Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Wartawan Bermerek

Oleh Nyoman Sukadana • 25 April 2026 • 16:31:00 WITA

Wartawan Bermerek

TEMPATNYA sama: warung kopi di pinggiran Sempidi. Tapi harinya berbeda. Pertemuan pertama dengan Kadek Putra. Pertemuan kedua dengan Made Suteja. Dua sahabat lama, satu geng liputan, yang membawa kegelisahan yang sama: bagaimana caranya tetap relevan di zaman digital yang gila ini?

Kami bicara lama. Ngobrol ngalor-ngidul. Mulai dari isu politik lokal hingga masa depan bisnis media online yang meragukan. Sampai akhirnya, percakapan bermuara pada satu pertanyaan yang terasa getir. Mereka minta saran.

Sebetulnya, mereka sedang bertanya soal digital personal branding. Tapi saya tidak mau memakai istilah mentereng itu. Terlalu teknis. Kurang asyik. Terkesan jualan kecap.

Saya justru menantang mereka. Dengan cara yang lebih telanjang.

"Coba buka HP-mu," kata saya. "Buka Google."

Saya minta mereka mengetikkan beberapa nama: Adnyana Ole. Made Sugianto. Dan Ketut Angga Wijaya. Setelah itu, saya minta mereka membandingkannya dengan nama-nama tokoh politik mentereng di Bali. Mulai dari gubernur, bupati, wakil bupati, sampai anggota DPR RI dan DPD RI asal Bali. Jangan lupa, ketik juga nama-nama ketua DPRD.

Hasilnya?

Suteja terdiam. Kadek Putra terkejut. Tidak percaya.

Ternyata, nama wartawan senior itu memiliki jejak digital yang jauh lebih kokoh. Lebih berwibawa ketimbang sejumlah wakil bupati, ketua DPRD dan anggota DPR RI. Padahal, para pejabat itu punya anggaran humas miliaran rupiah. Punya tim media sosial yang berderet.

Di sisi kanan layar Google, nama para wartawan ini mendapatkan tempat khusus: Google Knowledge Panel. Sebuah kotak informasi yang rapi, lengkap, dan elegan.

Itu semacam sertifikat wibawa dari semesta internet. Google hanya memberikan panel itu kepada mereka yang dianggap memiliki otoritas. Memiliki rekam jejak. Dan karya nyata yang konsisten.

Saya jelaskan kepada mereka, bahwa di balik layar itu ada mekanisme yang bekerja. Algoritma itu punya pola dan rumusnya sendiri. Dalam pengalaman saya selama ini, memahami pola itulah yang menjadi kunci untuk memenangkan pertempuran wacana di udara. Siapa yang paham rumusnya, dialah yang akan menguasai opini di jagat digital.

Terlebih bagi seseorang yang memilih jalan sebagai konsultan media. Dia harus tahu kapan harus masuk. Bagaimana cara mengelola isu. Dan bagaimana memastikan narasi kita tidak tenggelam di lautan informasi dalam game of attention yang gaduh saat ini.

Bayangkan. Seorang pejabat tinggi bisa saja kalah wibawa digitalnya dibanding seorang penulis yang konsisten. Itulah yang saya sebut: Wartawan Bermerek.

Dulu, wartawan itu kasta di balik layar. Nama media jauh lebih besar dari penulisnya. Orang membeli koran karena merek medianya. Bukan karena siapa yang menulis beritanya.

Sekarang? Zaman sudah jungkir balik.

Kini, jika wartawan tidak memiliki merek pribadi, ia akan digulung oleh algoritma. Ditelan oleh mesin AI yang mampu memproduksi ribuan berita dalam sekejap mata.

Tapi ingat: merek wartawan bukan sekadar popularitas.

Merek wartawan adalah integritas. Ia adalah bau khas dari tulisan yang tidak bisa ditiru oleh robot. Di tengah banjir informasi, orang tidak lagi sekadar mencari apa beritanya, tapi apa kata si anu soal berita itu.

Lihatlah Dahlan Iskan. Beliau tidak lagi memimpin imperium media besar, tapi setiap pagi ratusan ribu orang menunggu Disway. Mengapa? Karena merek Dahlan Iskan lebih kuat dari nama perusahaan mana pun. Orang ingin membaca cara beliau membedah masalah.

Begitu juga Najwa Shihab. Ketika ia keluar dari televisi konvensional, ia justru menjadi raksasa di ruang digital. Orang percaya pada Najwa-nya, bukan pada frekuensi stasiun televisinya.

Di Bali pun sama. Suteja dan Kadek baru sadar bahwa modal utama mereka bukan lagi sekadar kartu pers. Melainkan kualitas jejak digital. Google Knowledge Panel milik Adnyana Ole atau Made Sugianto itu bukti bahwa mereka bukan sekadar tukang ketik yang numpang lewat.

Wartawan lokal tidak boleh lagi merasa aman hanya karena punya kantor. Anda harus punya niche. Punya keahlian spesifik yang membuat orang berkata: "Kalau soal urusan ini, saya harus baca tulisan dia."

Itulah yang saya coba bangun di Podium Ecosystem (POST). Saya tidak ingin tim saya hanya jadi pion. Saya ingin mereka menjadi pengerajin kata yang punya karakter.

Wartawan masa depan harus lincah seperti konten kreator, tapi jiwanya harus tetap jurnalis. Tetap harus verifikasi. Tetap harus punya etika.

Kreator tanpa jiwa jurnalis hanya akan menjadi penyebar sensasi. Sebaliknya, jurnalis tanpa gaya kreator akan menjadi fosil yang ditinggalkan pembaca.

Dunia sedang berubah. Panggung sedang ditata ulang.

Wartawan yang hanya bersandar pada nama besar kantornya akan segera kesepian. Tapi wartawan yang punya merek sendiri, yang punya Knowledge Panel sendiri, akan tetap dicari. Meski dia hanya menulis dari balik kebun di kampungnya.

Jadi, apa merek Anda hari ini?

Coba jeda sejenak. Sebab masa depan media itu bukan pada mesinnya, melainkan pada manusianya.

Begitu. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.