Tetap Wartawan
WARTAWAN itu tidak ada pensiunnya. Begitu kata orang.
Saya kurang setuju. Saya punya istilah sendiri: wartawan itu tidak ada matinya.
Selama jempol masih bisa mengetik. Selama mata masih mampu melihat ketidakadilan. Selama hati masih gelisah pada kebohongan, ya dia tetap wartawan. Sampai napas terakhir. Sampai Tuhan memintanya pulang.
Sebab wartawan itu bukan jabatan. Bukan pangkat. Bukan pula kartu identitas yang dikalungkan di leher untuk masuk acara seremoni.
Wartawan itu kata kerja.
Selama ia masih bekerja mencari kebenaran, ia tetap wartawan. Tidak peduli umur berapa. Tidak peduli rambut sudah sewarna kapas. Tidak peduli tubuh mulai digerogoti usia.
Dari situlah lahir istilah: wartawan kawakan.
Apa Itu Kawakan?
Definisinya sederhana.
Bukan soal berapa lama duduk di ruang redaksi berpendingin udara. Bukan soal setinggi apa jabatan di struktur perusahaan media. Bukan pula soal berapa banyak trofi yang dipajang di ruang tamu.
Wartawan kawakan itu soal bau matahari dan bau aspal.
Mereka adalah manusia yang sudah kenyang makan asam garam. Sudah biasa dihardik pejabat. Sudah kebal diancam. Bahkan mungkin pernah merasakan dinginnya lantai penjara demi sebuah berita.
Pengalaman itulah yang membuat mereka memiliki penciuman berbeda.
Wartawan muda biasanya lincah. Larinya cepat. Gawainya mutakhir. Kameranya tajam.
Tetapi wartawan kawakan memiliki sesuatu yang tidak dijual di toko aplikasi mana pun: intuisi.
Ia tidak perlu banyak bertanya. Cukup duduk di pojok warung sambil menyeruput kopi hitam yang mulai dingin. Mendengar obrolan kecil di pinggir jalan.
Ia sudah tahu mana berita yang benar-benar penting, mana yang sekadar riuh sesaat.
Ia bisa merasakan kapan seorang pejabat sedang menyembunyikan sesuatu, meski wajahnya tersenyum manis di depan kamera. Ia bisa mencium bau kebusukan, meski sudah dibungkus parfum paling mahal.
Tiga Monumen
Ketika bicara wartawan kawakan, ingatan saya selalu melayang pada Rosihan Anwar.
Tiga perempat hidupnya dihabiskan untuk dunia jurnalistik. Pengalamannya melintasi banyak zaman: masa penjajahan Jepang, era Soekarno, Soeharto, hingga reformasi.
Pada awal 1940-an, ia merintis karier di Asia Raya. Dari sana lahir majalah Siasat dan koran Pedoman. Ia bukan hanya wartawan, tetapi juga guru bagi banyak jurnalis.
Bahkan menjelang akhir hayatnya di usia 89 tahun pada 14 April 2011, Rosihan masih aktif menulis. Padahal tubuhnya sudah sering keluar masuk rumah sakit karena gangguan jantung.
Pena Rosihan seolah tidak pernah kering.
Lihat saja buku-bukunya, seperti Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia atau Menulis Dalam Air. Ia membuktikan bahwa mesin tik bisa lebih berisik daripada meriam.
Saya sering membayangkan Rosihan di masa tuanya. Jemarinya yang renta masih kuat menekan tuas mesin tik.
“Tek, tek, tek.”
Bunyi itu mungkin telah menjadi irama hidupnya.
Lalu ada Jakob Oetama.
Ia membangun kerajaan media besar di negeri ini. Tetapi jika ditanya apa profesinya, beliau tidak pernah menyebut dirinya pebisnis media.
Ia selalu menjawab dengan sederhana: wartawan.
Titik.
Beliau membangun Kompas dengan nilai “Amanat Hati Nurani”. Ia membuktikan bahwa jurnalisme bisa tumbuh besar tanpa kehilangan idealisme.
Sampai usia senja, pemikirannya tetap jernih melalui tulisan dan buku-bukunya seperti Dunia di Balik Berita atau Syukur Tiada Akhir.
Ia membuktikan satu hal penting: menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi tetap relevan adalah perjuangan yang harus dimenangkan setiap hari.
Dan di Pulau Dewata, ada satu sosok lain yang spiritnya serupa.
Namanya Widminarko.
Orang-orang di Bali memanggilnya dengan hormat: Pak Wid.
Usianya kini lebih dari delapan puluh tahun. Namun semangatnya masih menyala.
Beliau adalah saksi perjalanan pers Bali sejak tahun 1960-an. Kariernya panjang. Dari masa Suara Indonesia, lalu Suluh Marhaen, hingga menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Bali Post selama puluhan tahun.
Ketika banyak orang seusianya memilih menikmati hari tua, Pak Wid masih terus berkarya. Menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Tokoh hingga dipercaya sebagai direktur di Kelompok Media Bali Post.
Secara administrasi, beliau memang pensiun pada 7 Mei 2021.
Tetapi benarkah seorang wartawan pernah benar-benar berhenti?
Secara kantor mungkin iya. Secara jiwa, tidak pernah.
Harta Karun di Facebook
Kini kesehatan memang membuat Pak Wid tidak bisa duduk terlalu lama. Namun beliau tetap menulis.
Beliau rutin membagikan catatan kecil di Facebook. Isinya seperti harta karun: sejarah pers Bali, kisah tokoh-tokoh lama, hingga pengalaman jurnalistik yang mungkin tak lagi ditemukan di buku pelajaran.
Karena itu saya tidak heran ketika Hari Pers Nasional 2024, PWI Bali kembali memberikan penghargaan Tokoh Pers kepada beliau.
Itu bukan sekadar penghargaan. Itu penghormatan pada api yang tak pernah padam.
Suatu hari, Angga Wijaya pernah berkata kepada saya:
“Kita kapan-kapan ke rumah Pak Wid untuk silaturahmi, Bli.”
Saya langsung mengiyakan.
Bertemu orang seperti Pak Wid rasanya seperti membuka ensiklopedia hidup. Kita tidak hanya belajar teknik menulis atau cara mencari narasumber.
Kita belajar keteguhan.
Kita belajar bagaimana mencintai profesi tanpa harus kehilangan nurani.
Saya juga sempat membaca sebuah status Pak Wid yang meminta wartawan-wartawan yang lebih muda darinya untuk mulai menulis buku.
Beliau sadar, ingatan manusia ada batasnya. Mata akan merabun. Tubuh akan melemah. Tetapi tulisan akan tetap tinggal melintasi generasi.
Dan memang itulah persamaan besar antara Rosihan Anwar, Jakob Oetama, dan Widminarko.
Mereka bukan hanya wartawan. Mereka penjaga ingatan zaman.
Penjaga Gawang
Hari ini semua orang bisa menjadi wartawan.
Media sosial membuat berita bergerak sangat cepat. Kadang terlalu cepat.
Informasi berhamburan tanpa jeda. Banyak orang berlomba menjadi yang pertama, meski belum tentu benar.
Dalam situasi seperti itu, wartawan kawakan memiliki peran penting sebagai penjaga gawang nurani jurnalistik.
Mereka mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal kecepatan, tetapi juga ketelitian. Bukan sekadar viral, tetapi tanggung jawab.
Mereka tumbuh dalam tradisi mencatat dengan rapi. Menyimpan dokumen. Merawat arsip. Sebab mereka tahu, jurnalisme berdiri di atas fakta, bukan prasangka.
Karena itu, aura mereka berbeda ketika menulis.
Rambut boleh memutih. Langkah kaki boleh melambat. Tetapi tulisan mereka tetap punya ruh.
Kalimatnya tajam, tetapi santun. Isinya berbobot, tetapi tetap enak dibaca.
Mereka tidak berteriak. Tetapi kata-katanya menetap lama di kepala pembaca.
Sambil menulis esai ini, saya membayangkan diri saya sendiri di masa tua nanti.
Saya berharap masih bisa seperti mereka. Tetap aktif menulis. Tetap memiliki kegelisahan intelektual. Tetap punya gairah untuk berbagi pengalaman lewat kata-kata.
Sebab tidak ada kebahagiaan yang lebih besar bagi seorang wartawan selain tetap bisa memberi manfaat melalui tulisannya, meski fisiknya mulai terbatas.
Menulis itu menyembuhkan.
Menulis itu membuat pikiran tetap hidup.
Dunia boleh berubah. Platform boleh berganti. Dari mesin tik ke layar sentuh. Dari radio ke podcast.
Tetapi ruh seorang wartawan sejati tetap sama.
Rosihan Anwar, Jakob Oetama, dan Widminarko adalah bukti nyata bahwa wartawan sejati tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup dalam tulisan-tulisannya. Menjadi semacam catatan kaki bagi perjalanan zaman.
Karena itu, jangan pernah meremehkan wartawan yang rambutnya sudah memutih.
Di balik kacamata tebalnya, tersimpan ribuan data yang mungkin tidak ada di Google. Di balik langkahnya yang pelan, tersimpan rekaman sejarah yang tak sempat dicatat buku pelajaran.
Di persimpangan zaman seperti sekarang, kita membutuhkan lebih banyak wartawan kawakan.
Kita membutuhkan jurnalis yang mau duduk diam, merenung, memeriksa fakta sampai ke akarnya, lalu menuliskannya dengan jernih.
Menjadi tua itu pasti.
Tetapi menjadi wartawan yang tak pernah mati, itu pilihan.
Dan mereka telah memilih untuk tetap hidup lewat tulisan-tulisannya.
Saya hormat kepada mereka.
Saya ingin seperti mereka.
Tetap menulis. Tetap berbagi pengalaman kepada wartawan yang lebih muda. Tetap mencintai profesi ini dengan sepenuh hati.
Sampai Tuhan berkata: waktunya pulang.
Itulah mungkin kasta tertinggi seorang wartawan.
Bukan kaya raya, tetapi berguna.
Bukan berkuasa, tetapi dipercaya.
Bukan sekadar populer, tetapi dihormati kawan dan lawan.
Dan bagi saya, itulah kemewahan yang sesungguhnya dari profesi ini. (*)
Menot Sukadana