Seharga Motor
DULU, ada kawan jurnalis senior di Bali. Kena PHK.
Awalnya datang satu orang. Mengeluh. Lalu dua orang. Setelah tujuh tahun berjalan, tak terasa, total sudah belasan orang.
Rata-rata korban PHK. Wajah mereka kusut. Bingung mau melangkah ke mana. Mereka tanya saya: "Kalau mau bikin media online, berapa modalnya?"
Saya jawab enteng saja: "Seharga motor bekas."
Mereka melongo. Tidak percaya.
Saya bilang, cukup Rp10 juta. Itu sudah bersih. Sudah dapat website yang siap tancap gas. Sudah termasuk biaya pendirian Perseroan Terbatas (PT). Legalitas beres.
Murah sekali.
Bandingkan dengan buka warung kelontong. Perlu sewa tempat. Perlu beli rak. Perlu kulakan barang dagangan. Modalnya bisa puluhan, bahkan ratusan juta. Warung juga belum tentu langsung untung. Balik modalnya lama.
Bikin stres.
Tapi media online? Bagi wartawan senior di Bali, ini pilihan paling logis. Modalnya cuma otak. Ditambah jaringan narasumber dan humas. Networking. Itu saja.
Urusan menulis? Sudah khatam. Luar kepala. Urusan upload berita? Itu remeh. Sambil merem beres. Belajar dua jam juga bisa.
Kantor pun tidak perlu sewa ruko. Rumah sendiri jadi markas. Ruang tamu jadi ruang redaksi. Semua bisa dikerjakan sendirian di awal. Merangkap wartawan, redaktur, sekaligus direktur.
Hasilnya? Memang tidak langsung membuat kaya raya seperti konglomerat Jakarta. Tapi kalau untuk ukuran dapur wartawan, hasilnya "lumayan". Sangat lumayan.
Kadang ada yang mengeluh: "Saya tidak punya modal."
Saya balik tanya: "Punya motor tidak?"
"Punya," jawabnya.
"Beli cash atau cicil?"
"Cicil," katanya lagi.
Nah! Kalau cicil motor baru saja bisa, masa buat media online tidak bisa? Padahal motor nilainya turun, sedangkan media online itu mesin uang. Kalau benar-benar buntu modal tunai, pinjam koperasi. Setahun biasanya sudah balik modal.
Kuncinya satu untuk tahap awal: kerja sama publikasi dengan Pemda. Mulai dari Pemprov Bali sampai Pemkab/Pemkot. Itulah "napas" pertama media lokal.
Namun, di sini pula tantangannya. Jangan terlena. Banyak media lokal di Bali terjebak di sini. Mereka mati kutu ketika pencairan anggaran Pemda terlambat. Atau kolaps saat kerja sama diputus. Mengharap APBD terus-menerus itu berbahaya.
Bak candu. Bikin ketergantungan tak sehat.
Maka, jangan berhenti di situ. Di sinilah seninya bisnis.
Mengembangkan bisnis media itu ibarat merawat bayi. Awalnya digendong sendiri. Lama-lama dia besar. Butuh baju baru. Butuh sepatu baru.
Kalau mau naik kelas, volume berita harus ditambah. Kualitas harus dijaga. Artinya? Butuh orang. Butuh wartawan tambahan di lapangan.
Kalau jumlah berita sudah puluhan, tidak mungkin di-upload sendiri. Jari bisa keriting. Kepala bisa botak. Maka, butuh redaktur.
Belum lagi urusan distribusi. Sekarang zamannya algoritma media sosial. Berita bagus tanpa distribusi di medsos itu seperti berteriak di dalam gua. Sepi. Bergaung sendiri.
Maka wajib butuh admin medsos. Butuh orang yang paham konten video. Lalu butuh admin kantor untuk urusan surat-menyurat dan tagihan. Harus ada yang mencatat uang masuk.
Kalau karyawan sudah bertambah, rumah tidak lagi cukup. Perlu kantor kecil. Di tahap ini, modal tambahan memang harus keluar. Tapi jangan takut. Itulah tandanya usaha Anda sehat. Usaha Anda tumbuh.
Banyak pemilik media takut merekrut orang. Pikirnya, nanti pengeluaran membengkak. Padahal, usaha apa pun kalau mau besar harus berani rekrut karyawan.
Bukan supaya pemiliknya bisa duduk santai sambil ongkang-ongkang kaki. Bukan. Justru tugas pemilik berubah total. Dari urusan teknis, jadi urusan strategis.
Mengkoordinasi tim. Memikirkan inovasi. Menjaga kualitas produk. Dan mencari sumber iklan baru di luar Pemda. Memeras otak, bukan lagi memeras keringat kerja-kerja teknis.
Saya perhatikan sekarang, di Bali saja, ada sekitar lebih dari 100 media online yang aktif di lapangan. Sekitar 30 persennya mulai tumbuh berkembang. Mereka bukan lagi one-man show. Mereka sudah bisa punya 2 sampai 3 karyawan.
Memang pendapatan mereka mungkin "hanya" di kisaran Rp8 juta sampai Rp25 juta sebulan. Mentok Rp30 jutaan. Itu bruto. Angka receh bagi korporasi besar.
Tapi kalikan saja dengan jumlah media yang ada. Sudah berapa ratus lapangan kerja tercipta di daerah? Hanya dari modal "seharga motor bekas" tadi.
Inilah ekonomi kerakyatan versi digital. Dimulai dari keprihatinan, modal seadanya, tapi punya daya tahan luar biasa.
Anda punya motor?
Kalau punya, jangan Anda gadaikan.
Nanti istri Anda bisa marah. Atau mencak-mencak.
Emang berani? (*)
Menot Sukadana