Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Banjir dan Tangan Mengepal

Oleh Nyoman Sukadana • 25 Februari 2026 • 10:23:00 WITA

Banjir dan Tangan Mengepal
Menot Sukadana (dok/pribadi)

YANG pasti hanya satu: perubahan.

Tidak ada yang bisa menolak itu. Bali pun tidak.

Saya lahir di Bali. Besar di Bali. Menua pun di Bali. Saya menyaksikan sendiri perubahannya. Pelan-pelan. Lalu cepat sekali.

Dulu perubahan terasa seperti pertumbuhan. Sawah tetap hijau. Sungai tetap jernih. Orang-orang tetap saling kenal. Pariwisata datang, tapi Bali tidak terasa kehilangan dirinya.

Sekarang saya mulai bertanya: ini masih pertumbuhan atau sudah kelelahan?

Dua hari terakhir, banjir di mana-mana.
Hujan deras bukan hal baru. Sejak kecil saya sudah akrab dengan hujan Bali. Tapi dulu hujan turun, air mengalir. Tanah menyerap. Sungai menampung. Selesai.

Kini hujan turun dua jam saja, jalan berubah jadi sungai. Air masuk rumah. Orang panik. Media sosial penuh keluhan.

Apa yang berubah?

Sawah menyusut. Beton tumbuh.
Bukit dikeruk demi pemandangan. Sempadan sungai dipersempit demi bangunan. Kata yang paling sering terdengar satu: investasi.

Tidak ada yang salah dengan investasi. Yang salah adalah ketika investasi tidak lagi mengenal batas. Ketika yang dihitung melulu cuma cuan dan untung. Tapi abai akan daya dukung alam.

Kita mengejar kunjungan wisatawan. Tapi lupa menghitung kapasitas air. Kita mengejar dolar. Tapi lupa bertanya: tanah ini masih kuat menahan?

Bali sedang tidak baik-baik saja.

Dan ini bukan salah hujan.

Ini soal manusia. Soal keputusan. Soal tanda tangan di atas kertas. Soal izin yang keluar. Soal keinginan cepat kaya. Soal pejabat yang lupa diri. Soal warga yang ingin cepat dapat uang. Soal investor yang hanya melihat deretan angka di rekening bank.

Mahatma Gandhi pernah mengingatkan: bumi cukup untuk kebutuhan, tidak cukup untuk keserakahan.

Alam Bali sebenarnya sudah lebih dari cukup. Airnya ada. Tanahnya subur. Pemandangannya indah. Orang datang justru karena itu. Tapi ketika keindahan dianggap komoditas tanpa batas, kita mulai menguras sumbernya sendiri.

Saya merenung tentang satu hal sederhana: tangan.

Kita lahir dengan tangan mengepal. Seolah siap menggenggam dunia.
Kita mati dengan tangan terbuka. Tidak membawa apa-apa.

Di Bali, kita mengenal satu musuh dalam diri (Sad Ripu): loba. Keserakahan. Ia tidak punya kasta. Tidak kenal jabatan. Orang miskin bisa terjangkit. Orang kaya lebih mudah lagi.

Keserakahan selalu punya alasan. Demi keluarga. Demi masa depan. Demi investasi. Tapi jarang yang jujur bertanya: sampai kapan?

Kita sering tertipu oleh maya. Bayangan. Kita pikir tanah bertambah berarti aman. Kita pikir vila bertambah berarti makmur. Kita kira bangunan tinggi berarti kemajuan.

Padahal, semua itu sementara.

Ada hukum yang tak bisa disogok: karmaphala.
Apa yang ditanam, itu yang dipanen.

Jika kita menutup resapan air dengan beton, jangan kaget ketika air mencari jalannya sendiri. Alam tidak marah. Alam hanya bekerja sesuai hukumnya.

Kita juga mengenal Tat Twam Asi. Aku adalah kamu.
Merusak alam Bali sama saja merusak diri sendiri. Merusak masa depan anak cucu sendiri.

Yang kita butuhkan sebenarnya sederhana: pengendalian diri.

Harta itu perlu. Kesejahteraan itu penting. Dalam ajaran kita ada jagadhita. Tapi tujuannya bukan menumpuk. Tujuannya menuju ketenangan. Menuju moksartham.

Masalahnya, banyak yang berhenti di jagadhita. Lupa ajaran leluhur soal tujuan makna hidup.

Pertanyaannya tinggal satu: kapan kita merasa cukup?

Cukup bukan soal tumpukan harta. Cukup adalah soal kesadaran.
Gedung akan tua. Mobil akan berkarat. Tubuh akan melemah. Semua anitya. Tidak kekal.

Saat tiba waktunya, kita dibungkus kain putih tanpa kantong. Tangan terbuka. Kosong.

Kalau begitu, untuk apa terus mengepal?

Banjir ini mungkin bukan sekadar genangan air. Mungkin ini peringatan. Bahwa ada batas yang sedang kita dorong terlalu jauh.

Belajar membuka tangan mungkin jauh lebih sulit daripada menggenggam. Tapi mungkin di situlah letak kemerdekaan.

Anda sudah merasa cukup hari ini?

Atau masih ingin menggenggam, sampai tangan pegal sendiri?

Menot Sukadana