Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Aku Bebas

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Juni 2026 • 15:11:00 WITA

Aku Bebas
Menot Sukadana (vector/ai)

HEBAT benar Steven Knight ini. Sutradara dan penulis kawakan itu tahu betul cara menutup riwayat seorang jagoan tanpa jatuh pada lubang klise sinematik.

Lewat film layar lebar penutup Peaky Blinders: The Immortal Man (2026), kita tidak disuguhi akhir cerita yang murahan. Tidak ada heroisme yang meledak-ledak.

Yang ada justru sebuah dekonstruksi watak anti-hero yang amat mendalam melalui kematian sang tokoh sentral, Thomas "Tommy" Shelby.

Bagi penonton awam, kematian Tommy mungkin diratapi sebagai sebuah kekalahan yang tragis dan menyedihkan. Gembong Birmingham yang begitu perkasa itu akhirnya harus tumbang.

Tapi, benarkah begitu? Saya justru melihatnya terbalik. Kematian itu adalah kemenangan terbesar Tommy Shelby. Itulah satu-satunya momen di mana dia benar-benar menang melawan takdirnya sendiri.

Untuk memahami akhir cerita ini, kita harus mundur jauh dan melihat bagaimana latar belakang dunya dibentuk. Film ini mengambil latar waktu tahun 1940, tepat di jantung kecamuk Perang Dunia II.

Inggris sedang diguncang oleh serangan udara Jerman yang menghancurkan kota-kota industri, termasuk Small Heath di Birmingham yang menjadi tanah kelahiran geng Peaky Blinders.

Langit kota digambarkan kelabu, dipenuhi kepulan asap dari pabrik senjata keluarga Shelby yang dibom. Atmosfer perang ini mempertegas kondisi psikologis Tommy yang berada di titik nadir.

Sebelum konflik Perang Dunia II memanggilnya kembali, Tommy hidup dalam pengasingan diri yang sunyi. Dia menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan, menghabiskan waktu dengan menulis memoar dan meratapi masa laluinya.

Namun, ketenangan semu itu pecah saat Ada Thorne datang membawa kabar buruk tentang kehancuran bisnis keluarga, memaksanya kembali mengenakan topi baret ikoniknya demi menghadapi satu ancaman terakhir.

Coba kita renungkan perjalanan hidupnya sejak awal. Sejak pulang dari parit perlindungan Perang Dunia I, Tommy sebenarnya sudah mati. Jiwanya tertinggal di bawah tanah Prancis.

Yang pulang ke Birmingham hanyalah raga yang digerakkan oleh ambisi, trauma parah (PTSD), dan dendam yang tak berkesudahan.

Dia membangun imperium bisnis raksasa, menguasai jalanan kelam, bahkan berhasil menembus dinding parlemen. Kurang apa lagi? Uang melimpah. Kekuasaan mutlak berada di genggaman.

Tapi, apakah dia bahagia? Sama sekali tidak. Tommy adalah budak dari ambisinya sendiri.

Dia dikurung oleh rasa bersalah yang teramat besar atas kematian orang-orang tercinta yang gagal dia lindungi: Grace, Polly, dan Ruby.

Sepanjang film, hantu-hantu masa lalu ini terus membayangi setiap langkahnya. Tidurnya tidak pernah nyenyak; kepalanya selalu bising oleh suara tembakan perang dan penyesalan.

Kekuasaan yang dia genggam erat-erat itu, pada akhir cerita, hanyalah sebuah penjara emas. Dia menjadi tawanan dari nama besar "Shelby" yang dia ciptakan dengan darah.

Puncak penderitaan psikologis Tommy semakin dipertegas melalui pengungkapan nasib Arthur Shelby. Kakak tertua yang selalu setia di sisinya itu diceritakan telah tiada bahkan sebelum perang di film ini selesai.

Namun, fakta di balik hilangnya Arthur sangat mengoyak batin. Arthur tidak mati di tangan musuh, melainkan di tangan Tommy sendiri.

Arthur terjebak dalam keterpurukan emosional yang teramat dalam dan kecanduan zat terlarang yang merusak kewarasannya secara permanen.

Dalam sebuah momen keputusasaan yang sunyi, Tommy terpaksa melepaskan tembakan ke arah saudaranya itu sebuah tindakan yang ia sebut sendiri sebagai mercy killing atau pembunuhan demi belas kasihan.

Tommy harus menanggung beban dosa terbesar: melenyapkan nyawa kakaknya demi menyelamatkannya dari siksaan mental duniawi.

Kematian Arthur menjadi bukti mutlak bagi Tommy bahwa menara kekuasaan yang ia bangun tidak sanggup melindungi orang yang paling ia sayangi, melainkan justru menghancurkan mereka dari dalam.

Ketegangan film beralih dan semakin memuncak dengan hadirnya generasi baru, yaitu Erasmus "Duke" Shelby, putra haram Tommy. Duke adalah cerminan masa muda Tommy: dingin, cerdas, dan ambisius.

Di tengah kekacauan perang, Duke justru terlibat dalam konspirasi besar bersama John Beckett, seorang kolaborator Nazi. Mereka menjalankan operasi pemalsuan uang skala besar yang bertujuan merusak kestabilan ekonomi Eropa.

Kehadiran Duke dan keterlibatannya dengan fasisme menjadi titik balik krusial bagi kesadaran Tommy.

Melihat sepak terjang sang putra, Tommy menyadari sebuah lingkaran setan yang mengerikan. Kekuasaan yang ia bangun dengan susah payah tidak membawa kedamaian bagi penerusnya, melainkan sebuah kutukan moral yang terus diwariskan tanpa akhir.

Duke bukan lagi sekadar anak, melainkan perwujudan dari dosa-dosa masa lalu Tommy yang menolak untuk mati.

Tragedi kematian Ada Thorne yang dibunuh oleh komplotan Beckett menjadi pemantik terakhir yang menyadarkan Tommy: rantai berdarah ini harus diputus sekarang juga, dan ia sendiri yang harus menjadi ujung dari mata rantai tersebut.

Maka, ketika film ini sampai pada puncaknya, kita melihat sebuah antiklimaks yang genius.

Setelah berhasil menghentikan Beckett dalam sebuah konfrontasi mematikan yang membuat perutnya terluka parah akibat tembakan, Tommy tidak memilih untuk bertahan hidup.

Di tengah gudang tua yang bersimbah darah, Tommy yang sekarat beralih memeluk Duke yang datang menghampirinya. Dalam momen yang menguras air mata itu, Tommy membisikkan perintah terakhirnya kepada sang putra.

Ia meminta Duke untuk mengarahkan pistol tepat ke dadanya menggunakan peluru khusus yang telah ia persiapkan. Sebuah tindakan mercy killing balasan, di mana Tommy menuntut pembebasan yang sama seperti yang pernah ia berikan pada Arthur.

Duke, dengan tangan bergetar dan air mata berlinang, akhirnya menarik pelatuk, mengakhiri napas sang gembong legendaris di bawah kesaksian para pengikutnya yang tersisa.

Jasad Tommy Shelby kemudian dibawa menuju wilayah perbukitan sunyi untuk menjalani prosesi pemakaman tradisional Romani.

Tubuhnya dibaringkan di dalam sebuah karavan kayu tua milik kaum leluhurnya sebuah simbol kembalinya sang penguasa ke akar budayanya yang bebas dari jeratan modernisasi materialistis.

Karavan itu dipenuhi oleh foto-foto orang tercintanya yang telah mati mendahuluinya: Grace, Polly, Ruby, dan Arthur.

Saat api mulai dinyalakan dan melalap kayu-kayu karavan, membubung tinggi ke langit malam yang dingin, terdengar narasi suara batin (voiceover) Tommy yang mengucapkan kata-kata terakhirnya yang begitu ikonik dan penuh kegetiran:

"Aku bebas."

Hanya dua kata. Tapi maknanya dahsyat sekali. Kata-kata itu meruntuhkan seluruh definisi "anti-hero" tangguh yang selama ini melekat padanya.

Di momen itu, Steven Knight ingin menegaskan bahwa bagi manusia seperti Tommy Shelby, kemerdekaan sejati tidak akan pernah bisa dibeli dengan lembaran uang kertas, taktik perang, atau jabatan politik.

Baginya, kebebasan mutlak hanya bisa dicapai ketika dia berani melepaskan seluruh beban duniawi, memaafkan trauma parahnya, dan menghancurkan ambisi yang membelenggunya.

Kematian lewat tangan putranya sendiri adalah jalan keluar paling logis dari labirin rasa bersalah yang mengurungnya selama puluhan tahun.

Inilah bentuk dekonstruksi watak yang luar biasa dalam lanskap sinema modern.

Film ini berhasil mengubah stigma kematian karakter utama dari sebuah akhir yang menyedihkan menjadi sebuah pelepasan spiritual yang damai.

Karavan yang terbakar itu bukan simbol runtuhnya geng Peaky Blinders. Itu adalah simbol pembakaran belenggu dosa, trauma perang, dan penderitaan yang selama ini mengikat sang Immortal Man.

Melalui akhir kisah yang emosional ini, kita diajak berkaca tentang hakikat kehidupan kita sendiri.

Sering kali, kita bertingkah seperti Tommy Shelby terus mengejar materi, terus membangun menara ambisi setinggi langit, tanpa pernah menyadari bahwa kita sebenarnya sedang mempertebal dinding penjara kita sendiri.

Kita mengorbankan kedamaian batin demi sebuah validasi bernama kekuasaan.

Tommy Shelby mengajarkan kita sebuah ironi yang getir: terkadang, seseorang harus kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sendiri, untuk bisa benar-benar hidup dalam kedamaian dan meraih kemerdekaan yang sejati.

Dia harus melepas genggaman dunia agar jiwanya bisa melangkah bebas tanpa beban. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.