Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Bukan CEO

Oleh Nyoman Sukadana • 26 April 2026 • 17:21:00 WITA

Bukan CEO

JIKA Anda sering menonton drama China (dracin) yang lagi tren itu, sosok CEO digambarkan begitu sempurna. Muda, ganteng, dingin, jasnya licin, dan asetnya triliunan.

Hidupnya cuma pindah dari mobil mahal ke ruang rapat mewah. Lalu sibuk mengurusi cinta yang rumit. Pokoknya, label CEO itu kasta tertinggi dracin.

Tapi mari kita lihat realitas di dunia pers kita.

Dahlan Iskan punya uang. Jakob Oetama punya kerajaan media. Secara logistik, mereka sudah "langit". Asetnya bukan lagi jutaan dolar, tapi miliaran dolar. Sudah kategori konglomerat papan atas.

Kalau di dracin, mereka ini sudah jadi "CEO Dingin" yang ditakuti saingan bisnisnya.

Tapi dengar pengakuan terbuka mereka. Atau curriculum vitae (CV) maupun bio media sosialnya. Mereka tidak menulis "CEO". Tidak juga "Owner".

Labelnya tetap satu: Wartawan.

Aneh, kan? Di saat semua orang ingin dipanggil "CEO" atau “Pak Direktur”, mereka malah setia pada label yang konon "dilarang kaya" ini.

Kenapa? Apa mereka kurang kerjaan?

Jawabannya: Kemerdekaan batin. Sesuatu yang tidak ada di naskah dracin.

Itulah impian tertinggi setiap jurnalis. Menulis apa yang ingin ditulis. Hidup dengan cara yang diinginkan. Dan punya kemandirian untuk menjaga kejujuran.

Itu kedaulatan. Level tertinggi pengrajin kata.

Tapi kita harus menginjak bumi. Kita ini bukan aktor dracin yang saldonya tidak pernah habis. Data tidak bisa bohong. Mayoritas wartawan kita masih hidup pas-pasan. Tak sedikit gali lubang tutup lubang.

Kedaulatan ekonomi akhirnya jadi barang mewah.

Banyak kawan di lapangan harus berbenturan dengan urusan dapur. Perut lapar itu susah diajak diskusi soal idealisme. Itulah realitasnya.

Maka, kemandirian ekonomi itu wajib. Bukan untuk pamer jas mewah seperti CEO di film, tapi untuk membangun benteng.

Lihat mereka yang sudah senior itu. Kenapa masih menulis maraton setiap hari? Padahal usianya sudah lebih kepala tujuh. Bukan karena mengejar tambahan angka di rekeningnya yang sudah meluap itu. Bukan.

Harta, bagi jurnalis sejati, hanyalah alat untuk membeli kebebasan. Bukan untuk membeli pengakuan sebagai "bos".

Menulis apa yang "ingin" ditulis itu mewah sekali. Di media besar, wartawan sering dipaksa menulis pesanan algoritma. Atau pesanan pemilik modal.

Repot, kan?

Kalau sudah mandiri, wartawan jadi tuan atas penanya sendiri. Tidak lagi mengejar klik, tapi mengejar kebenaran. Itu yang saya sebut: Logika tanpa logistik.

Hidup juga jadi berdaulat. Banyak jurnalis besar pilih tetap low profile. Tetap membumi. Supaya bisa dengar suara rakyat tanpa sekat.

Kekayaan mereka bukan pada tumpukan dolar, tapi pada kemampuan untuk berkata: "Tidak!"

Tidak pada intervensi. Tidak pada amplop. Tidak pada kebohongan yang dipoles rapi.

Kejujuran jadi "murah" karena tidak lagi dipakai sebagai alat tukar untuk beli nasi.

Membangun ekosistem mandiri adalah jalan ninja. Tidak perlu tunggu jadi konglomerat untuk merdeka. Cukup pastikan dapur aman. Supaya pena tidak bisa dibeli kepentingan mana pun.

Ujungnya adalah warisan. Legacy.

Sejarah tidak akan mencatat seberapa keren jas kita atau seberapa mirip kita dengan CEO di dracin. Tapi sejarah akan mencatat seberapa jujur kata-kata yang kita titipkan pada zaman.

Merdeka menulis. Merdeka hidup. Merdeka menjaga kebenaran. Itulah kedaulatan jurnalis yang sesungguhnya.

Jadi, simpan saja label CEO itu untuk drama televisi. Kita cukup jadi wartawan yang merdeka.

Anda setuju? (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.