Kawitan dan Bangsa Linglung
KALAU ada keluarga di Bali kena musibah beruntun, biasanya langkahnya satu: nunas baos atau metuunan. Mencari petunjuk. Pergilah mereka ke orang pintar. Ke balian.
Di sana, jawaban yang keluar sering kali mirip. Hampir jadi standar. "Anda lupa Kawitan," ujar sang balian dengan nada berwibawa.
Anda mungkin tersenyum. Atau menganggapnya takhayul. Tapi tunggu dulu. Jangan buru-buru sinis. Di balik bahasa ritual itu, ada sebuah kebenaran psikologis yang sangat dalam. Benar-benar dalam.
Kawitan bukan sekadar soal silsilah di atas kertas. Bukan cuma soal siapa kakek buyut kita. Kawitan adalah akar. Ia adalah titik berangkat. Ia adalah asal-mula.
Orang Bali punya keyakinan kuat: siapa yang lupa Kawitan, dia akan linglung. Hidupnya akan bingung. Ibarat pohon, akarnya keropos. Tertiup angin sedikit saja, tumbang. Masalah kecil jadi besar. Masalah besar jadi bencana.
Tapi, fenomena lupa Kawitan ini sekarang sudah meluas. Bukan lagi soal satu keluarga. Ini sudah jadi masalah satu bangsa. Kita sedang mengalami apa yang saya sebut sebagai fenomena Kebarat Kebirit.
Plesetan dari gaya kebarat-baratan yang akhirnya membuat kita lari kocar-kacir. Bingung. Linglung.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat itu sakti. Singkatannya lebih sakti lagi: Jas Merah. Itulah pidato terakhir Bung Karno sebagai Presiden. Tahun 1966. Sebuah wasiat mental agar bangsa ini punya jangkar.
Banyak yang lupa. Bung Karno itu separuh Bali. Ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah perempuan ningrat dari Singaraja. Dari rahim itulah Putra Sang Fajar lahir.
Itulah mengapa alam spiritual Bung Karno itu sangat Bali. Beliau paham betul konsep Kawitan. Beliau paham bahwa manusia itu seperti pohon. Semakin tinggi tajuknya menyentuh langit, semakin dalam akarnya harus menghujam bumi.
Jika Jas Merah diabaikan, akarnya putus. Pohonnya roboh.
Kenapa kita bisa linglung kalau lupa akar? Mari kita bedah secara psikoanalisis.
Dalam ilmu psikologi, identitas itu adalah jangkar ego. Manusia membangun konsep diri dari cermin sosialnya: keluarga, tradisi, dan leluhur. Inilah Kawitan. Inilah Self yang utuh.
Ketika seseorang memilih untuk Kebarat Kebirit, dia sebenarnya sedang melakukan penolakan terhadap dirinya sendiri. Self Rejection.
Dia melihat "Barat" sebagai sosok ideal yang sempurna. Dalam psikoanalisis, ini disebut Idealized Other. Dia mengejar gaya hidup itu. Bicaranya. Seleranya. Sampai cara berpikirnya.
Masalahnya adalah dia tidak pernah benar-benar menjadi orang Barat. Tapi dia sudah terlanjur membuang identitas aslinya. Dia menganggap Jas Merah itu kuno.
Hasilnya? Dia berada di ruang hampa. Di wilayah abu-abu. Dia bukan lagi orang Bali atau Indonesia yang otentik, tapi dia juga bukan orang Barat yang asli.
Inilah fase bingung yang dimaksud dalam keyakinan Kawitan. Secara psikoanalitis, ini adalah Identity Diffusion. Ego-nya pecah. Dia kehilangan kompas internal. Maka tindakannya menjadi tidak karuan. Kebirit-birit. Mengejar pengakuan tapi tidak pernah merasa penuh.
Bung Karno sudah memperingatkan soal ini berkali-kali. Kebarat Kebirit adalah warisan mental kolonial. Perasaan rendah diri yang akut. Inferiority Complex. Kita merasa nilai-nilai Kawitan itu menghambat kemajuan.
Padahal bangsa-bangsa besar di dunia justru maju karena modal budayanya. Mereka justru menjaga Jas Merah mereka dengan sangat ketat.
Lihat Jepang. Mereka maju bukan karena jadi Amerika. Mereka maju karena punya Bushido. Disiplin dan kehormatan bukan sekadar slogan. Tapi kebiasaan. Budaya malu mereka lebih kuat dari hukum formal mana pun. Mereka punya teknologi masa depan, tapi jiwa mereka tetap di zaman samurai.
Lihat Tiongkok. Bangkit jadi raksasa ekonomi karena memegang teguh ajaran Konfusius. Ada nilai Xiao. Bakti kepada orang tua dan leluhur. Itu adalah Kawitan versi mereka. Ada Guanxi. Jaringan relasi berbasis kepercayaan.
Lihatlah diaspora Tionghoa di seluruh dunia. Generasi berganti. Kewarganegaraan berubah. Tetapi keterhubungan dengan nilai leluhur tetap dipelihara. Itulah rahasia kekuatan ekonomi konglomerasi di Asia Tenggara. Mereka tidak melupakan tanah leluhur meski telah ratusan tahun ditinggalkan oleh kakek buyutnya. Identitas yang stabil melahirkan solidaritas. Solidaritas melahirkan jaringan. Jaringan melahirkan kekuatan ekonomi.
Pecinan di seluruh dunia bukan sekadar tempat tinggal. Itu adalah pusat syaraf ekonomi global yang basisnya adalah kepercayaan dan akar budaya. Tiongkok modern mendapat keuntungan luar biasa dari jaringan diaspora ini. Modal budaya berubah menjadi modal ekonomi.
Singapura pun begitu. Banyak yang mengira mereka sangat Barat karena bahasa Inggrisnya. Salah besar. Lee Kuan Yew (LKY) justru membangun Singapura dengan "Cara Asia".
LKY sangat sadar. Singapura tidak punya sumber daya alam. Modalnya cuma manusia. Maka dia mengadopsi ajaran Konfusianisme. Dia menempatkan keluarga sebagai unit terkecil negara. Kepentingan kolektif diletakkan di atas individu. Pemimpin harus jadi teladan atau Junzi.
Singapura stabil karena nilai keteraturan, meritokrasi, dan kepatuhan hukum menjadi kultur bersama. Mereka mengambil teknologi dari Barat, tetapi tetap memakai sistem nilai milik sendiri. Mereka tidak bingung karena mereka tahu Kawitan-nya.
Bayangkan kalau Lee Kuan Yew cuma Kebarat Kebirit. Singapura mungkin cuma jadi kota pelabuhan yang kumuh dan kacau.
Di Bali dan Indonesia, kita punya modal yang sama mewahnya. Kita punya gotong royong. Kita punya kesederhanaan. Kita punya penghormatan pada alam. Kita punya spiritualitas yang kuat.
Tapi masalah muncul ketika Kawitan cuma berhenti di ritual. Cuma jadi urusan ke balian saat kena musibah. Tapi tidak menjadi karakter dalam bekerja. Tidak menjadi integritas dalam berbisnis. Tidak menjadi etika dalam berpolitik.
Kita ini kaya modal budaya, tapi miskin konsistensi.
Kita menganggap modernitas itu berarti harus meninggalkan tradisi. Padahal Jepang menunjukkan tradisi adalah mesin modernitas. Tiongkok menunjukkan memori peradaban bisa jadi fondasi ekonomi. Singapura menunjukkan disiplin nilai bisa membangun stabilitas kelas dunia.
Kawitan, Jas Merah, Bushido, atau Konfusianisme pada dasarnya adalah ekspresi berbeda dari satu prinsip yang sama. Bangsa yang terhubung dengan akar budayanya akan memiliki daya tahan dan jaringan yang lebih kuat.
Modal budaya itu tidak terlihat seperti gedung pencakar langit. Tetapi ia adalah fondasi yang menentukan bagaimana sebuah bangsa bekerja dan membangun sistem.
Kebarat Kebirit itu sebenarnya adalah tanda kelelahan jiwa. Lelah karena terus-menerus memakai topeng yang bukan miliknya.
Sudah saatnya kita berhenti abai pada Jas Merah. Sejarah dan asal-usul itu bukan belenggu. Justru itu adalah sayap.
Bung Karno sudah menunjukkan caranya. Menjadi modern tidak harus jadi kebarat-baratan. Menjadi maju tidak harus lupa pada ibu yang melahirkan. Menjadi hebat tidak harus membuang Kawitan.
Kalau kita kembali pada Kawitan, kita tidak akan lagi linglung. Kita akan punya kepercayaan diri yang otentik. Kita akan sadar bahwa menjadi Indonesia dan menjadi Bali adalah modal kelas dunia. Bukan modal untuk jadi pajangan turis semata.
Tentu saja, semua ini hanya berlaku kalau kita masih punya niat untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Kalau kita masih punya rasa bangga siapa kita sebenarnya.
Tapi kalau memang lebih nyaman lari kebirit-birit mengejar bayangan sambil berharap dipuji sebagai "warga dunia" yang modern, ya silakan saja dilanjutkan.
Lagi pula, menjadi linglung di tengah keramaian bukankah gaya hidup paling mutakhir saat ini? Menjadi asing di rumah sendiri bukankah dianggap keren oleh sebagian orang kita?
Asal nanti kalau hidup terasa berat dan nasib terasa buntu, jangan buru-buru menyalahkan balian. Jangan tanya balian mengapa kita kehilangan arah. (*)
Menot Sukadana