Perak Perih
PERAK itu kian kusam. Bukan karena debu jalanan Gatot Subroto (Gatsu). Tapi karena racun yang menempel di tubuh manusia.
Cat itu campuran bubuk perak dan minyak tanah. Murah. Menyengat. Menutup pori-pori seperti plastik membungkus kulit hidup-hidup.
Tubuh mereka berkeringat. Tapi keringatnya tak bisa keluar. Panas terjebak di dalam badan. Perlahan merusak. Secara medis itu racun. Tapi urusan isi dompet sering kali jauh lebih mendesak daripada urusan kesehatan.
Saya hampir tiap hari melihat mereka. Di simpang Kebo Iwa-Gatsu Barat. Tepatnya di sebelah utara depan KFC itu. Kebanyakan pria usia muda. Saat beraksi di tengah kepungan kendaraan, mereka telanjang dada. Hanya pakai celana pendek. Seluruh tubuh, dari ujung kepala, wajah, hingga kaki, dilumuri cat perak.
Mereka juga tanpa alas kaki. Nyaris semuanya telanjang kaki. Di siang bolong, saya sering membatin: apakah kaki mereka tidak melepuh? Apa tidak terasa panas menginjak aspal jalanan yang membara itu?
Siang ada. Malam ada. Kadang sampai lewat tengah malam saat saya pulang. Mereka masih berdiri mematung di bawah lampu merah. Tubuh berkilat diterpa sorot kendaraan yang melintas tergesa-gesa.
Begitu lampu merah menyala, mereka mulai bergerak. Mendekat ke kaca-kaca mobil dan stang motor. Tangannya menyodorkan bungkusan plastik kecil, biasanya bekas bungkus permen yang sudah kosong. Di sanalah recehan ditampung.
Dulu mungkin ada sedikit seni di sana. Sedikit kreativitas jalanan. Sekarang? Rasanya tidak lagi. Yang tersisa hanya tubuh-tubuh dicat untuk memancing iba.
Kadang berubah jadi ancaman.
Kasus penodongan di Sunset Road oleh AW membuat semuanya berubah. Publik tersentak. Simpati mendadak retak. Tubuh perak yang dulu dianggap lucu, kini memancing curiga.
Orang mulai bertanya dalam hati: di balik cat itu ada senyum atau pisau?
Yang mengejutkan justru bukan pisaunya. Tapi pengakuan AW bahwa ia disuruh seseorang bernama Ujang.
Nama itu membuka pintu gelap.
Istilah “seniman jalanan” tamat. Mereka ternyata tidak bergerak sendiri. Ada yang mengatur. Ada yang menentukan titik lampu merah. Ada yang memasok cat. Ada yang mengambil setoran.
Selalu ada tangan tak terlihat di jalanan.
Kemiskinan akhirnya diperdagangkan. Tubuh manusia dijadikan alat mencari uang. Mereka dieksploitasi dua kali. Oleh hidup yang keras. Dan oleh bos jalanan yang menjadikan rasa takut publik sebagai ladang bisnis.
Polsek Denpasar Utara lalu bergerak. Penertiban dilakukan secara humanis. Mereka didata. Dibina. Lalu diserahkan ke Satpol PP.
Langkah itu benar. Tapi kita tahu ini bukan pertama kali.
Sudah berkali-kali razia dilakukan. Masuk truk. Didata. Dipulangkan. Besoknya: muncul lagi di lampu merah yang sama.
Seperti memotong rumput di musim hujan. Cepat tumbuh kembali.
Karena yang disentuh selama ini hanya permukaan. Hulunya tetap dibiarkan hidup.
Menertibkan manusia silver tanpa membongkar jaringan di belakangnya adalah kesia-siaan. Hanya akan melahirkan tubuh-tubuh perak baru di persimpangan lain. Selama para “Ujang” masih bebas berkeliaran, drama ini tidak akan selesai.
Kita sibuk membersihkan jalanan. Tapi lupa membersihkan orang-orang yang mengambil untung dari kemiskinan.
Maka razia saja tidak cukup. Jaringan harus dibongkar. Cari koordinatornya. Putus mata rantainya.
Kalau tidak, operasi penertiban hanya akan jadi rutinitas yang melelahkan. Petugas capek. Anggaran habis. Masalahnya tetap berdiri kokoh di bawah lampu merah.
Dan kita harus jujur melihat kenyataan yang lebih pahit.
Fenomena manusia silver adalah cermin kegagalan kita menjaga keadilan ekonomi di Bali. Di sela hotel mewah, beach club, dan gemerlap pariwisata, masih ada manusia yang rela membuang warna kulitnya. Demi beberapa lembar rupiah.
Mereka dipaksa jadi patung hidup.
Karena itu, setiap melihat mereka digiring petugas, saya merasa perih. Bukan karena penertibannya salah. Keamanan tetap harga mati. Tapi karena ada manusia yang perlahan kehilangan dirinya sendiri hanya untuk bertahan hidup.
Tubuh mereka dicat. Hidup mereka juga dicat. Oleh kemiskinan. Oleh eksploitasi. Oleh jalanan yang terlalu keras.
Perak itu bukan warna. Itu tanda kalah.
Di traffic light simpang Gatsu Barat - Kebo Iwa, tubuh-tubuh perak bertelanjang kaki itu sebenarnya sedang berteriak. Hanya saja suaranya tertutup cat murah. (*)
Menot Sukadana