Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jembatan Generasi

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Februari 2026 • 14:19:00 WITA

Jembatan Generasi
Menot Sukadana (dok/pribadi)

SEBAGAI penghubung jarak keterpisahan, orang membangun jembatan. Kadang dari baja. Kadang dari beton. Tapi yang paling sering justru tak terlihat bentuknya. Ia bernama ingatan. Ia bernama cerita. Ia bernama tulisan.

Tanpa itu, jarak antargenerasi bisa lebih jauh dari jarak antarpulau.

Bahkan untuk jual beli barang bekas pun kita butuh penghubung. Marketplace adalah jembatan antara yang tak saling kenal. Untuk mencari jodoh juga begitu. Ada mak comblang, ada aplikasi. Semua bekerja sebagai penyambung. Apalagi untuk menyambungkan zaman yang berbeda.

Beberapa minggu lalu saya ngopi di sebuah warung di Dalung. Bersama Angga Wijaya. Seperti biasa, obrolan warung kopi dimulai dari yang ringan. Soal harga kopi. Soal lalu lintas. Lalu pelan-pelan menghangat. Masuk ke dunia kepenulisan.

“Bagaimana soal tulisan mengulas kehidupan kaum urban?” tanya Angga.

Pertanyaan itu sederhana. Tapi jawabannya panjang.

Sekarang banyak penulis muda dari kalangan Gen Z yang menulis isu-isu kekinian. Soal kota. Soal gaya hidup. Soal kafe. Soal relasi yang cair. Mereka piawai. Bahasanya segar. Sudut pandangnya lincah.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa direkayasa: pengalaman zaman.

Mereka tidak mengalami langsung bagaimana dinamika budaya kontemporer era 80-an, 90-an, hingga awal 2000. Mereka tidak merasakan transisi dari mesin tik ke komputer. Dari surat pembaca ke SMS. Dari telepon rumah ke ponsel. Dari kaset pita ke MP3.

Sebagai generasi yang lahir awal 80-an, Angga tentu menyimpan memori itu. Ia hidup di tengah perubahan itu. Ia bukan sekadar membaca sejarahnya. Ia menghirup suasananya.

“Mereka bisa saja menulis tentang era itu,” kata saya. “Tapi akan beda jika yang menulis adalah saksi langsung.”

Sejarah selalu lebih hangat jika dituturkan oleh yang pernah kedinginan di dalamnya.

Kita punya contoh. Rosihan Anwar. Wartawan empat zaman. Ia menyaksikan penjajahan Belanda. Pendudukan Jepang. Orde Lama. Orde Baru. Ia bukan hanya membaca arsip. Ia hidup di dalam arsip itu.

Tulisannya tajam, tapi ringan. Kolom-kolomnya kemudian dihimpun menjadi buku. Seri Sejarah Kecil atau Petite Histoire menjadi jembatan bagi generasi setelahnya untuk memahami denyut zaman yang telah lewat.

Di Bali, ada Widminarko. Usianya kini lebih dari 85 tahun. Pilar Bali Post sejak era Ketut Nadha. Ia menjadi wartawan sejak tahun 60-an. Sampai sekarang masih menulis. Lewat Facebook. Tentang tokoh-tokoh Bali terdahulu. Tentang dinamika pers era 60 hingga 80-an.

Bali Post sendiri bukan koran kemarin sore. Ia terbit sejak 1948 dan menjadi salah satu surat kabar tertua yang masih eksis di Indonesia. Di negeri ini, hanya sedikit koran yang mampu bertahan lintas zaman. Kedaulatan Rakyat (KR) di Yogyakarta yang berdiri tahun 1945 masih terbit sampai sekarang. Suara Merdeka di Semarang yang lahir tahun 1950 juga tetap hidup. Mereka bukan sekadar perusahaan media. Mereka adalah saksi sejarah bangsa.

Di dalam ruang redaksi koran-koran tua itu, generasi demi generasi bertemu. Wartawan muda belajar dari wartawan senior. Cerita-cerita lama tidak dibiarkan hilang begitu saja. Arsip bukan hanya disimpan, tapi dihidupkan kembali lewat tulisan.

Saya selalu menikmati tulisan Pak Widminarko. Bukan hanya karena isinya. Tapi karena itu seperti mendengar cerita langsung dari ruang waktu yang tak lagi bisa kita kunjungi.

Rosihan Anwar dan Widminarko telah menjadi jembatan. Tanpa perlu membangun monumen. Cukup dengan konsistensi menulis.

Mereka menjalankan apa yang pernah diingatkan Bung Karno: Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Dalam tradisi Hindu Bali, ada filosofi kawitan. Mengingat leluhur. Menyadari asal-usul. Jika tahu dari mana kita berasal, kita tidak mudah tercerabut.

Barangkali itu sebabnya tradisi budaya Bali tetap kuat. Seperti bangsa Tionghoa yang merantau ke mana pun tetap memegang budaya leluhurnya. Seperti Jepang yang maju dengan disiplin dan etos kerja warisan nilai lama. Singapura pun membangun modernitasnya dengan nilai Konfusianisme yang ditanamkan Lee Kuan Yew.

Maju tanpa kehilangan akar.

Kembali ke Dalung. Ke meja kopi itu.

Saya katakan kepada Angga: ia punya bakat kuat menulis. Ia memahami kompleksitas sosial. Ia mampu mengubah hal yang tampak remeh menjadi esai berbobot, tanpa kehilangan kesederhanaan bahasa.

Itu bukan datang tiba-tiba. Ia pernah kuliah di Jurusan Antropologi Universitas Udayana. Ia tumbuh di lingkungan kesusastraan modern Bali lebih dari 20 tahun. Ia membaca banyak buku. Dan yang paling penting: ia disiplin.

Dua puluh tahun menulis. Tujuh belas buku lahir. Itu bukan soal bakat. Itu soal napas panjang.

“Kita tidak harus menjadi penulis hebat,” kata saya kepadanya. “Cukup menjadi penulis yang baik. Syaratnya satu: disiplin dan konsisten. Menjadi penulis yang baik saja tidak semua orang mampu.”

Ia lalu bertanya, “Bagaimana prospek pembaca isu urban dan budaya populer?”

Justru tinggi. Hari ini mayoritas demografi adalah Gen Z dan Milenial. Mereka hidup di kota. Mereka mencari cermin untuk memahami dirinya.

Di sinilah peran generasi tengah menjadi penting.

Angga adalah Milenial. Ia lebih dekat ke Gen Z. Ia memahami bahasa mereka. Ritme mereka. Kecemasan mereka. Tapi ia juga cukup jauh untuk bisa melihatnya dengan perspektif.

Itulah posisi jembatan.

Saya mencontohkan fenomena yang sempat viral: wajah boros pada Gen Z. Seolah-olah itu gejala baru. Padahal akhir 80-an dan 90-an kita mengenal istilah slank Bali: Cetu. Cenik Tua. Anak muda yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya.

Fenomena sosial selalu berulang. Hanya istilahnya yang berubah.

Jika ini diulas dari akar epistemologinya, dari konteks sosial budayanya, Gen Z justru akan terkejut. Ternyata kegelisahan yang mereka alami pernah juga dialami generasi sebelumnya.

Di situlah tulisan menjadi jembatan. Menghubungkan kegelisahan lama dengan kegelisahan baru. Menghubungkan istilah Cetu dengan “wajah boros”. Menghubungkan mesin tik dengan laptop. Menghubungkan surat pembaca dengan kolom komentar.

Tanpa jembatan itu, setiap generasi merasa paling unik. Paling menderita. Paling modern. Padahal mereka hanya berjalan di lintasan yang sama dengan sepatu berbeda.

Kita tidak kekurangan penulis. Kita sering kekurangan penghubung.

Penghubung yang tidak menggurui. Tidak memaksakan nostalgia. Tapi juga tidak memutus masa lalu.

Menjadi jembatan bukan berarti berdiri di tengah tanpa arah. Justru ia menguatkan dua sisi tepi.

Saya percaya, setiap generasi membutuhkan Rosihan Anwar-nya sendiri. Membutuhkan Widminarko-nya sendiri. Membutuhkan penulis yang mau berdiri di antara masa lalu dan masa depan.

Dan mungkin, di warung kopi kecil di Dalung itu, saya sedang melihat satu calon jembatan baru.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kekurangan gedung tinggi. Ia runtuh ketika generasi tidak lagi saling memahami.

Dan memahami selalu dimulai dari cerita. (*)

Menot Sukadana