Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Media Jomblo

Oleh Nyoman Sukadana • 22 April 2026 • 09:20:00 WITA

Media Jomblo

PERTANYAANNYA sederhana, tapi jawabannya sering kali memicu kerutan di dahi: berapa sebenarnya angka "cukup" untuk menghidupi sebuah media?

Angkanya cantik. Tidak besar, tapi cukup untuk menjaga gengsi tetap tegak. Katakanlah sepuluh sampai dua puluh lima juta rupiah sebulan. Biayanya? Konon, lima juta saja sudah bisa memastikan domain tetap diperpanjang dan listrik kontrakan tidak diputus.

Kalau dihitung cepat, sisanya lumayan. Bisa untuk mencicil kendaraan atau sekadar makan enak di akhir pekan. Ada rasa lega yang menyelinap, seperti memenangkan lotre kecil-kecilan untuk memastikan dapur tetap mengepul, meski yang mengepul terkadang hanya uap dari mi instan.

Saya membayangkan banyak media kecil berjalan dengan gaya "santai" seperti itu. Tidak terburu-buru mengejar kualitas, tidak pula jatuh tersungkur karena memang tidak pernah benar-benar lari. Berita tayang setiap hari, hasil copy-paste sana-sini yang hanya berganti judul. Dari luar, ia tampak profesional. Seperti rumah dengan lampu teras yang benderang, padahal di dalamnya penghuninya sedang cemas menghitung sisa kuota.

Tapi saya percaya, angka itu sering kali menjadi "jebakan Batman".

Sisa uang itu memang menawarkan rasa aman. Pemiliknya bisa tidur nyenyak karena merasa sudah menjadi "CEO" bagi medianya sendiri. Namun di sela-sela rasa aman itu, ada bisikan halus yang mengusik: Apakah cukup berarti sudah selesai, atau sebenarnya kita hanya sedang lelah berjuang?

Inilah fenomena Media Jomblo. Satu orang merangkap segalanya. Ia yang menjadi pemimpin redaksi, ia yang menjadi reporter di lapangan, ia yang menyunting salah ketik, dan ia pula yang mengetuk pintu humas demi jatah iklan seremonial.

Luar biasa tekun? Mungkin. Tapi mari jujur: terkadang itu adalah bentuk "kerja paksa" yang kita beri label mentereng: kemandirian.

Ketika semuanya bergantung pada satu punggung, maka media itu tidak akan pernah tumbuh lebih besar dari kapasitas pemiliknya. Biaya ditekan sekecil mungkin hingga ruang untuk berkembang ikut tercekik. Bukan karena tidak mau maju, tapi karena waktu habis hanya untuk memadamkan api di kompor supaya tidak meledak hari itu juga.

Lama-lama, fungsi media ini bergeser. Ia bukan lagi pilar informasi atau penyambung lidah publik. Ia menjelma menjadi alat bertahan hidup, semacam "kartu sakti" agar bisa masuk ke acara gratisan dan mendapat uang saku perjalanan. Tidak buruk, tentu saja. Namun, ia hanya "cukup" untuk memperpanjang napas, tapi tidak cukup untuk lari maraton.

Saya tidak sedang menghakimi. Menjadi kecil adalah pilihan yang jujur, apalagi jika kita memang lebih nyaman berjalan sendiri. Namun, banyak juga yang diam-diam merindukan sesuatu yang lebih besar, tapi terlanjur terjebak dalam gengsi untuk mengakui bahwa mereka lelah menjadi buruh di perusahaan sendiri.

Ingin punya waktu berpikir? Mana sempat, jika tiap jam harus mengejar setoran trafik harian. Ingin membangun tim? Nanti sisa uangnya berkurang. Akhirnya, kita terjebak dalam lingkaran setan yang kita sebut sebagai "kenyamanan".

Pada akhirnya, yang sulit itu bukan mencari angka sepuluh atau dua puluh juta itu. Tapi menentukan arah: mau tetap menjadi gubuk yang lilinnya sering ketiup angin, atau berani membuka celengan untuk membangun gedung yang bisa menampung banyak kepala?

Tidak ada jawaban yang mutlak benar. Yang ada hanyalah nasib yang kita pilih sendiri. Waktu tidak peduli apakah kita sedang merenung atau sedang tertidur siang.

Barangkali, yang penting bukan seberapa besar saldo di rekening media itu hari ini. Tapi, apakah kita masih ingat alasan awal kita membangun media ini: untuk menawarkan sudut pandang baru pada publik, atau sekadar cara agar bisa hidup tanpa punya bos? (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.