Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Tiga Sehat

Oleh Nyoman Sukadana • 10 April 2026 • 07:44:00 WITA

Tiga Sehat
Menot Sukadana (dok/pribadi)

USIA 48 itu angka krusial. Bagi saya, itu angka pertaruhan. Angka untuk memutuskan: apakah kapal ini akan dibiarkan karam, atau buang muatan agar tetap bisa berlayar.

Saya memilih yang kedua.

Waktu itu, kondisi keuangan saya morat-marit. Hutang menumpuk. Akibat krisis di usia 45 sampai 47 tahun. Rasanya sesak. Logika saya macet karena logistik saya sekarat.

Maka, saya ambil keputusan pahit. Saya jual sebagian aset. Tidak apa-apa kehilangan beberapa "bidak" asal Raja tidak skakmat.

Sekarang saya usia 49 tahun. Beberapa bulan lagi genap setengah abad.

Kondisi finansial mulai pulih. Jaring pengaman mulai dipasang lagi. Lebih kuat. Lebih hati-hati. Dari pengalaman "berdarah" itu, saya merumuskan satu filosofi baru: Tiga Sehat.

Itu modal saya untuk pensiun. Untuk wanaprasta modern.

Sehat pertama: Sehat Finansial.

Saya penganut aliran realisme. Saya setuju dengan pepatah: Logika tanpa logistik itu mustahil.

Bagaimana mungkin seorang penulis bisa berpikir jernih kalau perutnya lapar? Bagaimana mungkin seorang kolumnis bisa independen kalau cicilannya macet?

Kebebasan pena itu harganya adalah kemandirian ekonomi.

Itu sebabnya saya bangun Podium Ecosystem (POST). Ini bukan sekadar bisnis media. Ini adalah "bendungan" finansial saya. Agar di hari tua nanti, dapur saya tetap mengepul dari unit bisnis yang berkelanjutan.

Saya tidak mau main-main. Saya manfaatkan aset properti yang tersisa. Ada bangunan dan lahan seluas belasan are di pinggir kota Denpasar. Itu yang akan saya "sulap" menjadi markas POST dan Selasar Aksara.

Tanah seluas itu bukan untuk gaya-gayaan. Itu adalah fondasi. Itu adalah tempat di mana ekonomi dan literasi bertemu. Di sana, mesin bisnis bekerja supaya pikiran saya bisa tetap merdeka.

Saya ingin menulis karena saya ingin berbagi pemikiran. Bukan menulis karena terpaksa mengejar honor untuk bayar listrik.

Kalau finansial sehat, pikiran jadi merdeka. Pena jadi tajam. Tidak bisa dibeli. Tidak bisa disetir.

Sehat kedua: Sehat Tubuh.

Dulu, waktu jadi jurnalis lapangan, saya ini "penjahat" bagi tubuh saya sendiri. Lupa makan. Lupa tidur. Kejar deadline sampai pagi. Hujan diterjang.

Sekarang tidak bisa lagi begitu.

Saya sadar: tubuh ini adalah rumah bagi ide-ide saya. Investasi masa pensiun yang paling mahal bukan sekadar tanah di pinggir kota, tapi jantung yang kuat dan otak yang segar.

Saya ingin menikmati masa pensiun di Selasar Aksara nanti dalam kondisi bugar. Bisa ngopi sambil diskusi berjam-jam di lahan belasan are itu. Tanpa harus sering-sering ke rumah sakit.

Apa gunanya punya ekosistem bisnis kalau tubuh kita sudah "rusak" sebelum sempat menikmatinya? Jadi, sehat fisik adalah infrastruktur literasi yang mutlak.

Sehat ketiga: Sehat Berkarya.

Inilah alasan kenapa saya bertransformasi. Dari jurnalis "pelapor" menjadi "kolumnis".

Seorang pelapor butuh kaki yang kuat. Seorang kolumnis butuh endapan pikiran yang dalam.

Saya ingin menua dengan otak yang tetap bekerja. Saya tidak mau pensiun lalu diam. Saya mau tetap berbagi pemikiran kepada publik. Lewat tulisan. Lewat buku.

Bagi saya, sehat berkarya adalah obat awet muda. Selama kita masih gelisah melihat ketidakadilan, selama kita masih punya energi untuk menulis opini, selama itulah kita masih "hidup".

Tiga sehat ini saling mengunci.

Tidak bisa sehat berkarya kalau tubuh sakit-sakitan. Tidak bisa sehat tubuh kalau finansial berantakan: bisa stres. Dan tidak ada gunanya sehat finansial kalau kita tidak berkarya lagi.

Di usia 49 ini, saya sedang merapikan ketiga-tiganya.

Saya sedang membangun "mesin" yang bisa berjalan sendiri di POST. Agar nanti di usia 55, saya tinggal duduk manis di markas pinggir kota itu. Memperhatikan literasi masyarakat berkembang. Sambil terus menulis esai-esai pendek seperti ini.

Krisis kemarin adalah guru besar saya. Dia mengajarkan saya untuk rendah hati. Mengajarkan saya untuk berani melepas yang membebani.

Kini, jalurnya sudah jelas.

Kapal sudah stabil. Mesin sudah diperbaiki. Bahan bakar sudah diisi.

Tinggal berlayar menuju dermaga 55 dengan Tiga Sehat di tangan.

Siapa bilang usia 49 itu terlambat? Bagi saya, ini justru waktu yang paling tepat untuk menjadi "penghuni podium" yang sesungguhnya.

Podium pikiran. Podium karya.

Dan tentu saja, podium yang logistiknya sudah aman di atas lahan belasan are itu. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.