematian jutaan orang itu adalah tumbal yang sepadan bagi hancurnya dinasti yang ia benci.

Misi pribadinya sukses besar: menghancurkan Astina dari dalam.

Di dunia modern, Brutus sudah langka. Politisi hari ini jarang yang mengkhianati bosnya karena alasan idealisme yang murni demi rakyat. Terlalu mewah untuk ukuran sekarang. Mengkhianati demi membela konstitusi? Ah, itu cerita dongeng lama.

Tapi Sengkuni? Sengkuni justru berkembang biak. Subur sekali.

Lihatlah panggung politik kita hari ini.

Sengkuni modern tidak lagi memakai jubah penasihat kerajaan kuno atau kain kemben pewayangan. Mereka memakai jas perlente. Baju safari. Merek terkenal. Jam tangan mewah.

Mereka ada di sekitar pusat kekuasaan. Kadang wujudnya pembisik. Kadang pengamat. Kadang pengatur skor di balik layar digital. Mereka memelihara luka masa lalu, kecewa karena tidak dapat jabatan, atau membawa misi pesanan dari luar untuk merusak tatanan.

Mereka tidak punya ideologi. Mereka tidak peduli dengan nasib partai. Nasib koalisi. Apalagi nasib rakyat.

Yang mereka cari cuma dua: panggung dan kepuasan pribadi.

Mereka memprovokasi si A agar membenci si B. Begitu konflik pecah, mereka bersembunyi di balik semak-semak. Sambil menikmati kopi hangat. Sambil menghitung keuntungan. Sambil melihat institusi hancur perlahan-lahan.

Dunia digital membuat kerja Sengkuni hari ini jauh lebih efisien. Luar biasa cepat.

Dulu, Sengkuni harus berbisik dari telinga ke telinga. Di lorong istana yang gelap. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membakar emosi Kurawa.

Sekarang? Cukup lewat satu narasi yang diplintir. Cukup lewat satu video pendek yang dipotong konteksnya. Lalu disebar lewat ribuan akun bayaran dan algoritma media sosial.

Dalam hitungan menit, satu negara bisa saling hujat. Saling cakar.

Inilah wujud paling purba dari zaman Kali Yuga. Zaman ketika lembu Dharma kehilangan tiga kakinya dan hanya berdiri pincang di atas satu kaki: kegelapan. Sengkuni modern merancang panggung Kali Yuga ini dalam skala digital. Sastra kuno menyebut di zaman ini manusia kehilangan wiweka—kemampuan membedakan yang baik (subha) dan yang buruk (asubha).

Melalui jempol akun bayaran, Sengkuni mengaburkan wiweka kolektif kita. Kebohongan yang diulang seribu kali menjelma jadi kebenaran bajakan. Pemimpin yang jujur dicaci, penjahat bertopeng dewa dipuja-puja. Masyarakat dibuat bingung, resah, lalu saling hantam dalam kegelapan spiritual yang pekat.

Lalu di mana Sengkuni-Sengkuni modern itu berada saat kekacauan terjadi?

Mereka sedang menonton layar ponsel mereka. Sambil tersenyum. Senyum sinis yang persis sama dengan senyum Sengkuni ribuan tahun lalu di lorong istana Astina.

Mereka lupa satu hal: Karmaphala. Hukum sebab-akibat yang mutlak dalam keyakinan Hindu. Sengkuni boleh tersenyum hari ini. Ia boleh merasa menang karena berhasil menarik tali pengadu domba di balik layar.

Namun, di akhir Bharatayuda, kulit Sengkuni dikuliti habis oleh Werkudara. Mulutnya yang penuh racun itu disobek. Itulah Phala (buah) dari perbuatannya. Sengkuni modern hari ini juga sedang menanam pohon yang sama. Tinggal tunggu waktu saja sampai buahnya matang.

Politik memang penuh abu-abu. Kita sering sulit membedakan mana kawan mana lawan. Mana pengkhianat tragis yang gamang seperti Brutus, mana bajingan murni yang penuh dendam seperti Sengkuni.

Tapi ada satu tips untuk mendeteksinya: waspadai mereka yang selalu tersenyum paling lebar di saat sebuah institusi, sebuah persahabatan, atau sebuah bangsa sedang mulai retak.

Sebab di balik retakan itu, ada tali yang sedang ditarik. Dan di ujung tali itu, Sengkuni sedang bekerja. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.